A.
Sejarah dan Perkembangan
Agama Zoroaster
Agama
Zoroaster, di kenal di dunia Barat dengan nama Zoroastrianism karena nabinya
dari agama ini adalah Zarathutra. Zarathustra lahir di Sebelah Utara tanah Iran, tepatnya
di kota Azarbaijan. Tinggal seorang lelaki bernama Porushop Spitama, dari suku
spitama, bersama istrinya Dughdova yang cantik jelita yang ketika itu masih
berusia 15 tahun. Isterinya yang belum dijamah suaminya itu melahirkan seorang
putera yang diberi nama Zarathustra. Pada saat kelahiran bayi itu kepala kaum
majus di tanah Iran bernama Durashan mendadak gemetar ketakutan amat sangat dan
beroleh firasat bahwa seorang bayi baru telah lahir kedunia yang kelak akan
menghancurkan agama majusi beserta pemujaaan berhala dan akan memusnahkan kaum
majus dari permukaan bumi.[2]
Banyak
sekali teori yang mengemukakan tentang tahun-tahun kehidupannya, diantaranya
kemungkinan ia hidup pada tahun 660-583 SM[3],
tetapi tidak ada yg menjamin bahwa kisaran tahun ini adalah tahun yang tepat.
Di lihat dari perkiraan tahun tersebut, tampaknya Agama Zoroaster merupakan
salah satu agama wahyu yang tertua yang masih hidup sampai sekarang. Agama ini
pernah menjadi agama negara bagi tiga kerajaan besar di Iran yang hidup dan
berkembang hampir berkesinambungan sejak abad ke-6 SM sampai abad ke-7 M, serta
banyak menguasai daerah Timur Dekat dan Tengah.[4]
Di
wilayah Indo-Iran, anak yang berumur sekitar tujuh tahun sudah mulai memperoleh
pelajaran keagamaan kependetaan secara lisan karena belum ada pengetahuan
menulis. Tentunya pelajaran tersebut menyangkut tentang cara beribadah,
ajaran-ajaran pokok agama, hapalan-hapalan doa dan pujian pujian kepada Tuhan.
Sewaktu masih kecil diceritakan, ia sangat cerdas dan tangkas bicara sehingga
teman-temannya sangat segan kepadanya. Orang Iran berpendapat bahwa kematangan
atau kedewasaan seseorang itu tercapai pada usia 15 tahun, dan pada sekitar
usia itu pula lah Zarathustra mulai menjadi pendeta. Menjelang umur 20 tahun ia gemar
mengembara kesana kemari serta memberikan bantuan kepada orang yang melarat dan
kesusahan. Dan pada usia 20 tahun ia pun dikawainkan oleh ibunya dengan seorang
gadis bernama Havivi.
Pada usia
30 tahun, Zarathustra menerima wahyu yang peratama. Diceritakan bahwa suatu
ketika ia sedang berada di suatu perkumpulan untuk merayakan musim semi. Ia
pergi saat fajar ke sungai utnuk mengambil air bagi keperluan upacara haoma.
Ia menyebrang ke tengah sungai untuk mengambil air dari aliran yang ada di
tengah.ketika hendak kembali ke pinggir, dia menemukan dirinya dalam keadaan kesucian ibadat (ritual),muncul
dari unsur yang murni, air, dalam kesegaran fajar musim semi. Ia melihat
bayang-bayang. Di tepian sungai dia melihat suatu zat yang berkilauan yang
menyebut diri sebagai Vohu Manah (itikad baik), yang kemudian membawanya
kehadapan Tuhan Ahura Mazda serta lima bentuk badan yang bersinar. Dihadapan
mereka, Zarathustra tidak melihat bayangannnya karena mereka memancarkan cahaya
yang terang benderang. Dan saat itulah ia menerima wahyu.[5] Agama
yang diajarkan oleh Zarathusthra telah dikenal sebagai agama Zoraster, tetapi sesungguhnya nama yang
diberikannya sendiri adalah agama Mazdayasna, kebaktian kepada Mazda, yakni
Tuhan Maha Segala Yang Esa, Sejati, dan Maha Mengetahui.[6]
Setelah ia menerima wahyu pertamanya,10 tahun pertama ia melakukan penyebaran
agamanya itu di kota kelahirannya yaitu Iran Utara, Tetapi dalam masa tersebut
hanya seorang saja yang beriman di kota kelahirannya tersebut, orang itu tidak
lain adalah saudara sepupunya sendiri, Maidhyoimanha. Ia mengajarkan tentang
kodrat Maha Tunggal yang bijaksana yang tak dapat disaksikan dan dilihat dan
diraba, dan hal tersebut direspon dengan ejekan dan penghinaan, ia banyak
bersabar dan terus memprcayai janji dari Ahura Mazda, hingga pada akhirnya ia
memanjatkan permohonan dan kemudian keluar perintah agar ia hijrah dari sana, Akhirnya pada tahun
keduabelas kenabiannya, beliau meninggalkan tanah kelahirnya dan mengembara ke
Timur, mula-mula ke Seista, dan selanjutnya ke Bactria yang diperintah oleh
seorang raja bijaksana, Vishtaspa. Zarathushtra senantiasa menginginkan untuk memperoleh
pengikut yang bijak dan berkuasa untuk menunjang missinya.
Raja Vishtaspa itu, yang dalam literature di Barat dikenal dengan
Kings Hystaspes, berasal dari keluarga Hakkham. Seorang cucunya yaitu Cyrus the
Great (559-529 SM) berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil diseluruh
wilayah Iran dan membangun sebuah Imperium Parsi yang dikenal dengan
dinasti Hakkham (600-331 SM), dan dunia Barat mengenalnya dengan dinasti
Achaemenids. Ibukotanya yang semula terletak di kota Balkh di pindahkan ke
kota Sussa di sebelah timur sungai Tigris, kemudian ke Persepolis (Istakhri).[7]
Raja
Vishtaspa menerima Zarathushtra dengan ramah-tamah, dan menunjukkan bahwa
dirinya condong kepada risalahnya karena berdasarkan pada berdasarkan filsafat Zoroaster dengan pemikirannya
tentang Tuhan bahwa inti dari gagasan ketuhanan tidak akan dicapai lantaran
adanya perubahan bangsa dan bahasa. Yang berubah-rubah hanya nama Tuhan yang
tunggal untuk seluruh alam. Setiap bangsa menyebutnya dengan nama yang
diinginkan. Diriwayatkan bahwa Zarathushtra telah melakukan beberapa
mukjizat di hadapan Sang Raja dan para Menterinya, serta melakukan diskusi yang
lama dengan para cendekiawan di sana. Salah satu mukjizat yang ia tunjukkan
yakni, dia mampu membuat sebuah lingkaran dengan tepat tanpa alat, padahal
menurut ahli ilmu ukur hali itu tidak mungkin bisa dilakukan. Kemudian,
mukjizatlainnya, ia pernah bertemu seorang buta, kemudian dia meminta jenis
rumput tertentu untuk diperaskan di kedua mata si buta, dan si buta itu pun
bisa melihat.[8] Perlahan tetapi pasti,
kebenaran yang dinyatakannya telah mendapat pijakan yang kuat di kalangan raja
dan para bangsawannya. Massa rakyat mengikuti kebangkitan para pemimpinnya, dan
agama Zoroaster segera tegak sebagai agama Iran. Sukses yang mendadak dari
agama yang baru ini memacu jalan ke arah peperangan antara Iran dan Turan.
Zarathushtra tidak percaya dengan penggunaan senjata dalam menarik pengikut
kepada agamanya. Beliau hanya mengizinkan perang untuk membela diri guna
menjaga agama dan para pengikutnya dari kekejaman orang lain.[9]
Setelah
47 tahun dengan usaha yang tekun menegakkan kebenaran, Nabi Besar Iran ini
wafat dalam usia 77 tahun . Beliau hidup dalam kesetiaan yang tak terbagi dan
kebaktian kepada Tuhan yang bijaksana dan benar. Beliau adalah seorang yang
penuh kesalehan, dan agamanya tidak bernafaskan lain kecuali kasih kepada yang
menderita dan cinta kepada kebenaran. Dan konon pada saat serangan itulah Zarathustra meninggal ditikam
oleh askar Turania. Zarathustra sewaktu wafatnya meniggalkan 3 istri, 3 puteri, dan 3
putra. Keyakinan tentang Ahura Mazda, Pengakuan keimanan (credo=Syahadat) yang
harus diucapakan setiap orang yang beriman dalam agama Zarathustra. Keimanan
yang paling pokok dalam agama ini adalah pengakuan terhadap Ahura Mazda,
terhadap kodrat yang maha tunggal dan maha bijaksana. Menurut Zarathustra alam semesta
ini dikuasai oleh kodrat Maha Bijaksana (Ahura Mazda) yang Maha bijaksana
senantiasa berhadapan dengan kodrat angkara murka (angro mainyu). Agar manusia
memproleh keselamatan haruslah menundukkan diri sepenuhnya kepada Ahura Mazda.[10]
Raja-raja dari dinasti Achaemenids adalah penganut agama
Zarathustra sampai kepada raja Darius III (363-331 SM). Pada masa inilah
imperium parsi itu ditaklukkan oleh Alexander the Great (356-323SM) dari
Macedonia dan lalu berlangsung Hellenisasi yang intensif diseluruh wilayah
Iran. Setelah raja-raja Achaemenids itu pertumbuhan kekuasaannya sampai pada
masa tumbangnya terbagiatas 3 tahap masa, yaitu:
1. Masa 600-550 sebelum masehi, yaitu dalam mansa 150 tahun merupakan
masa pertumbuhan kekuasaan dan pengembangan agama Zarathustra.
2.
Masa
550-486 sebelum masehi, yaitu dalam masa 65 tahun merupakan masa perluasan
kekuasaan dan perluasan pengaruh agama Zarathustra.
3.
Masa
486-331 sebelum masehi, yaitu dalam masa 156 tahun merupakan masa sengketa yang
terus menerus dengan pihak Grik.
Di
Persia, selain Zoroaster, terdapat pula Madzab keagamaan dan ritual lain,
seperti Maniisme[11], penyembah api,
dan Madzhab Mazdak. Madzhab Mazdak ini yang menggugurkan hak kepemilikan
individu. Penganutnya meyakini kepemilikan bersama, termasuk perempuan dan
harta serat menghapus tradisi pernikahan.Ajaran Mazdak pernah dianut dan
dijalankan oleh seorang Raja Dinasti Sasanid. Baik Zoroaster,maupun
Madzhab-Madzhab keagamaan Persia yang lainnya, ternyata memiliki pengaruh yang
cukup kuat bagi tradisi agama Yahudi, khususnya konsep kehidupan akhirat dan
adanya Messiah. Dikatakan, Jemaah Asiniyyah, salah satu sekte Yahudi, sangat
terpengaruh kuat oleh ajaran Zoroaster, terutama dalam konsep-konsep dualisme,
seperti peperangan antara kebaikan dan kejahatan. Namun demikian, diantara
kelompok-kelompok agama tersebut kelompok yang
paling penting di dunia adalah agama Zoroaster atau Parsi India.
Kelompok ini sering dibandingkan dengan kelompok Yahudi.[12]
Pada
tahun 641 M, yaitu pada masa pemerintahan koshru Yesdegird III (634-641 M),
kekuasaan Sassanids di tanah Iran ditumbangkan oleh kekuasaan Islam yakni pada
masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab (634-644 M). Dan itulah perkembangan terakhir dari agama Zarathustra sepanjang
sejarahnya semenjak 12 abad lamanya, lantas terdesak oleh pengaruh agama Islam
di tanah Iran.
B.
Ajaran-Ajaran Agama
Zoroaster
[13]Kitab
suci agama Zoroaster ini di kenal dengan nama Zend Avesta.kitab ini terbagi
lagi menjadi tiga bagian, yakni:
1.
Gathas, kitab yang
berisi tentang “nyanyian” atau “ode” yang secara umum dan tepat dinisbahkan
kepada Zoroaster sendiri;
2.
Yashts atau hymne korban
yang ditujukan kepada berbagai macam dewa; dan
3.
Vendidat/ Vindevdat,
“aturan melawan syetan”,berupa sebuah risalah yang terutama menyangkut
ketidakmurnian ibadah dan prinsip dualisme yang diperkenalkan oleh
Zoroasternisme dan diuraikan sangat panjang dalam bidang kehidupan praktis.
Gathas
memuat ajaran-ajaran yang dikemukakan sendiri oleh Zoroaster. Sayangnya bantuan
ilmu bahasa hanya berhasil sebagian dalam menangkap makna teks-teks yang kabur
ini. Isi bagian kitab ini bertentangan dengan Yashts, yang merupaka langkah
mundur pada paganisme. Dalam Yashts ditemukan suatu konsep politeisme yang
mirip dengan konsep yang terdapat dalam kitab suci agama Hindu, Rig-Veda.
Konsep Politeisme inilah yang di tentang oleh Zoroaster. Baik dalam Yashts
mauoun dalam Rig-Veda dijumpai sejumlah besar dewa dan setengah dewa.
[14]Ajaran-Ajaran
pokok dalam agama Zoroaster ini yang terdapat dalam kitab-kitabnya mencakup:
a.
Manusia
Dalam
teks yang berjudul “Nasihat Pilihan dari Para Bijak Bestari Zaman Dulu”atau
dikenal juga sebagai “Kitab Nasihat Zartusht” ditemukan konsep tentang manusia.
Manusia pada asalnya, adalah wujud gaib, dna rohnya, dalam bentuk Fravashi
atau Fravahr,ada sebelum jasmaninya. Baik jasad maupun rohnya adalah ciptaan
Ohrmazd (Ahura Mazda), dan roh tidak bersifat abadi. Manusia adalah milik Tuhan
dan kepada-Nya dia akan kembali.
Syetan
atau Ahriman adalah penentang Tuhan. Dia seperti Tuhan adalah roh gaib murni;
dia dan Ohrmazd adalah musuh abadi, cepatatau lambat pertarungan anatar
keduanya tidak akan terelakkan. Penciptaan atau makhluk bagi-Nya merupakan
suatu kebutuhan bagi pertarungan-Nya melawan syetan, dan manusia berada di
garis depan pertempuran ini. Dalam hal ini manusia tidak di paksa Tuhan tetapi
karena dia bebas dan sukarela menerima peran ini ketika ditawarkan kepadanya.
Di dunia setiap orang bebas memilih baik atau buruk. Jika dia memilih kejelekan
berarti dia bertindak tidak alami karena “ayah”nya adalah Ohrmadz.
Hal
diatas sesuai dengan pendapat As-Syahtastani yang mengatakan, “Manusia bertugas
untuk senantiasa mebantu kebaikan dan cahaya di tengah pergulatan Ahura Mazda
dengan kejahatan dan kegelapan (Ahriman). Hal ini dapat diwujudkan dengan senantiasa
melakukan kebaikan, berkahlak mulia,serta menerapkan hukum dan undang-undang
dalam kehidupan mereka sehari-hari. Semua itu dilandaskan atas kebebasan untuk
memilih. Siapa yang memilih kebaikan dan kebenaran, maka dia akan menuai
hasilnyadi kehidupan dan akhirat yang abadi kelak. Adapun orang yang membela
kejahatan dan kedustaan, dia pun akan mendapatkan siksa di neraka yang abadi.”
Bagi
agama Zoroaster peran manusia di dunia, yaitu bekerjasama dengan alam serta
menjalani kehidupan yang saleh dengan pikiran, perkataan dan perbuatan yang
baik. Di dunia, manusia mempunyai kewajiban untuk hidup berumahtangga dengan
mempuyai istri dan mempunyai anak. Semakin banyak manusia adalah semakin baik
karena akan semakin mudah untuk mengalahkan Ahriman.
b.
Tuhan dan Penciptaan
Keyakinan
agama Zoroaster meliputi aspek
monoteisme dan paganisme sekaligus. Mulanya, keyakinan Zoroaster hanya
mencakup monoteisme saja. Namun, seiring berkembangnya, keyakinan agama ini
juga meliputi paganisme. Prof. Dr. Ali Abdul Wahid Wafi, seorang sejarawan
muslim kontemporer, mengatakan bahwa zarathustra, meyerukan ajaran monotaisme
untuk menyembah Tuhan yang tunggal , pencipta segala sesuatu dan segala alam,
baik yang berupa esensi (ruh) maupun materi (maddah).
Menurut
penganut Zoroaster, Dzat Ahura Mazda adalah esensi murni yang suci dari segala
bentuk materi, yang tak dapat dilihat oleh pandangan mata dan tidak dapat ditangkap
kedzatannya oleh akal manusia. Oleh karena itu Zoroasternisme pun membuat
rumusan tentang hakikat ketuhanan Dzat Ahura Mazda dengan dua rumus penting.
Rumus
pertama bersifat transenden (Samawi) yang disimbolkan dengan matahari,
dan rumus yang kedua bersifat imanen (Ardhi) yang disimbolkan dengan
api. Keduanya adalah unsur yang memancarkan cahaya, menerangi semesta, suci,
serta tidak dapat terkontaminasi oleh hal-halyang buruk dan segala bentuk
kerusakan. Kepada cahayalah kehidupan semestaraya ini bergantung. Sifat inilah
yang paling mendekati untuk digambarkan oleh akal manusia akan sifat pencipta.
Anggapan
sakral dan cara pengikut Zoroaster menyucikan api inilah yang pada akhirnya
menjadikan agama tersebut bergeser dari monoteisme ke paganisme. Zoroaster pun
berubah menjadi agama panteisme (hulul) dan paganisme. Api sendiri pada
akhirnya berubah dari sebatas isyarat menjadi Sang Pencipta itu sendiri, dani
pun dirumuskan atasnya.
Sejatinya,
pada tradisi dan ajaran awal Zoroaster, tidak di kenal konsep dua Tuhan.
Zoroaster hanya meyakini dua kekuatan besar dalam kehidupan yang senantiasa
berlawanan atau berbenturan. Salah satunya terkumpul dalam kekuatan kebaikan,
cahaya, kehidupan, kebenaran, dan kemuliaan sementara kekuatan lain terkumpul
dalam kejahatan, kegelapan,kematian, dan angkara murka.
Asy-Syahrastani berkata: “ sebenarnya, Zoroaster
meyakini bahwa Tuhan itu satu, tunggal, tidak ada sekutu, lawan dan kawan,
Pencipta cahay dan kegelapan. Namun para pengikut Zoroaster meninggalkan
pandangan tersebut. Mereka meyakini bahwasannya alam raya ini tak lain
merupakan jelmaan dari pergulatan abadi antara Ahura Mazda, Dewa Terang, dengan
Ahriman, Dewa Kegelapan.kemenangan Ahuran Mazda dalam kehidupan adalah sesuatu
yang pasti dan tak terbantahkan.”[15]
c.
Etika
Sebagian
besar ajaran agama Zoroaster adalah menyangkut masalah etika. Dasar pikiran
teologisnya mempunyai inti pandangan moralistik tentang kehidupan. Kenyataan
kehidupan yang utama dan tidak bisa dihindari adalah kejelekan. Baik adalah
baik dan jelek adalah jelek. Menolak adanya prinsip dan kejelekan yang terpisah
sama dengan mempertalikan atau menghubungkan kejelekan pada Tuhan. Ini tidak
mungkin. Oleh karena itu, kejelekan tentu merupakan sesuatu yang berdiri
sendiri yang secara terpisah. Moralitas Zoroaster, diungkapkan dalam tiga
kata,yaitu humat, huklit, dan huvarsht, yang artinya
pikiran baik,perkataan baik, dan perbuatan baik. Yang utama dari ketiga hal itu
adalah perbuatan baik.
Inti
dari ajaran Adhurbadh bin Mahraspand adalah “hiduplah dengan baik dan menjadi
orang yang berguna, berilah perhatian kepada sesama, laksanakan
kewajiban-kewajiban agama, garap lah tanah, hidup lah berkeluarga dan didiklah anak-anak sehingga
menjadi terpelajar. Ingatlah bahwa hidup di dunia ini adlaah sebuah pendahuluan
bagi hidup di hari nanti, atau akhirat, dan roh orang yang meninggal akan
menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang perbuatan-perbuatan yang dikerjakannya
di dunia.”
d.
Pengadilan saat Kematian
Ajaran
agama Zoroaster tentang nasib roh setelah mati terlihat sangat jelas. Konsep
kitab Avesta memberi dasar ajaran ini dan teks ini telah di salin dengan
sedikit bervariasi dalam kitab-kitab Pahlavi. Setiap roh manusia setetlah
kehidupan dunia ini akan bergentayangan selama tiga hari di dekat jasad yang sudah
menjadi mayat. Pada hari keempat, roh menghadapi pengadilan diatas “Jembatan
Pembalasan”, jembatan yag di jaga oleh Dewa Rashu yang bertindak sebagai hakim
yang secara sangat adil menimbang
perbuatan baik dan buruk manusia. Jika perbuatan baiknya lebih berat roh
tersebut diizinkan langsung menuju surga, tetapi jika perbuatan buruknya lebih
besar roh tersebut di tarik dan dimasukkan ke dalam neraka. Apabila perbuatan
baik dan buruk seimbang maka roh tersebut di bawa ke suatu tempat yang bernama Hamestagan
atau tempat campuran. Tempat ini tidak disebut dalam teks Menok i Khrat,
tetapi sering disebut dalam teks-teks lain.dalam tempat ini, roh-roh mengalami
perbaikan dengan merasakan penderitaan yang berupa panas dan dingin.
Neraka
dalam agama Zoroaster bukan merupakan tempat penyiksaan abadi. Neraka hanya
bersifat sementara dan merupakan tempat penyucian dari noda-noda dosa. Akhir
penyucian dosa terjadi pada pengadilan (hisab) terakhir pada akhir zaman.
Disini jelas tergambar bahwa roh harus menghadapi dua kali pengadilan,
pengadilan pada saat kematian dan pengadilan umum pada hari kiamat ketika jasad
manusia di bangkitkan kembali dan disatukan lagi dengan rohnya. Di dalam agama
Zoroaster ini, pengadila umum diikuti dengan penyucian,akhir dari noda-noda dosa
sehingga semua menjadi suci tanpa dosa. Tidak ada siksaan abadi dan akhirnya,
semua manusia masuk surga.
e.
Hari Kebangkitan
Sebagaimana dapat dipahami dari uraian yang telah
dikemukakan sebelumnya, pengadilan roh pada saat kematian hanyalah merupakan
suatu pendahuluan bagi pengadilan akhir hari kiamat. Penghitungan terakhir,
menurut agama Zoroaster, juga hanya berupa tiga hari “penyucian” di dalam logam
yang meleleh dan setelah itu roh-roh terkutuk bangkit dari neraka dan seluruh
umat manusia tanpa kecuali berkumpul dalam surga temat mereka semua akan memuji
Tuhan selamanya. Tuhan mengutuk makhluk-Nya dengan siksaan abadi karena
dosa-dosanya bagaimanapun besarnya. Semua dosa akan dihukum dengan setimpal
didalam neraka yang bersifat sementara. Neraka adalah tempat tinggal Ahriman
dan Syaitan-syaitan. Tuhan melunakan keadilan dengan ras belas kasihan. Dia
tidak memiliki sifat yang kejam dan sama sekali tidak bisa murka.
Konsep surga menurut agama Zoroaster sangar
sederhana. Surga adalah suatu keadaan yang kembali kepada kehidupan dunia
sebelum Ahriman dengan gila menghenatangnya. Surga adalah seperti tempat reuni
keluarga yang sangat besar yang di dalamnya kehidupan dunia yang ideal
dipulihkan, suatu kehidupan yang berpusat di sekitar keluarga manusia di mana
suami sekali lagi bisa menikmati keintiman istrinya yang sah dan berkumpul
kembali bersama anak-anaknya. Kehidupan di surga adalah penyempurnaan alami
dari pada kehidupan di dunia dengan kekecualian manusia tidak lagi memiliki
nafsu makan dan merupakanm tempat para roh memuji ahura mazda dan amahraspand
dengan keras. Di sana seluruh keluarga manusia berkumpul dalam suatu kehidupan
abadi dan kenikmatan yang abadi pula.
C.
Praktek Keagamaan dalam
Agama Zoroaster
Zoroaster menganjurkan pengikutnya untuk selalu menyalakan
api suci di tungku-tungku api yang terapat disetiap kuil peribadatan. Api
tersebut harus selalu menyala dan memancarkan cahaya. Tungku apai itu di urus
dan di jaga oleh para pemimpin agama (magi), rohaniawan muda, juga oleh para
pendeta kuil. Setiap hari mereka selalu memasukkan kayu cendana ke dalam tungku
api sebanyak lima kali, atau kayu lain yang mengeluarkan aroma wewangian khas,
juga menaburkan serbuk serbuk dan cairan wewangian sehingga udara di dalam kuil
selalu terasa segar dan harum semerbak. Mereka juga merapalkan doa-doan dan
melaksanakan ritual keagamaan disekitar api tersebut. Dalam tradisi
Zoroasternisme, ketika akan mendirikan sebuah kuil api baru, mereka diharuskan
menyalakan api terlebih dahulu pada sembilan buah lilin atau obor. Nyala api di obor pertama
kemudian disalurkan untuk nyala api di obor kedua, dan seterusnya hingga pada
obor kesembilan. Pengikut Zoroaster meyakini, api yang menyala pada obor
terkahir itulah yang telah sampai pada derajat kesucian api. Dan dari api kesembilan
itu mereka menyalakan apipada tungku kuil yang baru tersebut.[16]
Dalam satu butir teks “beberapa perkataan Adurbadh bin
Mahraspand”, ayat 72,di sebutkan “pergilah ke kuil api tiga kali sehari dan
bacala doa pada api.” Kelanjutan ayat tersebut mengatakan bahwa siapa yang
paling sering pergi ke kuil api dan membaca doa pada api akan menerima banyak
barang duniawi dan kesucian.
Mary Boyce, dalam
bukunya Zoroastrians, Their Religious Beliefs and Practice menjelaskan bahwa waktu ibadat orang-orang
Iran zaman dahulu ketika matahari terbit, ketika tengah hari, dan ketika
matahari terbenam.waktu yang tersebut terakhir nampaknya diperuntukkan bagi roh
orang yang telah meninggal dunia. Zoroaster nampaknya memberikan dua tambahan
lagi sehingga dia mewajibkan kepada para pengikutnya untuk beribadat lima kali
sehari. Tambahan pertama adalah waktu setengah siang seperti waktu Ashar
seperti dalam agama Islam, yaitu tengah-tengah antara tengah hari dan waktu
matahari terbenam. Bagi agama Zoroaster, selama musim panas doa-doa yang di
baca pada tengah hari berfungsi membantu orang yang saleh untuk berfikir
tentang kebenaran serta tentang kejayaan kebaikan sekarang dan yang akan
datang, sedangkan selama musim dingin adalah merupakan peringatan tahunan akan
adanya kekuatan kejahatan yang mengancam dan perlunya bertahan terhadapnya.
Tambahan baru lainnya adlah waktu tengah malam yang
tenggang waktunya sampai saat matahari terbit. Doa ini dipersembahkan bagi
Sraosha, Tuhannya doa. Selama waktu itu, ketika kekuatan kegelapan berada pada
puncak yang paling kuat dan mencari-cari mangsa, para pengikut Zoroaster harus
bangun, mengisi minyak dan dupa pada tungku api dan memperkuat dunia kebaikan
dengan doa-doa mereka.
Bentuk dan isi sembahyang yang di kenal dari prakek yang
ada adalah sebagai berikut:
1.
Orang yang hendak
melaksanakan sembahyang mempersiapkan diri dengan mencuci wajah, tangan, dan
kaki dari kotoran debu
2.
Melepaskan tali kawat
suci dan berdiri dengan tali di pegang dengan kedua tangan dimukanya, tegak
lurus dihadapan penciptanya, matanya menatap simbol kebajikan, yakni api
3.
Dia berdoa kepada
Ohrmazd (Ahura Mazda), mengutuk Ahriman (sambil memukul-mukulkan ujung kawat
dengan penghinaan), memasang tali kawat lagi sambil masih berdoa.
Disamping
perayaan individu tersebut, para pengikut Zoroaster masih mempunyai kewajiban bersama yaitu merayakan tujuh macam
peringatan hari besar tahunan. Waktu peringatan berbeda-beda, ada yang
pertengahan musim semi, ada yangpertengahan musim panas, dan ada yang
pertengahan musim dingin.perayaan in dirayakan denga menghadiri upacara agama
(sembahyang) di pagi hari dan kemudian berkumpul bersama di dalam kegembiraan
dengan pesta makan bersama. Makanan yang dimakan sebelumnya di beri berkah di dalam
upacara agama yang dilaksanakan pada pagi hari tersebut. Orang-orang kaya
saling bertemu di dalam kesempatan ini yang merupakan waktu iktikad baik umum,
perselisihan didamaikan dan persahabatan diperbaharui dan diperkuat.
Upacara-upacara khusus bagi kelahiran (massa penandaan), perkawinan dan
kematian juga diajarkan dalam agama Zoroaster.[17]
Upacara penandaan atau
Navjot (secara harfiah berarti Kelahiran Baru) adalah perayaan
ketika seorang anak diterima masuk ke agama Majusi, selanjutnya dia diberikan
simbolisasi keimanan – baju (sudreh) dan korset (kusti). Upacara ini
berlangsung pada saat usia tujuh dan empatbelas tahun. Setelah pemberian ini
setiap penganut Zoroster, baik lelaki maupun wanita, memakainya siang dan
malam, dan ini menjadi baju yang dikenakan ketika akhir hayatnya.
Upacara
kedua berkaitan dengan perkawinan. Ini kewajiban yang mengikat pengikut Majusi
untuk kawin dan membesarkan anak. Bagian terpenting dari upacara perkawinan
tiga kali pengucapan dalam akad perkawinan oleh pendeta resmi, diikuti
pemberkatan Tuhan, Amesha Spentas dan Yazatas pada pasangan baru.
Perbedaan
yang mencolok dari upacara Agama Zoroaster ini berkenaan dengan kematian.
Setelah nyawa meninggalkan raganya, maka badan jasmaninya dianggap tidak suci.
Ia harus dihancurkan secepat mungkin. Ia tidak boleh disentuh elemen suci-api,
bumi, dan air. Jadi tidak dibakar, dikubur, atau tidak juga dihanyutkan kedalam
air. Ia dibiarkan dimakan oleh burung bangkai. Mayatnya diletakkan pada suatu
tempat yang disebut Menara Kesunyian yang menghadap matahari. Puncak menara
dibiarkan terbuka untuk memberi kebebasan burung-burung memakannya. Kejadian
ini cepat berlangsung sekitar setengah jam, dan kerangka mayat memutih dibawah
sinar matahari dan udara dalam waktu beberapa hari. Ini kemudian dikumpulkan
dan disimpan dalam terowongan di pusat menara, dan disana mereka remuk menjadi
debu. Kebiasaan menghancurkan mayat ini tidak pernah terjadi pada saat
Zarathushtra atau pun pada awal masa Achaemenid. Herodotus mengacu kebiasaan
penguburan diantara bangsa Persia, dan kuburan Cyrus masih ada sampai sekarang.
Menara Kesunyian (Dokhmas) datang sebagai hasil pengaruh Magi, pendeta dari Medes.
Hal dipertahankan oleh pengikut Zoroaster dengan alasan agama maupun sanitasi.[18]
DAFTAR PUSTAKA
Ø Abdullah al-Maghlouth, bin Sami, Atlas Agama-Agama,
Almahira, Jakarta: 2010
Ø Ali, H. A. Mukti, Agama-Agama Dunia,IAIN Sunan
Kalijaga, Yogyakarya: 1988
Ø Aziz Us-Samad, Ulfat, PDF. Agama Besar Dunia,
Peshawar:1975
[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI)
[4] H. A. Mukti Ali, Agama-Agama Di Dunia,
(Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1988), hal. 269
[5] H. A. Mukti Ali, Agama-Agama Di Dunia,
(Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1988), hal. 270
[6] PDF. Ulfat Aziz Us-Samad, Agama Besar
Dunia,(Peshawar, 1975), hal. 77
[8] Sami Abdullah al-Maghlouth, Atlas
Agama-Agama, (Jakarta: Almahira, 2010), hal. 47
[9] PDF. Ulfat Aziz Us-Samad, Agama Besar
Dunia,(Peshawar, 1975), hal. 76
[11] Maniisme atau Manikheisme adalah sebuah aliran kepercayaandualistik yang didasarkan pada ajaran-ajaran Mani. Tokoh utama aliran ini adalah Manichaeus.
[12] Sami Abdullah al-Maghlouth, Atlas
Agama-Agama, (Jakarta: Almahira, 2010), hal. 471
[13] H. A. Mukti Ali, Agama-Agama Di Dunia,
(Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1988), hal. 270
[15] Sami Abdullah al-Maghlouth, Atlas
Agama-Agama, (Jakarta: Almahira, 2010), hal.470
[17] H. A. Mukti Ali, Agama-Agama Di Dunia,
(Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1988), hal. 287
[18] PDF. Ulfat Aziz Us-Samad, Agama Besar
Dunia,(Peshawar, 1975), hal. 91
sumber : makalah Intan Marhumah
informasi menarik tentang agama Zoroaster
BalasHapus