A.
Pendahuluan
Wilayah Jepang terdiri dari empat pulau besar, yaitu Hondo
(Honsyu) dan Hokkaido (Ezo) dan Shikoku dan Kyushu, beserta ribual pulau
kecil.Penduduk asal kepulauan itu sepanjang arkeologi dan atropologi, era berkaitan
dengan suku Tunggus dan suku Korea berdasarkan pembuktian lingguistik.Sepanjang
pembuktian ethnografis dan mythologis[1],
kedalamnya unsur belahan selatan Tiongkok beserta unsur Melayu belahan dari
Asia Tenggara dan unsur Polysnesia.Pada masa sebelumnya unsur Ainu, (Mungkin
proto-Caucassoiids).Sepertinya agak berdominan di tempat itu.
Suatu
suku dari pulau Kyushu yang terletak pada belahan selatan, dan suku itu
belakangan membentuk imperium, menyeberang ke utara menuju lembah Yamato (Nara)
dipulau Honsyu.Ia memperoleh kemenangan dalam persaingan kekuasaan dengan suku
Izumo yang punya pertalian darah dengan suku Korea. Melalui peperangan dengan
berbagai suku lainnya.Termasuk dengan suku Kaisar Jepang pertama-tama pada
tahun 660 SM, yaitu kaisar Jimmu Tenno.
Bentuk
susunan social di Jepang dewasa itu terdiri atas himpunan berbagai suku (Uji),
yang satu persatu suku itu dibawah pimpinan seorang kepala suku (Uji No
Kami).Anggota suatu suku itu menyatakan turunan satu bertindak sebagai datu
(high priest) dalam upacara pemujaan terhadap dewa suku (ujigami), dan suku
kekuasaan bersifat kepadrian (sacerdotal).Kepala suku dan keluarganya
seringkali beroleh berbagai gelaran (kabana), yang dalam perkembanganya
bersifat hitaraki. Di dalam lingkungan suku selalu berkelompok-kelompok kerja
yang bersifat warisan (tomo), yang serupa dengan kedudukan (guilds ) di Barat.
Suku
yang memeganag pusat kekuasaan didalam imperium, maka membuat dewa suku menjadi
dewa nasional.Dua suku yang punya kedudukan penting ialah suku Omi dan suku
Muraji.Semua ketua ari suku Kumo, Otomo, Mononobe, Menempati Imube (Imibe atau
Imbe) menjabat urusan upacara-upacara keagamaan.
Negara Jepang itu sepanjang sejarah sering berbenturan
dengan Korea dan Tiongkok dan pertempuran itu meniggalkan jejeak pengaruh di
Jepang[2].
Agama Shinto di Jepang itu tumbuh dan hidup dan berkembang
dalam lingkungan penduduk, bukan datang dari luara.Nama asli bagi agama itu
ialah Kami no Michi, yang bermakna “jalan dewa”. Pada saat Jepang berbenturan
dengan kebudayaan Tiongkok maka nama asli itu terdesak kebelakang oleh nama
baru yaitu Shin-To. Nama baru itu perubahan dari Tien-Tao, yang bermakna “jalan
langit”.Perubahan bunyi kata itu seperti halnya dengan aliran Chan, sebuah
sekte agama Budha mazhab Mahayana di Tiongkok, menjadi aliran Zen sewaktu
berkembang di Jepang.
Agama Shinto itu berkenyakinan pada mythos bahwa bumi di
Jepang itu diciptakan dewata yang pertama-tama dan bahwa Jimmu Tenno (660 SM),
Kaisar Jepang yang pertama itu, adalah turunan langsung dari Amaterasu Omi
Kami, yaitu dewi matahari, dalam perkawinannya dengan Taouki Lomi, yakni dewa
bulan. Sekalian upacara dan kebaktian terpusat seluruhnya pada pokok keyakinan
tersebut.
Sejarah perkembangan agama Shinto di Jepang dapat dibagi
menjadi beberapa tahap massa :
a.
Masa perkembangannya dengan pengaruh yang mutlak sepenuhnya
di Jepang, Yitu dari tahun 660 SM – 552 M. kira-kira 12 abad lamanya.
b.
Masa agama Budha dan ajaran Konfusianisme dan ajaran Taoisme
masuk ke Jepang, yaitu tahun 552 M sampai tahun 800 M, yang dalam masa dua
setengah abad itu agama Shinto memperoleh persainga berat, pada tahun 645 M
kaisar Kotoku merestui agama Buddha dan menyampingkan Kami no Michi. Sedangkan
pada tahun 671 M sang Kaisar membelakangi dunia dan mengenangkan pakaian rahib.
c.
Masa sinkronisasi secara berangsur-angsur antara agama
Shinto dengan tiga ajaran lainnya, yaitu dari tahun 800 M sampai 1700 M, yang
masa dalam Sembilan abad itu pada akhirnya lahir Ryobu Shinto yang didirikan
oleh Kubo Daishi (774-835 M) dan Kita Batake Chikafuza (1293 – 1354 M) dan
Ichijo Kanoyoshi (1465-1500 M).
Agama Jepang biasanya disebut dengan
agama Shinto.Sebagai agama asli bangsa Jepang, agama tersebut memiliki sifat
yang cukup unik. Proses terbentuknya, bentuk-bentuk upacara keagamaannya maupun
ajaran-ajarannya memperlihatkan perkembangan yang sangat ruwet. Banyak
istilah-istilah dalam agama Shinto yang sering dialih bahasakan dengan tepat ke
dalam bahasa lainnya. Kata-kata Shinto sendiri sebenarnya berasal dari bahasa
China yang berarti “jalan para dewa”, “pemujaan para dewa”, “pengajaran para
dewa”, atau “agama para dewa”. Dan nama Shinto itu sendiri baru dipergunakan
untuk pertama kalinya untuk menyebut agama asli bangsa Jepang itu ketika agama
Buddha dan agama konfusius (Tiongkok) sudah memasuki Jepang pada abad keenam
masehi.
Pertumbuhan
dan perkembagan agama serta kebudayaan Jepang memang memperlihatkan
kecenderungan yang asimilatif.Sejarah Jepang memperlihatkan bahwa negeri itu
telah menerima berbagai macam pengaruh, baik kultural maupun spiritual dari
luar.Semua pengaruh itu tidak menghilangkan tradisi asli, dengan
pengaruh-pengaruh dari luar tersebut justru memperkaya kehidupan spiritual
bangsa Jepang. Antara tradisi-tradisi asli dengan pengaruh-pengaruh dari luar
senantiasa dipadukan menjadi suatu bentuk tradisi baru yang jenisnya hampir
sama. Dan dalam proses perpaduan itu yang terjadi bukanlah pertentangan atau
kekacauan nilai, melainkan suatu kelangsungan dan kelanjutan. Dalam bidang
spiritual, pertemuan antara tradisi asli Jepang dengan pengaruh-pengaruh dari
luar itu telah membawa kelahiran suatu agama baru yaitu agama Shinto, agama
asli Jepang.
B. Pembahasan Shintoisme (Agama Shinto)
I.
Pengertian
Shinto adalah kata majemuk daripada “Shin” dan “To”. Arti
kata “Shin” adalah “roh” dan “To” adalah “jalan”. Jadi “Shinto” mempunyai arti
lafdziah “jalannya roh”, baik roh-roh orang yang telah meninggal maupun roh-roh
langit dan bumi. Kata “To” berdekatan dengan kata “Tao” dalam taoisme yang
berarti “jalannya Dewa” atau “jalannya bumi dan langit”. Sedang kata “Shin”
atau “Shen” identik dengan kata “Yin” dalam taoisme yang berarti gelap, basah,
negatif dan sebagainya ; lawan dari kata “Yang”. Dengan melihat hubungan nama
“Shinto” ini, maka kemungkinan besar Shintoisme dipengaruhi faham keagamaan
dari Tiongkok. Sedangkan Shintoisme adalah faham yang berbau keagamaan yang
khusus dianut oleh bangsa Jepang sampai sekarang.Shintoisme merupakan filsafat
religius yang bersifat tradisional sebagai warisan nenek moyang bangsa Jepang
yang dijadikan pegangan hidup.Tidak hanya rakyat Jepang yang harus menaati
ajaran Shintoisme melainkan juga pemerintahnya juga harus menjadi pewaris serta
pelaksana agama dari ajaran ini[3].
II.
Sejarah
Shintoisme
(agama Shinto) pada mulanya adalah merupakan perpaduan antara faham serba jiwa
(animisme) dengan pemujaan terhadap gejala-gejala alam.Shintoisme dipandang
oleh bangsa Jepang sebagai suatu agama tradisional warisan nenek moyang yang
telah berabad-abad hidup di Jepang, bahkan faham ini timbul daripada
mitos-mitos yang berhubungan dengan terjadinya negara Jepang.Latar belakang
historis timbulnya Shintoisme adalah sama-sama dengan latar belakang historis
tentang asal-usul timbulnya negara dan bangsa Jepang.Karena yang menyebabkan
timbulnya faham ini adalah budidaya manusia dalam bentuk cerita-cerita pahlawan
(mitologi) yang dilandasi kepercayaan animisme, maka faham ini dapat
digolongkan dalam klasifikasi agama alamiah.
Nama
Shinto muncul setelah masuknya agama Buddha ke Jepang pada abad keenam masehi
yang dimaksudkan untuk menyebut kepercayaan asli bangsa Jepang.Selama
berabad-abad antara agama Shinto dan agama Buddha telah terjadi percampuran
yang sedemikian rupa (bahkan boleh dikatakan agama Shinto berada di bawah
pengaruh kekuasaan agama Buddha) sehingga agama Shinto senantiasa disibukkan
oleh usaha-usaha untuk mempertahankan kelangsungan “hidupnya” sendiri.
Pada
perkembangan selanjutnya, dihadapkan pertemuan antara agama Budha dengan
kepercayaan asli bangsa Jepang (Shinto) yang akhienya mengakibatkan munculnya
persaingan yang cukup hebat antara pendeta bangsa Jepang (Shinto) dengan para
pendeta agama Buddha, maka untuk mempertahankan kelangsungan hidup agama Shinto
para pendetanya menerima dan memasukkan unsur-unsur Buddha ke dalam sistem
keagamaan mereka. Akibatnya agama Shinto justru hampir kehilangan sebagian
besar sifat aslinya.Misalnya, aneka ragam upacara agama bahkan bentuk-bentuk
bangunan tempat suci agama Shinto banyak dipengaruhi oleh agama Buddha.
Patung-patang dewa yang semula tidak dikenal dalam agama Shinto mulai diadakan
dan ciri kesederhanaan tempat-tempat suci agama Shinto lambat laun menjadi
lenyap digantikan dengan gaya yang penuh hiasan warna-warni yang mencolok.
Tentang
pengaruh agama Buddha yang lain nampak pada hal-hal seperti anggapan bahwa
dewa-dewa Shintoisme merupakan Awatara Buddha (penjelmaan dari Buddha dan
Bodhisatwa), Dainichi Nyorai (cahaya besar) merupakan figur yang disamakan
dengan Waicana (salah satu dari dewa-dewa penjuru angin dalam Budhisme
Mahayana), hal im berlangsung sampai abad ketujuh belas masehi.
Setelah
abad ketujuh belas timbul lagi gerakan untuk menghidupkan kembali ajaran Shinto
murni di bawah pelopor Kamamobuchi, Motoori, Hirata, Narinaga dan lain-lain
dengan tujuan bangsa Jepang ingin membedakan “Badsudo” (jalannya Buddha) dengan
“Kami” (roh-roh yang dianggap dewa oleh bangsa Jepang) untuk mempertahankan
kelangsungan kepercayaannya.
Pada abad kesembilan belas tepatnya tahun 1868 agama Shinto diproklamirkan menjadi agama negara yang pada saat itu agama Shinto mempunyai 10 sekte dan 21 juta pemeluknya. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa paham Shintoisme merupakan ajaran yang mengandung politik religius bagi Jepang, sebab saat itu taat kepada ajaran Shinto berarti taat kepada kaisar dan berarti pula berbakti kepada negara dan politik negara.
Pada abad kesembilan belas tepatnya tahun 1868 agama Shinto diproklamirkan menjadi agama negara yang pada saat itu agama Shinto mempunyai 10 sekte dan 21 juta pemeluknya. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa paham Shintoisme merupakan ajaran yang mengandung politik religius bagi Jepang, sebab saat itu taat kepada ajaran Shinto berarti taat kepada kaisar dan berarti pula berbakti kepada negara dan politik negara.
III.
Kepercayaan dan Peribadatan Agama
Shinto
A. Kepercayaan agama Shinto
Dalam agama Shinto yang merupakan perpaduan antara faham
serba jiwa (animisme) dengan pemujaan terhadap gejala-gejala alam mempercayai
bahwasanya semua benda baik yang hidup maupun yang mati dianggap memiliki ruh
atau spirit, bahkan kadang-kadang dianggap pula berkemampuan untuk bicara,
semua ruh atau spirit itu dianggap memiliki daya kekuasaan yang berpengaruh
terhadap kehidupan mereka (penganut Shinto), daya-daya kekuasaan tersebut
mereka puja dan disebut dengan “Kami”.
Istilah
“Kami” dalam agama Shinto dapat diartikan dengan “di atas” atau “unggul”,
sehingga apabila dimaksudkan untuk menunjukkan suatu kekuatan spiritual, maka
kata “Kami” dapat dialih bahasakan (diartikan) dengan “Dewa” (Tuhan, God dan
sebagainya). Jadi bagi bangsa Jepang kata “Kami” tersebut berarti suatu objek
pemujaan yang berbeda pengertiannya dengan pengertian objek-objek pemujaan yang
ada dalam agama lain. Dewa-dewa dalam agama Shinto jumlahnya tidak terbatas,
bahkan senantiasa bertambah, hal ini diungkapkan dalam istilah “Yao-Yarozuno
Kami” yang berarti “delapan miliun dewa”. Menurut agama Shinto kepercayaan
terhadap berbilangnya tersebut justru dianggap mempunyai pengertian yang
positif.Sebuah angka yang besar berarti menunjukkan bahwa para dewa itu
memiliki sifat yang agung, maha sempurna, maha suci dan maha murah.Oleh sebab
itu angka-angka seperti 8, 80, 180, 5, 100, 10, 50, 100, 500 dan seterusnya
dianggap sebagai angka-angka suci karena menunjukkan bahwa jumlah para dewa itu
tidak terbatas jumlahnya.Dan seperti halnya jumlah angka dengan bilangannya
yang besar maka bilangan itu juga menunjukkan sifat kebesaran dan keagungan
“Kami”.
Pengikut-pengikut
agama Shinto mempunyai semboyan yang berbunyi “Kami negara – no – mishi” yang
artinya : tetap mencari jalan dewa. Kepercayaan kepada “Kami” daripada
benda-benda dan seseorang, keluarga, suku, raja-raja sampai kepada “Kami” alam
raya menimbulkan kepercayaan kepada dewa-dewa.Orang Jepang (Shinto) mengakui
adanya dewa bumi dan dewa langit (dewa surgawi) dan dewa yang tertinggi adalah
Dewi Matahari (Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan pemberi kamakmuran dan
kesejahteraan serta kemajuan dalam bidang pertanian.
Disamping
mempercayai adanya dewa-dewa yang memberi kesejahteraan hidup, mereka juga
mempercayai adanya kekuatan gaib yang mencelakakan, yakni hantu roh-roh jahat
yang disebut dengan Aragami yang berarti roh yang ganas dan jahat. Jadi dalam
Shintoisme ada pengertian kekuatan gaib yang dualistis yang satu sama lain
saling berlawanan yakni “Kami” versus Aragami (Dewi melawan roh jahat)
sebagaimana kepercayaan dualisme dalam agama Zarathustra.
Dari
kutipan di atas dapat dilihat adanya tiga hal yang terdapat dalam konsepsi
kedewaan agama Shinto, yaitu :
1.
Dewa-dewa yang pada umumnya merupakan personifikasi dari
gejala-gejala alam itu dianggap dapat mendengar, melihat dan sebagainya
sehingga harus dipuja secara langsung.
2.
Dewa-dewa tersebut dapat terjadi (penjelmaan) dari roh manusia
yang sudah meninggal.
3.
Dewa-dewa tersebut dianggap mempunyai spirit (mitama) yang
beremanasi dan berdiam di tempat-tempat suci di bumi dan mempengaruhi kehidupan
manusia.
B. Kitab suci agama Shinto
Kitab suci yang tertua dalam agama Shinto itu ada dua buah,
akan tetapi disusun sepuluh abad setelah meninggalnya Jimmu Tenno sang Kaisar
Jepang yang pertama, dan dua buah laki disusun pada masa belakangan, keempat
kitab itu adalah :
1. Kojiki, yang bermakna : catatan
peristiwa purbakala disusun pada tahun 712 M, setelah Kekaisaran Jepang
berkedudukan di Nara yang pada waktu itu ibu kota Nara dibangun pada tahun 710
M, arsitek ini seperti ibukota Changan di Tiongkok.
2. Nihonji, yang bermakna : riwayat
Jepang, disusun pada tahun 720 M oleh penulis yang sama dengan dibantu sang
pangeran di istananya.
3. Yengishiki, yang bermakna : berbagai
lembaga pada masa Yengi. Kitab itu disusun pada abad ke 10 M terdiri atas lima
puluh bab. Dan sepuluh bab yang pertama berisikan ulasan kisah-kisah purbakala
yang bersifat kultus. Dan dilanjutkan dengan kisah selanjutnya sampai abad ke
10 M, tetapi inti dari kitab ini ialah mencatat 25 buah Nurito, yakni
do’a-do’a, atau pujaan yang sangat panjang pada berbagai macam upacara
keagamaan.
4. Manyoshiu, yang bermakna : himpunan
sepuluh ribu daun, berisikan Bungan Rampai, terdiri dari atas 4496 buah sajak,
disusun antara abad ke 5 dengan abad ke 8 M.
Kitab pertama dan ke dua itu menguraikan tentang alam kayangan
kehidupan para dewa dan dewi sampai kepada Amaterasu Omi Kami (dewa matahari)
dan Tsukiyomi (dewa bulan). Diangkat untuk menguasai langit dan putranya Jimmu
Tenno diangkat untuk menguasai tanah yang subur (bumi Jepang) lalu disusul
dengan sisilah turunan Kaisar Jepang itu beserta riwayat hidup satu
persatuanya.Selanjutnya upacara-upacara keagamaan yang dilakukan dalam masa
yang panjang itu, dan berkenaan dengan pemujaan terhadap Kaisar beserta para
dewa dan dewinya. Dan didalam kata pendahuluan itu dalam kitab Kojiki,
penulisnya menyatakan bahwa dia seorang bangsawan tingkat lima di istana, yang
menerima perintah Kaisar untuk menyusun riwayat hidupnya dan silsilah keturunan
Kaisar.
Dan kitab 3 dan 4 berisikan tentang
kisah-kisah legendaris, nyanyian-nyanyian kepahlawanan, beserta sajak-sajak
tentang asal usul kedewaan, asal usul kepulauan Jepang dan kerajaan
Jepang.Ragam hal-hal kisah yang berkaitan tentang kehidupan para dewa dan para
dewi dalam kayangan dilangit.Catatan peristiwa pada masa-masa terakhir barulah
dilanjutkan dengan kisah sejarah[4].
C. Peribadatan agama Shinto
Agama Shinto sangat mementingkan ritus-ritus dan memberikan
nilai sangat tinggi terhadap ritus yang sangat mistis.Menurut agama Shinto
watak manusia pada dasarnya adalah baik dan bersih.Adapun jelek dan kotor
adalah pertumbuhan kedua, dan merupakan keadaan negatif yang harus dihilangkan
melalui upacara pensucian (Harae).Karena itu agama Shinto sering dikatakan
sebagai agama yang dimulai dengan dengan pensucian dan diakhiri dengan
pensucian. Upacara pensucian (Harae) senantiasa dilakukan mendahului
pelaksanaan upacara-upacara yang lain dalam agama Shinto. Ritus-ritus yang
dilakukan dalam agama Shinto terutama adalah untuk memuja dewi Matahari
(Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan kemakmuran dan kesejahteraan serta
kemajuan dalam bidang pertanian (beras), yang dilakukan rakyat Jepang pada
Bulan Juli dan Agustus di atas gunung Fujiyama[5].
D.
Pengaruh
Shintoisme terhadap peribadi
Meskipun
bagaimana pun juga suatu kepercayaan dipandang tidak benar oleh agama wahyu,
bila telah terbentuk dalam pribadi seperti halnya dengan Shintoisme yang telah
menjadi tradisi kebudayaan rakyat Jepang.Maka hal tersebut sulit bagi agama
wahyu yang datang ke Jepang mengubahnya kearah panggilan kebenaran
kewahyuan.Apalagi bila diingat bahwa Jepang adalah suatu bangsa yang sangat
disiplin terhadap janji atau sumpah, maka kesetiaan terhadap agama, terhadap
Negara, terhadap Kaisar dan terhadap tradisinya merupakan suatu kewajiban yang
suci bagi mereka.
Dalam
hubungan inilah seorang ahli sejarah Jepang, D.C. Holten menyatakan bahwa
orang-orang Jepang dilahirkan dalam ajaran Shinto, kesetiaanya terhadap
kepercayaan terhadap kepercayaan dan pengalaman ajaranya adalah menjadi
kualifikasi pertama sebagai “ orang Jepang yang baik’. Meskipun ia memeluk
agama universal seperti Budhisme atau Kristen, faham lama Shinto tetap
merupakan pengaruh vital dan luas, yang secara fundametalisme faham lama
tersebut membentuk pula mentalis dan tingkah laku serta memberikan paola dasar
yang menjadi wadah dari segala sesuatu yang lain.
Untuk
memperjelas ajaran Shintoisme ini perlu dikemukakan juga ajarannya tentang
kesusilaan yang paling terhormat yang biasnya dilakukan para bangsawan atau
para ksatria-ksatria Jepang sebagai berikut[6] :
a) Keberanian
dianggap sebagai suatu keutamaan yang pokok dan oleh karena itu keberanian
sudah di didikan pada anak dalam masa-masa permulaan hidupnya, sikap mereka
dalam keberanian dinyatakan dengan semboyan : “ keberanian yang benar untuk
hidup, ialah bilamana hal itu benar untuk hidup, dan untu mati bilamana hal itu
benar untuk mati”
b) Sifat
penakut dikutuk, karena sifat ini dipandang dosa. “ semua dosa besar dan kecil,
dapat diampuni dengan melalui cara taubat, kecuali penakut dan pencuri”
c) Loyalitas,
yaitu setia, kesetiaan pertama kepada Kaisar, kemudian meluas kepada seluruh
anggota keluarga Kaisar, pada masyarakat dan pada generasi yang akan datang.
d) Kesucian
dan kebersihan, adalah suatu hal yang sangat penting dalam Shintoisme. Oleh
karena itu dalam faham ini terdapat upacara-upaca pensucian. Orang tidak suci
adalah berdosa, oleh karena melawan dewa-dewa.
Atas
pengaruh ajaran kebersihan atau kesucian ini, maka soal “mandi” termasuk
perbuatan utama, sehingga dijadikan salah satu upacara keagamaan. Kamar atau
tempat mandi dipandang sebagai tempat menarik hati bagi semua orang, sedangkan
waktu mandi ditetapkan menjadi tradisi, misalnya 2 jam diwaktu sore anatara jam
17.00 dan 19.00 sebelum makan malam. Banyak terdapat uapaca-upacara ditetapkan
dengan melalui pemandian[7].
E.
Upacara
pemujaan
Upaca resmi dan bersifat menyeluruh
bagi bangsa Jepang di pustakan di kui Ise, yang terletak pada pesisir tenggara
Kyoto, bebas ibukota tua itu, bagi pemujaan Amaterasu Omi Kami (dewi matahari).
Tepatnya berada dikuil Naiku, kuil
tua yang terletak pada bagian dalam dank anon dibangun pada tahun 4 SM, kuil
itu sangat terpandang suci bagi pemujaan Dewi Matahari, sedangkan pada bagian
luar terdapat kuil Geku bagi pemujaan Dewi Makanan, Dewi Ukemochi.
Seorang Shinto atau seorang Buddha
di Jepang (kedua agama ini sangat terjalin erat dalam urusan kependudukan),
merasa suatu kewajiban untuk sekali dalam seumur hidupnya pergi ziarah ketempat
suci di Ise itu.
Pada setiapa hari kelahiran kaisar,
seluruh lembaga pendidikan di Jepang, atas perintah resmi, melakukan uapacara
yang kidmat dengan menundukan diri di depan gambar sang Kaisar.
Kaisar itu dipandang suatu syang
sangat sakral, Kaisar tidak menampakan diri didepan umum.Dalam upacara-upacara
tertentu, pada saat kendaraan Kaisar melintas di jalan besar, seorang yang
boleh memandang dari atas kepala Kaisar dibawah.Segala jendela pada setiap
tingkatan atas itu mesti ditutup rapat.
Akan tetapi sehabis perang dunia
kedua, maka perubahan besar terjadi pada kekuasaan Kaisar yang absolut itu
telah digantikan kekuasaan rakyat melalui sitem pemilihan umum, dan kaisar
sudah ditempatkan pada lambang belaka, yang kini bukan lagi suatu yang sakral
akan tetapi dipandang sebagai manusia biasa, yang saat ini sudah bias bergaul
dengan masyarakat umum, sebuah keyakinan asazi dalam agama Shinto itu telah
menghilang tempat untuk berpijak[8].
F.
Pengaruh
Shintoisme Terhadap Peribadi
Meskipun
bagaimana pun juga suatu kepercayaan dipandang tidak benar oleh agama wahyu,
bila telah terbentuk dalam pribadi seperti halnya dengan Shintoisme yang telah
menjadi tradisi kebudayaan rakyat Jepang.Maka hal tersebut sulit bagi agama
wahyu yang datang ke Jepang mengubahnya kearah panggilan kebenaran
kewahyuan.Apalagi bila diingat bahwa Jepang adalah suatu bangsa yang sangat
disiplin terhadap janji atau sumpah, maka kesetiaan terhadap agama, terhadap
Negara, terhadap Kaisar dan terhadap tradisinya merupakan suatu kewajiban yang
suci bagi mereka.
Dalam
hubungan inilah seorang ahli sejarah Jepang, D.C. Holten menyatakan bahwa
orang-orang Jepang dilahirkan dalam ajaran Shinto, kesetiaanya terhadap
kepercayaan terhadap kepercayaan dan pengalaman ajaranya adalah menjadi
kualifikasi pertama sebagai “ orang Jepang yang baik’. Meskipun ia memeluk
agama universal seperti Budhisme atau Kristen, faham lama Shinto tetap
merupakan pengaruh vital dan luas, yang secara fundametalisme faham lama
tersebut membentuk pula mentalis dan tingkah laku serta memberikan paola dasar
yang menjadi wadah dari segala sesuatu yang lain.
Untuk
memperjelas ajaran Shintoisme ini perlu
dikemukakan juga ajarannya tentang kesusilaan yang paling terhormat yang
biasnya dilakukan para bangsawan atau para ksatria-ksatria Jepang sebagai
berikut :
a) Keberanian
dianggap sebagai suatu keutamaan yang pokok dan oleh karena itu keberanian
sudah di didikan pada anak dalam masa-masa permulaan hidupnya, sikap mereka
dalam keberanian dinyatakan dengan semboyan : “ keberanian yang benar untuk
hidup, ialah bilamana hal itu benar untuk hidup, dan untu mati bilamana hal itu
benar untuk mati”
b) Sifat
penakut dikutuk, karena sifat ini dipandang dosa. “ semua dosa besar dan kecil,
dapat diampuni dengan melalui cara taubat, kecuali penakut dan pencuri”
c) Loyalitas,
yaitu setia, kesetiaan pertama kepada Kaisar, kemudian meluas kepada seluruh
anggota keluarga Kaisar, pada masyarakat dan pada generasi yang akan datang.
d) Kesucian
dan kebersihan, adalah suatu hal yang sangat penting dalam Shintoisme. Oleh
karena itu dalam faham ini terdapat upacara-upaca pensucian. Orang tidak suci
adalah berdosa, oleh karena melawan dewa-dewa.
Atas
pengaruh ajaran kebersihan atau kesucian ini, maka soal “mandi” termasuk
perbuatan utama, sehingga dijadikan salah satu upacara keagamaan. Kamar atau
tempat mandi dipandang sebagai tempat menarik hati bagi semua orang, sedangkan
waktu mandi ditetapkan menjadi tradisi, misalnya 2 jam diwaktu sore anatara jam
17.00 dan 19.00 sebelum makan malam. Banyak terdapat uapaca-upacara ditetapkan dengan
melalui pemandian.
KESIMPULAN
Dari uraian-uraian yang sudah dikemukakan diatas tampak
bahwa agama rakyat merupakan sistem kepercayaan dan peribadatan yang
benar-benar hidup di kalangan rakyat Jepang dan merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari kehidupan mereka seperti yang terlihat dalam kegiatan-kegiatan
keluarga, rukun tetangga dan hari-hari libur nasional Jepang.Dari hasil
penelitian yang dilakukan terhadap kepercayaan tradisional Jepang dan tempat
agama rakyat, dalam kehidupan masyarakat Jepang modern yang termuat dalam
laporan hasil penelitian yang diberi judul Nihonjin-no-kokuminsei (sifat
nasional Jepang), maka pemujaan terhadap arwah nenek moyang menempati kedudukan
utama dalam kehidupan masyarakat Jepang (77% diantaranya 2.254 orang yang tersebar
di seluruh negeri Jepang).Di samping itu rangkaian upacara dan perayaan tahunan
masih tetap memainkan peranan penting dalam agama rakyat, terutama dalam
lingkungan masyarakat pertanian yang umumnya terdapat dalam agama rakyat
fungsinya sudah jauh berkurang, namun berbagai rangkaian kegiatan yang
sepanjang tahun menjadi salah satu diantara ajaran-ajaran yang terdapat dalam
agama yang sudah melembaga seperti agama Shinto[9].
DAFTAR PUSTAKA
Arifin,
Muhammad, H, Prof, M.Ed, Mengguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, GT. Press,
Jakarta.
Huston
Smith, Agama-agama manusia, Yayasan Obor Indonesia; Jakarta, cet ke-6, 2001.
Sou’yb. Joesoef.Agama-agama besar di
dunia.PT. Al-Huzna Zikra. Jakarta, cet. Ke-3 1996
[1]William
L. Langer di dalam Encyclopedia
ofworldhistory edisi 1956 halaman 138-137
[2]
Joesoef Sou’yb. Agama-agama besar di dunia.Hal. 207
[3]
Prof. H.M. Arifin. M.Fd. Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar.Hal. 47
[4]
Joesoef Sou’yb. Agama-agama besar di dunia.Hal. 212
[5]Huston
Smith, Agama-agama manusia, Yayasan Obor Indonesia Hal.
[6]
Prof. H.M. Arifin. M.Fd. Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar.Hal. 53
[7]Ibid
53
[8]
Joesoef Sou’yb. Agama-agama besar di dunia.Hal. 213
[9]
Prof. H.M. Arifin. M.Fd. Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar.Hal. 55
Sumber : Makalah Khoirul Fatihin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar