Jumat, 31 Mei 2013

Agama Shinto


A.    Pendahuluan
Wilayah Jepang terdiri dari empat pulau besar, yaitu Hondo (Honsyu) dan Hokkaido (Ezo) dan Shikoku dan Kyushu, beserta ribual pulau kecil.Penduduk asal kepulauan itu sepanjang arkeologi dan atropologi, era berkaitan dengan suku Tunggus dan suku Korea berdasarkan pembuktian lingguistik.Sepanjang pembuktian ethnografis dan mythologis[1], kedalamnya unsur belahan selatan Tiongkok beserta unsur Melayu belahan dari Asia Tenggara dan unsur Polysnesia.Pada masa sebelumnya unsur Ainu, (Mungkin proto-Caucassoiids).Sepertinya agak berdominan di tempat itu.
Suatu suku dari pulau Kyushu yang terletak pada belahan selatan, dan suku itu belakangan membentuk imperium, menyeberang ke utara menuju lembah Yamato (Nara) dipulau Honsyu.Ia memperoleh kemenangan dalam persaingan kekuasaan dengan suku Izumo yang punya pertalian darah dengan suku Korea. Melalui peperangan dengan berbagai suku lainnya.Termasuk dengan suku Kaisar Jepang pertama-tama pada tahun 660 SM, yaitu kaisar Jimmu Tenno.
Bentuk susunan social di Jepang dewasa itu terdiri atas himpunan berbagai suku (Uji), yang satu persatu suku itu dibawah pimpinan seorang kepala suku (Uji No Kami).Anggota suatu suku itu menyatakan turunan satu bertindak sebagai datu (high priest) dalam upacara pemujaan terhadap dewa suku (ujigami), dan suku kekuasaan bersifat kepadrian (sacerdotal).Kepala suku dan keluarganya seringkali beroleh berbagai gelaran (kabana), yang dalam perkembanganya bersifat hitaraki. Di dalam lingkungan suku selalu berkelompok-kelompok kerja yang bersifat warisan (tomo), yang serupa dengan kedudukan (guilds ) di Barat.
Suku yang memeganag pusat kekuasaan didalam imperium, maka membuat dewa suku menjadi dewa nasional.Dua suku yang punya kedudukan penting ialah suku Omi dan suku Muraji.Semua ketua ari suku Kumo, Otomo, Mononobe, Menempati Imube (Imibe atau Imbe) menjabat urusan upacara-upacara keagamaan.
Negara Jepang itu sepanjang sejarah sering berbenturan dengan Korea dan Tiongkok dan pertempuran itu meniggalkan jejeak pengaruh di Jepang[2].
Agama Shinto di Jepang itu tumbuh dan hidup dan berkembang dalam lingkungan penduduk, bukan datang dari luara.Nama asli bagi agama itu ialah Kami no Michi, yang bermakna “jalan dewa”. Pada saat Jepang berbenturan dengan kebudayaan Tiongkok maka nama asli itu terdesak kebelakang oleh nama baru yaitu Shin-To. Nama baru itu perubahan dari Tien-Tao, yang bermakna “jalan langit”.Perubahan bunyi kata itu seperti halnya dengan aliran Chan, sebuah sekte agama Budha mazhab Mahayana di Tiongkok, menjadi aliran Zen sewaktu berkembang di Jepang.
Agama Shinto itu berkenyakinan pada mythos bahwa bumi di Jepang itu diciptakan dewata yang pertama-tama dan bahwa Jimmu Tenno (660 SM), Kaisar Jepang yang pertama itu, adalah turunan langsung dari Amaterasu Omi Kami, yaitu dewi matahari, dalam perkawinannya dengan Taouki Lomi, yakni dewa bulan. Sekalian upacara dan kebaktian terpusat seluruhnya pada pokok keyakinan tersebut.
Sejarah perkembangan agama Shinto di Jepang dapat dibagi menjadi beberapa tahap massa :
a.       Masa perkembangannya dengan pengaruh yang mutlak sepenuhnya di Jepang, Yitu dari tahun 660 SM – 552 M. kira-kira 12 abad lamanya.
b.      Masa agama Budha dan ajaran Konfusianisme dan ajaran Taoisme masuk ke Jepang, yaitu tahun 552 M sampai tahun 800 M, yang dalam masa dua setengah abad itu agama Shinto memperoleh persainga berat, pada tahun 645 M kaisar Kotoku merestui agama Buddha dan menyampingkan Kami no Michi. Sedangkan pada tahun 671 M sang Kaisar membelakangi dunia dan mengenangkan pakaian rahib.
c.       Masa sinkronisasi secara berangsur-angsur antara agama Shinto dengan tiga ajaran lainnya, yaitu dari tahun 800 M sampai 1700 M, yang masa dalam Sembilan abad itu pada akhirnya lahir Ryobu Shinto yang didirikan oleh Kubo Daishi (774-835 M) dan Kita Batake Chikafuza (1293 – 1354 M) dan Ichijo Kanoyoshi (1465-1500 M).
Agama Jepang biasanya disebut dengan agama Shinto.Sebagai agama asli bangsa Jepang, agama tersebut memiliki sifat yang cukup unik. Proses terbentuknya, bentuk-bentuk upacara keagamaannya maupun ajaran-ajarannya memperlihatkan perkembangan yang sangat ruwet. Banyak istilah-istilah dalam agama Shinto yang sering dialih bahasakan dengan tepat ke dalam bahasa lainnya. Kata-kata Shinto sendiri sebenarnya berasal dari bahasa China yang berarti “jalan para dewa”, “pemujaan para dewa”, “pengajaran para dewa”, atau “agama para dewa”. Dan nama Shinto itu sendiri baru dipergunakan untuk pertama kalinya untuk menyebut agama asli bangsa Jepang itu ketika agama Buddha dan agama konfusius (Tiongkok) sudah memasuki Jepang pada abad keenam masehi.
Pertumbuhan dan perkembagan agama serta kebudayaan Jepang memang memperlihatkan kecenderungan yang asimilatif.Sejarah Jepang memperlihatkan bahwa negeri itu telah menerima berbagai macam pengaruh, baik kultural maupun spiritual dari luar.Semua pengaruh itu tidak menghilangkan tradisi asli, dengan pengaruh-pengaruh dari luar tersebut justru memperkaya kehidupan spiritual bangsa Jepang. Antara tradisi-tradisi asli dengan pengaruh-pengaruh dari luar senantiasa dipadukan menjadi suatu bentuk tradisi baru yang jenisnya hampir sama. Dan dalam proses perpaduan itu yang terjadi bukanlah pertentangan atau kekacauan nilai, melainkan suatu kelangsungan dan kelanjutan. Dalam bidang spiritual, pertemuan antara tradisi asli Jepang dengan pengaruh-pengaruh dari luar itu telah membawa kelahiran suatu agama baru yaitu agama Shinto, agama asli Jepang.
B.     Pembahasan Shintoisme (Agama Shinto)

       I.            Pengertian
Shinto adalah kata majemuk daripada “Shin” dan “To”. Arti kata “Shin” adalah “roh” dan “To” adalah “jalan”. Jadi “Shinto” mempunyai arti lafdziah “jalannya roh”, baik roh-roh orang yang telah meninggal maupun roh-roh langit dan bumi. Kata “To” berdekatan dengan kata “Tao” dalam taoisme yang berarti “jalannya Dewa” atau “jalannya bumi dan langit”. Sedang kata “Shin” atau “Shen” identik dengan kata “Yin” dalam taoisme yang berarti gelap, basah, negatif dan sebagainya ; lawan dari kata “Yang”. Dengan melihat hubungan nama “Shinto” ini, maka kemungkinan besar Shintoisme dipengaruhi faham keagamaan dari Tiongkok. Sedangkan Shintoisme adalah faham yang berbau keagamaan yang khusus dianut oleh bangsa Jepang sampai sekarang.Shintoisme merupakan filsafat religius yang bersifat tradisional sebagai warisan nenek moyang bangsa Jepang yang dijadikan pegangan hidup.Tidak hanya rakyat Jepang yang harus menaati ajaran Shintoisme melainkan juga pemerintahnya juga harus menjadi pewaris serta pelaksana agama dari ajaran ini[3].
    II.            Sejarah
Shintoisme (agama Shinto) pada mulanya adalah merupakan perpaduan antara faham serba jiwa (animisme) dengan pemujaan terhadap gejala-gejala alam.Shintoisme dipandang oleh bangsa Jepang sebagai suatu agama tradisional warisan nenek moyang yang telah berabad-abad hidup di Jepang, bahkan faham ini timbul daripada mitos-mitos yang berhubungan dengan terjadinya negara Jepang.Latar belakang historis timbulnya Shintoisme adalah sama-sama dengan latar belakang historis tentang asal-usul timbulnya negara dan bangsa Jepang.Karena yang menyebabkan timbulnya faham ini adalah budidaya manusia dalam bentuk cerita-cerita pahlawan (mitologi) yang dilandasi kepercayaan animisme, maka faham ini dapat digolongkan dalam klasifikasi agama alamiah.
Nama Shinto muncul setelah masuknya agama Buddha ke Jepang pada abad keenam masehi yang dimaksudkan untuk menyebut kepercayaan asli bangsa Jepang.Selama berabad-abad antara agama Shinto dan agama Buddha telah terjadi percampuran yang sedemikian rupa (bahkan boleh dikatakan agama Shinto berada di bawah pengaruh kekuasaan agama Buddha) sehingga agama Shinto senantiasa disibukkan oleh usaha-usaha untuk mempertahankan kelangsungan “hidupnya” sendiri.
Pada perkembangan selanjutnya, dihadapkan pertemuan antara agama Budha dengan kepercayaan asli bangsa Jepang (Shinto) yang akhienya mengakibatkan munculnya persaingan yang cukup hebat antara pendeta bangsa Jepang (Shinto) dengan para pendeta agama Buddha, maka untuk mempertahankan kelangsungan hidup agama Shinto para pendetanya menerima dan memasukkan unsur-unsur Buddha ke dalam sistem keagamaan mereka. Akibatnya agama Shinto justru hampir kehilangan sebagian besar sifat aslinya.Misalnya, aneka ragam upacara agama bahkan bentuk-bentuk bangunan tempat suci agama Shinto banyak dipengaruhi oleh agama Buddha. Patung-patang dewa yang semula tidak dikenal dalam agama Shinto mulai diadakan dan ciri kesederhanaan tempat-tempat suci agama Shinto lambat laun menjadi lenyap digantikan dengan gaya yang penuh hiasan warna-warni yang mencolok.
Tentang pengaruh agama Buddha yang lain nampak pada hal-hal seperti anggapan bahwa dewa-dewa Shintoisme merupakan Awatara Buddha (penjelmaan dari Buddha dan Bodhisatwa), Dainichi Nyorai (cahaya besar) merupakan figur yang disamakan dengan Waicana (salah satu dari dewa-dewa penjuru angin dalam Budhisme Mahayana), hal im berlangsung sampai abad ketujuh belas masehi.
Setelah abad ketujuh belas timbul lagi gerakan untuk menghidupkan kembali ajaran Shinto murni di bawah pelopor Kamamobuchi, Motoori, Hirata, Narinaga dan lain-lain dengan tujuan bangsa Jepang ingin membedakan “Badsudo” (jalannya Buddha) dengan “Kami” (roh-roh yang dianggap dewa oleh bangsa Jepang) untuk mempertahankan kelangsungan kepercayaannya.
Pada abad kesembilan belas tepatnya tahun 1868 agama Shinto diproklamirkan menjadi agama negara yang pada saat itu agama Shinto mempunyai 10 sekte dan 21 juta pemeluknya. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa paham Shintoisme merupakan ajaran yang mengandung politik religius bagi Jepang, sebab saat itu taat kepada ajaran Shinto berarti taat kepada kaisar dan berarti pula berbakti kepada negara dan politik negara.
 III.            Kepercayaan dan Peribadatan Agama Shinto

A.    Kepercayaan agama Shinto
Dalam agama Shinto yang merupakan perpaduan antara faham serba jiwa (animisme) dengan pemujaan terhadap gejala-gejala alam mempercayai bahwasanya semua benda baik yang hidup maupun yang mati dianggap memiliki ruh atau spirit, bahkan kadang-kadang dianggap pula berkemampuan untuk bicara, semua ruh atau spirit itu dianggap memiliki daya kekuasaan yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka (penganut Shinto), daya-daya kekuasaan tersebut mereka puja dan disebut dengan “Kami”.
Istilah “Kami” dalam agama Shinto dapat diartikan dengan “di atas” atau “unggul”, sehingga apabila dimaksudkan untuk menunjukkan suatu kekuatan spiritual, maka kata “Kami” dapat dialih bahasakan (diartikan) dengan “Dewa” (Tuhan, God dan sebagainya). Jadi bagi bangsa Jepang kata “Kami” tersebut berarti suatu objek pemujaan yang berbeda pengertiannya dengan pengertian objek-objek pemujaan yang ada dalam agama lain. Dewa-dewa dalam agama Shinto jumlahnya tidak terbatas, bahkan senantiasa bertambah, hal ini diungkapkan dalam istilah “Yao-Yarozuno Kami” yang berarti “delapan miliun dewa”. Menurut agama Shinto kepercayaan terhadap berbilangnya tersebut justru dianggap mempunyai pengertian yang positif.Sebuah angka yang besar berarti menunjukkan bahwa para dewa itu memiliki sifat yang agung, maha sempurna, maha suci dan maha murah.Oleh sebab itu angka-angka seperti 8, 80, 180, 5, 100, 10, 50, 100, 500 dan seterusnya dianggap sebagai angka-angka suci karena menunjukkan bahwa jumlah para dewa itu tidak terbatas jumlahnya.Dan seperti halnya jumlah angka dengan bilangannya yang besar maka bilangan itu juga menunjukkan sifat kebesaran dan keagungan “Kami”.
Pengikut-pengikut agama Shinto mempunyai semboyan yang berbunyi “Kami negara – no – mishi” yang artinya : tetap mencari jalan dewa. Kepercayaan kepada “Kami” daripada benda-benda dan seseorang, keluarga, suku, raja-raja sampai kepada “Kami” alam raya menimbulkan kepercayaan kepada dewa-dewa.Orang Jepang (Shinto) mengakui adanya dewa bumi dan dewa langit (dewa surgawi) dan dewa yang tertinggi adalah Dewi Matahari (Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan pemberi kamakmuran dan kesejahteraan serta kemajuan dalam bidang pertanian.

Disamping mempercayai adanya dewa-dewa yang memberi kesejahteraan hidup, mereka juga mempercayai adanya kekuatan gaib yang mencelakakan, yakni hantu roh-roh jahat yang disebut dengan Aragami yang berarti roh yang ganas dan jahat. Jadi dalam Shintoisme ada pengertian kekuatan gaib yang dualistis yang satu sama lain saling berlawanan yakni “Kami” versus Aragami (Dewi melawan roh jahat) sebagaimana kepercayaan dualisme dalam agama Zarathustra.
Dari kutipan di atas dapat dilihat adanya tiga hal yang terdapat dalam konsepsi kedewaan agama Shinto, yaitu :
1.      Dewa-dewa yang pada umumnya merupakan personifikasi dari gejala-gejala alam itu dianggap dapat mendengar, melihat dan sebagainya sehingga harus dipuja secara langsung.
2.      Dewa-dewa tersebut dapat terjadi (penjelmaan) dari roh manusia yang sudah meninggal.
3.      Dewa-dewa tersebut dianggap mempunyai spirit (mitama) yang beremanasi dan berdiam di tempat-tempat suci di bumi dan mempengaruhi kehidupan manusia.

B.     Kitab suci agama Shinto
Kitab suci yang tertua dalam agama Shinto itu ada dua buah, akan tetapi disusun sepuluh abad setelah meninggalnya Jimmu Tenno sang Kaisar Jepang yang pertama, dan dua buah laki disusun pada masa belakangan, keempat kitab itu adalah :
1.      Kojiki, yang bermakna : catatan peristiwa purbakala disusun pada tahun 712 M, setelah Kekaisaran Jepang berkedudukan di Nara yang pada waktu itu ibu kota Nara dibangun pada tahun 710 M, arsitek ini seperti ibukota Changan di Tiongkok.
2.      Nihonji, yang bermakna : riwayat Jepang, disusun pada tahun 720 M oleh penulis yang sama dengan dibantu sang pangeran di istananya.
3.      Yengishiki, yang bermakna : berbagai lembaga pada masa Yengi. Kitab itu disusun pada abad ke 10 M terdiri atas lima puluh bab. Dan sepuluh bab yang pertama berisikan ulasan kisah-kisah purbakala yang bersifat kultus. Dan dilanjutkan dengan kisah selanjutnya sampai abad ke 10 M, tetapi inti dari kitab ini ialah mencatat 25 buah Nurito, yakni do’a-do’a, atau pujaan yang sangat panjang pada berbagai macam upacara keagamaan.
4.      Manyoshiu, yang bermakna : himpunan sepuluh ribu daun, berisikan Bungan Rampai, terdiri dari atas 4496 buah sajak, disusun antara abad ke 5 dengan abad ke 8 M.
Kitab pertama dan ke dua  itu menguraikan tentang alam kayangan kehidupan para dewa dan dewi sampai kepada Amaterasu Omi Kami (dewa matahari) dan Tsukiyomi (dewa bulan). Diangkat untuk menguasai langit dan putranya Jimmu Tenno diangkat untuk menguasai tanah yang subur (bumi Jepang) lalu disusul dengan sisilah turunan Kaisar Jepang itu beserta riwayat hidup satu persatuanya.Selanjutnya upacara-upacara keagamaan yang dilakukan dalam masa yang panjang itu, dan berkenaan dengan pemujaan terhadap Kaisar beserta para dewa dan dewinya. Dan didalam kata pendahuluan itu dalam kitab Kojiki, penulisnya menyatakan bahwa dia seorang bangsawan tingkat lima di istana, yang menerima perintah Kaisar untuk menyusun riwayat hidupnya dan silsilah keturunan Kaisar.
Dan kitab 3 dan 4 berisikan tentang kisah-kisah legendaris, nyanyian-nyanyian kepahlawanan, beserta sajak-sajak tentang asal usul kedewaan, asal usul kepulauan Jepang dan kerajaan Jepang.Ragam hal-hal kisah yang berkaitan tentang kehidupan para dewa dan para dewi dalam kayangan dilangit.Catatan peristiwa pada masa-masa terakhir barulah dilanjutkan dengan kisah sejarah[4].
C.    Peribadatan agama Shinto
Agama Shinto sangat mementingkan ritus-ritus dan memberikan nilai sangat tinggi terhadap ritus yang sangat mistis.Menurut agama Shinto watak manusia pada dasarnya adalah baik dan bersih.Adapun jelek dan kotor adalah pertumbuhan kedua, dan merupakan keadaan negatif yang harus dihilangkan melalui upacara pensucian (Harae).Karena itu agama Shinto sering dikatakan sebagai agama yang dimulai dengan dengan pensucian dan diakhiri dengan pensucian. Upacara pensucian (Harae) senantiasa dilakukan mendahului pelaksanaan upacara-upacara yang lain dalam agama Shinto. Ritus-ritus yang dilakukan dalam agama Shinto terutama adalah untuk memuja dewi Matahari (Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan kemakmuran dan kesejahteraan serta kemajuan dalam bidang pertanian (beras), yang dilakukan rakyat Jepang pada Bulan Juli dan Agustus di atas gunung Fujiyama[5].
D.    Pengaruh Shintoisme terhadap peribadi
Meskipun bagaimana pun juga suatu kepercayaan dipandang tidak benar oleh agama wahyu, bila telah terbentuk dalam pribadi seperti halnya dengan Shintoisme yang telah menjadi tradisi kebudayaan rakyat Jepang.Maka hal tersebut sulit bagi agama wahyu yang datang ke Jepang mengubahnya kearah panggilan kebenaran kewahyuan.Apalagi bila diingat bahwa Jepang adalah suatu bangsa yang sangat disiplin terhadap janji atau sumpah, maka kesetiaan terhadap agama, terhadap Negara, terhadap Kaisar dan terhadap tradisinya merupakan suatu kewajiban yang suci bagi mereka.
Dalam hubungan inilah seorang ahli sejarah Jepang, D.C. Holten menyatakan bahwa orang-orang Jepang dilahirkan dalam ajaran Shinto, kesetiaanya terhadap kepercayaan terhadap kepercayaan dan pengalaman ajaranya adalah menjadi kualifikasi pertama sebagai “ orang Jepang yang baik’. Meskipun ia memeluk agama universal seperti Budhisme atau Kristen, faham lama Shinto tetap merupakan pengaruh vital dan luas, yang secara fundametalisme faham lama tersebut membentuk pula mentalis dan tingkah laku serta memberikan paola dasar yang menjadi wadah dari segala sesuatu yang lain.
Untuk memperjelas ajaran Shintoisme ini perlu dikemukakan juga ajarannya tentang kesusilaan yang paling terhormat yang biasnya dilakukan para bangsawan atau para ksatria-ksatria Jepang sebagai berikut[6] :
a)      Keberanian dianggap sebagai suatu keutamaan yang pokok dan oleh karena itu keberanian sudah di didikan pada anak dalam masa-masa permulaan hidupnya, sikap mereka dalam keberanian dinyatakan dengan semboyan : “ keberanian yang benar untuk hidup, ialah bilamana hal itu benar untuk hidup, dan untu mati bilamana hal itu benar untuk mati”
b)      Sifat penakut dikutuk, karena sifat ini dipandang dosa. “ semua dosa besar dan kecil, dapat diampuni dengan melalui cara taubat, kecuali penakut dan pencuri”
c)      Loyalitas, yaitu setia, kesetiaan pertama kepada Kaisar, kemudian meluas kepada seluruh anggota keluarga Kaisar, pada masyarakat dan pada generasi yang akan datang.
d)     Kesucian dan kebersihan, adalah suatu hal yang sangat penting dalam Shintoisme. Oleh karena itu dalam faham ini terdapat upacara-upaca pensucian. Orang tidak suci adalah berdosa, oleh karena melawan dewa-dewa.
Atas pengaruh ajaran kebersihan atau kesucian ini, maka soal “mandi” termasuk perbuatan utama, sehingga dijadikan salah satu upacara keagamaan. Kamar atau tempat mandi dipandang sebagai tempat menarik hati bagi semua orang, sedangkan waktu mandi ditetapkan menjadi tradisi, misalnya 2 jam diwaktu sore anatara jam 17.00 dan 19.00 sebelum makan malam. Banyak terdapat uapaca-upacara ditetapkan dengan melalui pemandian[7].
E.     Upacara pemujaan
Upaca resmi dan bersifat menyeluruh bagi bangsa Jepang di pustakan di kui Ise, yang terletak pada pesisir tenggara Kyoto, bebas ibukota tua itu, bagi pemujaan Amaterasu Omi Kami (dewi matahari).
Tepatnya berada dikuil Naiku, kuil tua yang terletak pada bagian dalam dank anon dibangun pada tahun 4 SM, kuil itu sangat terpandang suci bagi pemujaan Dewi Matahari, sedangkan pada bagian luar terdapat kuil Geku bagi pemujaan Dewi Makanan, Dewi Ukemochi.
Seorang Shinto atau seorang Buddha di Jepang (kedua agama ini sangat terjalin erat dalam urusan kependudukan), merasa suatu kewajiban untuk sekali dalam seumur hidupnya pergi ziarah ketempat suci di Ise itu.
Pada setiapa hari kelahiran kaisar, seluruh lembaga pendidikan di Jepang, atas perintah resmi, melakukan uapacara yang kidmat dengan menundukan diri di depan gambar sang Kaisar.
Kaisar itu dipandang suatu syang sangat sakral, Kaisar tidak menampakan diri didepan umum.Dalam upacara-upacara tertentu, pada saat kendaraan Kaisar melintas di jalan besar, seorang yang boleh memandang dari atas kepala Kaisar dibawah.Segala jendela pada setiap tingkatan atas itu mesti ditutup rapat.
Akan tetapi sehabis perang dunia kedua, maka perubahan besar terjadi pada kekuasaan Kaisar yang absolut itu telah digantikan kekuasaan rakyat melalui sitem pemilihan umum, dan kaisar sudah ditempatkan pada lambang belaka, yang kini bukan lagi suatu yang sakral akan tetapi dipandang sebagai manusia biasa, yang saat ini sudah bias bergaul dengan masyarakat umum, sebuah keyakinan asazi dalam agama Shinto itu telah menghilang tempat untuk berpijak[8].
F.     Pengaruh Shintoisme Terhadap Peribadi
Meskipun bagaimana pun juga suatu kepercayaan dipandang tidak benar oleh agama wahyu, bila telah terbentuk dalam pribadi seperti halnya dengan Shintoisme yang telah menjadi tradisi kebudayaan rakyat Jepang.Maka hal tersebut sulit bagi agama wahyu yang datang ke Jepang mengubahnya kearah panggilan kebenaran kewahyuan.Apalagi bila diingat bahwa Jepang adalah suatu bangsa yang sangat disiplin terhadap janji atau sumpah, maka kesetiaan terhadap agama, terhadap Negara, terhadap Kaisar dan terhadap tradisinya merupakan suatu kewajiban yang suci bagi mereka.
Dalam hubungan inilah seorang ahli sejarah Jepang, D.C. Holten menyatakan bahwa orang-orang Jepang dilahirkan dalam ajaran Shinto, kesetiaanya terhadap kepercayaan terhadap kepercayaan dan pengalaman ajaranya adalah menjadi kualifikasi pertama sebagai “ orang Jepang yang baik’. Meskipun ia memeluk agama universal seperti Budhisme atau Kristen, faham lama Shinto tetap merupakan pengaruh vital dan luas, yang secara fundametalisme faham lama tersebut membentuk pula mentalis dan tingkah laku serta memberikan paola dasar yang menjadi wadah dari segala sesuatu yang lain.
Untuk memperjelas ajaran Shintoisme  ini perlu dikemukakan juga ajarannya tentang kesusilaan yang paling terhormat yang biasnya dilakukan para bangsawan atau para ksatria-ksatria Jepang sebagai berikut :
a)      Keberanian dianggap sebagai suatu keutamaan yang pokok dan oleh karena itu keberanian sudah di didikan pada anak dalam masa-masa permulaan hidupnya, sikap mereka dalam keberanian dinyatakan dengan semboyan : “ keberanian yang benar untuk hidup, ialah bilamana hal itu benar untuk hidup, dan untu mati bilamana hal itu benar untuk mati”
b)      Sifat penakut dikutuk, karena sifat ini dipandang dosa. “ semua dosa besar dan kecil, dapat diampuni dengan melalui cara taubat, kecuali penakut dan pencuri”
c)      Loyalitas, yaitu setia, kesetiaan pertama kepada Kaisar, kemudian meluas kepada seluruh anggota keluarga Kaisar, pada masyarakat dan pada generasi yang akan datang.
d)     Kesucian dan kebersihan, adalah suatu hal yang sangat penting dalam Shintoisme. Oleh karena itu dalam faham ini terdapat upacara-upaca pensucian. Orang tidak suci adalah berdosa, oleh karena melawan dewa-dewa.
Atas pengaruh ajaran kebersihan atau kesucian ini, maka soal “mandi” termasuk perbuatan utama, sehingga dijadikan salah satu upacara keagamaan. Kamar atau tempat mandi dipandang sebagai tempat menarik hati bagi semua orang, sedangkan waktu mandi ditetapkan menjadi tradisi, misalnya 2 jam diwaktu sore anatara jam 17.00 dan 19.00 sebelum makan malam. Banyak terdapat uapaca-upacara ditetapkan dengan melalui pemandian.

KESIMPULAN
Dari uraian-uraian yang sudah dikemukakan diatas tampak bahwa agama rakyat merupakan sistem kepercayaan dan peribadatan yang benar-benar hidup di kalangan rakyat Jepang dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan mereka seperti yang terlihat dalam kegiatan-kegiatan keluarga, rukun tetangga dan hari-hari libur nasional Jepang.Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap kepercayaan tradisional Jepang dan tempat agama rakyat, dalam kehidupan masyarakat Jepang modern yang termuat dalam laporan hasil penelitian yang diberi judul Nihonjin-no-kokuminsei (sifat nasional Jepang), maka pemujaan terhadap arwah nenek moyang menempati kedudukan utama dalam kehidupan masyarakat Jepang (77% diantaranya 2.254 orang yang tersebar di seluruh negeri Jepang).Di samping itu rangkaian upacara dan perayaan tahunan masih tetap memainkan peranan penting dalam agama rakyat, terutama dalam lingkungan masyarakat pertanian yang umumnya terdapat dalam agama rakyat fungsinya sudah jauh berkurang, namun berbagai rangkaian kegiatan yang sepanjang tahun menjadi salah satu diantara ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama yang sudah melembaga seperti agama Shinto[9].
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Muhammad, H, Prof, M.Ed, Mengguak Misteri Ajaran Agama-Agama Besar, GT. Press, Jakarta.
Huston Smith, Agama-agama manusia, Yayasan Obor Indonesia; Jakarta, cet ke-6, 2001.
Sou’yb. Joesoef.Agama-agama besar di dunia.PT. Al-Huzna Zikra. Jakarta, cet. Ke-3 1996





[1]William L. Langer di dalam Encyclopedia ofworldhistory edisi 1956 halaman 138-137
[2] Joesoef Sou’yb. Agama-agama besar di dunia.Hal. 207
[3] Prof. H.M. Arifin. M.Fd. Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar.Hal. 47
[4] Joesoef Sou’yb. Agama-agama besar di dunia.Hal. 212
[5]Huston Smith, Agama-agama manusia, Yayasan Obor Indonesia Hal.
[6] Prof. H.M. Arifin. M.Fd. Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar.Hal. 53
[7]Ibid 53
[8] Joesoef Sou’yb. Agama-agama besar di dunia.Hal. 213
[9] Prof. H.M. Arifin. M.Fd. Menguak Misteri Ajaran Agama-agama Besar.Hal. 55

Sumber : Makalah Khoirul Fatihin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar