AGAMA BAHA’I
Sejarah dan Perkembangan
Ajaran dan Praktek Keagamaan
Ajaran dan Praktek Keagamaan
MAKALAH INI DISUSUN UNTUK
MEMENUHI TUGAS MINGGUAN, MATAKULIAH AGAMA-AGAMA MINOR.
Dosen :
Disusun oleh: Muhammad Ihsan
Sukardi
Sejarah Agama Baha’i
Sejarah Iran
Iran berbatasan dengan Azerbaijan (panjang perbatasan: 432 km) dan Armenia (35 km) di barat laut, Laut Kaspia di utara, Turkmenistan (992 km) di timur laut, Pakistan (909 km)
dan Afganistan (936 km) di timur, Turki (499 km)
dan Irak (1.458 km)
di barat, dan akhirnya Teluk Persia dan Teluk Oman di selatan. Luas tanah total adalah 1.648.000 km²
(daratan: 1.636.000 km², perairan: 12.000 km²).
Lansekap Iran didominasi oleh barisan gunung yang kasar
yang memisahkan basin drainage atau dataran tinggi yang beragam. Bagian barat yang memiliki populasi
terbanyak adalah bagian yang paling bergunung, dengan barisan seperti Pegunungan Kaukasus, Pegunungan Zagros dan Alborz, yang terakhir merupakan tempat titik tertinggi Iran, Gunung Damavand pada 5.604 m. Sebelah timur terdiri dari gurun di dataran rendah yang tak dihuni seperti Dasht-e Kavir yang asin, dengan danau garam yang kadang
muncul.
Ladang lapang luas ditemukan di sepanjang pesisir Laut Kaspia dan di ujung utara Teluk Persia, di mana Iran berbatasan dengan sungai Arvand (Shatt al-Arab). Plain yang lebih kecil dan terputus ditemukan di
sepanjang pesisir Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Laut Oman. Iklim Iran kebanyakan kering atau
setengah kering, meskipun ada yang subtropis sepanjang
pesisir Kaspia. Iran dianggap sebagai salah satu dari 15 negara yang membentuk
apa yang disebut sebagai tempat lahirnya kebudayaan manusia.
Iklim
Lanskap Iran memiliki beberapa iklim yang
berbeda. Di sisi utara negeri itu (dataran pesisir Kaspia) suhu amat rendah
membekukan dan tetap lembap selama beberapa tahun terakhir. Suhu musim panas
jarang mencapai 29 °C. Penguapan tahunan adalah 680 mm di bagian timur
dataran dan lebih dari 1700 mm di sisi barat dataran. Di barat, permukiman-permukiman di lereng Pegunungan Zagros mengalami rendahnya
suhu. Daerah-daerah itu memiliki musim dingin yang hebat, dengan rerata suhu
harian membekukan dan curah saljunya keras. Lembah timur dan tengahnya kering,
yang curah hujannya kurang dari 200 mm dan bergurun. Suhu musim panas rata-rata
melebihi 38 °C. Dataran pesisir Teluk Persia dan Teluk Oman di Iran
selatan memiliki musim dingin yang sejuk dan mengalami musim panas yang lembap
dan panas. Penguapan tahunan berkisar dari 135 mm hingga 355 mm.
Ekonomi
Ekonomi Iran adalah campuran Ekonomi Perencanaan Sentral dengan sumber minyak dan perusahaan-perusahaan utamanya dimiliki pemerintahan, dan juga terdapat beberapa perusahaan swasta. Pertumbuhan ekonomi Iran stabil semenjak dua abad yang lalu.
Pada awal abad ke-21, persenan sektor jasa dalam
pengeluaran negara kasarnya, PNK, adalah yang tertinggi, diikuti dengan
pertambangan dan pertanian. 45% belanja negara adalah hasil pertambangan minyak
dan gas alam, dan 31% dari cukai. Pada 2004, PNK Iran diperkirakan sebanyak
$163 milyar atau $2.440 per kapita.
Rekan dagang Iran adalah Cina, Rusia, Jerman, Perancis, Italia, Jepang dan Korea Selatan. Sementara itu, semenjak lewat 90-an, Iran mulai
meningkatkan kerjasama ekonomi dengan beberapa negara berkembang termasuk Suriah, India dan Afrika Selatan.
Komunikasi dan pengangkutan
Peta menunjukkan jalan raya dan jalan kereta api utama di Iran.
Jaringan jalan raya di Iran adalah salah satu yang
terbaik di dunia, dan menghubungkan kota-kota utama dan kawasan-kawasan luar
kota. Pada 2002, Iran mempunyai 178.152 km jalan raya dan 66% beraspal.
Sementara itu terdapat 30 pengguna kereta bagi setiap 1000 penduduknya. Jalan
KA di Iran sepanjang 6.405 km (3.980 mil). Pelabuhan utama Iran ialah pelabuhan
Bandar Abbas yang terletak di Selat Hormuz. Pelabuhan ini dihubungkan dengan sistem jalan raya
dan jalan kereta api untuk pengangkutan kargo. Jaringan kereta api
Tehran-Bandar Abbas dibangun pada 1995 yang menghubungkan Bandar Abbas dengan
seluruh Iran dan Asia Tengah melewati Tehran dan Mashad. Pelabuhan-pelabuhan
lain ialah pelabuhan Bandar Anzali di Laut Kaspia, pelabuhan Bandar Turkmen juga
berhadapan dengan Laut Kaspia, dan pelabuhan korramshahr dan pelabuhan Bandar
Khomeyni di Teluk Parsi. Kota-kota
utama di Iran juga dihubungkan dengan Pengangkutan Udara. Iran Air adalah
maskapai penerbangan kebangsaan Iran yang bertanggung jawab dalam pengangkutan
udara di Iran dan luar Iran. Sistem transit pula terdapat di semua
bandar-bandar utama sedangkan Tehran, Mashad, Shiraz, Tabriz, Ahwaz dan Isfahan sedang
dalam proses membangun jalan kereta api bawah tanah.
Pembagian administrasi
Iran terbagi atas tiga puluh provinsi yang
diperintah seorang gubernur (استاندار, ostāndār).
Peta di sebelah tidak menunjukkan provinsi Hormozgan, (#20 di
dalam daftar) yang merupakan sebuah pulau:
|
|
|
Iran adalah sebuah negara yang berbilang suku dan
agama. Etnik mayoritas ialah etnik Persia (51% dari
rakyatnya,) dan 70% rakyatnya adalah bangsa Iran, keturunan orang Arya. Kebanyakan
penduduk Iran bertutur dalam bahasa yang tergolong dalam keluarga Bahasa Iran, termasuk bahasa Persia. Kumpulan minoritas Iran ialah Azeri (24%), Gilaki dan Mazandarani (8%), Kurdi (7%), Arab (3%), Baluchi (2%) Lur (2%) Turkmen (2%), dan
juga suku-suku lain (1%). Penutur ibu Bahasa Iran
diperkirakan sebanyak 40 juta di Iran, dan jumlah keseluruhannya (merangkumi
negara-negara lain) adalah 150-200 juta.
Penduduk Iran pada tahun 2006 ialah 70 juta. Sebanyak
dua pertiga jumlah penduduknya di bawah umur 30 tahun dan persenan penduduk
yang melek huruf 86%. Tingkat pertambahan penduduknya semenjak setengah abad
yang lalu tinggi dan diperkirakan akan menurun di masa depan.
Kebanyakan penduduk Iran adalah muslim, di mana
90% Syiah dan 8% Sunnah Wal Jamaah. 2% lagi
adalah penganut agama Baha'i, Mandea, Hindu, Zoroastrianisme, Yahudi dan Kristen. Zoroastrianisme, Yahudi dan Kristian diakui oleh
pemerintah Iran dan turut mempunyai perwakilan di parlemen. Agama Baha'i tidak diakui.
Kota-kota utama
Iran mempunyai tingkat pertumbuhan penduduk di kawasan
kota tertinggi di dunia. Dari tahun 1950 hingga tahun 2002, persenan penduduk
kota meningkat dari 27% hingga 60%[1][2]. PBB
memperkirakan pada tahun 2030, populasi di kota akan mencapai 80% dari jumlah
keseluruhan penduduk Iran[2]. Tumpuan
migrasi dalam negeri pula ialah Teheran yang
merupakan kota terbesar di Iran. Teheran mempunyai penduduk sebanyak 7.160.094
dan kawasan metropolisnya pula sebanyak 14 juta. Kebanyakan industri Iran bertumpu
di kota ini. Di antaranya ialah industri otomobil, elektronik dan listrik,
pembuatan senjata api, tekstil, dan industri kimia. Berikut adalah 8 kota
terbesar Iran beserta jumlah penduduknya.
I.
Sejarah Agama Baha’i
Agama Bahá’í dimulai di Iran pada abad 19. Pendirinya
bernama Bahá’u’lláh. Pada awal
abad kedua puluh satu, jumlah penganut Bahá’í sekitar enam juta orang yang
berdiam di lebih dari dua ratus negeri di seluruh dunia.
Dalam ajaran Bahá’í, sejarah keagamaan dipandang
sebagai suatu proses pendidikan bagi umat manusia melalui para utusan Tuhan, yang
disebut para "Perwujudan Tuhan". Bahá’u’lláh dianggap sebagai
Perwujudan Tuhan yang terbaru. Dia mengaku sebagai pendidik Ilahi yang telah
dijanjikan bagi semua umat dan yang dinubuatkan dalam agama Kristen, Islam, Buddha, dan
agama-agama lainnya. Dia menyatakan bahwa misinya adalah untuk meletakkan
pondasi bagi persatuan seluruh dunia, serta memulai suatu zaman perdamaian dan
keadilan, yang dipercayai umat Bahá’í pasti akan datang.
Mendasari ajaran Bahá’í adalah asas-asas keesaan
Tuhan, kesatuan agama, dan persatuan umat manusia.
Pengaruh dari asas-asas hakiki ini dapat dilihat pada semua ajaran kerohanian
dan sosial lainnya dalam agama Bahá’í. Misalnya, orang-orang Bahá’í tidak
menganggap "persatuan" sebagai suatu tujuan akhir yang hanya akan
dicapai setelah banyak masalah lainnya diselesaikan lebih dahulu, tetapi
sebaliknya mereka memandang persatuan sebagai langkah pertama untuk memecahkan
masalah-masalah itu. Hal ini tampak dalam ajaran sosial Bahá’í yang
menganjurkan agar semua masalah masyarakat diselesaikan melalui proses musyawarah.
Sebagaimana dinyatakan Bahá’u’lláh: "Begitu kuatnya cahaya persatuan,
sehingga dapat menerangi seluruh bumi." Iman Baha'i adalah agama Abrahamik.
I.1 Báb
Pada tahun 1844 Sayyid ‘Alí Muhammad dari Shíráz, Iran, yang lebih
dikenal dengan gelarnya Sang Báb (artinya “Pintu” dalam bahasa Arab),
mengumumkan bahwa dia adalah pembawa amanat baru dari Tuhan. Dia juga
menyatakan bahwa dia datang untuk membuka jalan bagi wahyu yang lebih besar
lagi, yang disebutnya “Dia yang akan Tuhan wujudkan”. Antara lain, Sang Báb
mengajarkan bahwa banyak tanda dan peristiwa yang ada dalam Kitab-kitab suci
harus dimengerti dalam arti kias, bukan arti harfiah. Dia
melarang perbudakan, juga melarang perkawinan sementara, yang pada waktu itu
merupakan praktek SyiahIran.
Agama Báb tumbuh dengan pesat di semua kalangan di
Iran, tetapi juga dilawan dengan keras, baik oleh pemerintah maupun para
pemimpin agama. Sang Báb dipenjarakan di benteng Máh-Kú di
pegunungan Azerbijan, di mana
semua penduduk bersuku bangsa Kurdi, yang dikira membenci orang Syiah; tetapi
tindakan itu tidak berhasil memadamkan api agamanya, dan mereka pun menjadi
sangat ramah terhadap Sang Báb. Kemudian dia dipenjarakan di benteng Chihríq yang lebih
terpencil lagi, tetapi itu juga tidak berhasil mengurangi pengaruhnya. Pada
tahun 1850 Sang Báb dihukum mati dan dieksekusi di kota Tabríz. Jenazahnya diambil
oleh para pengikutnya secara diam-diam, dan akhirnya dibawa dari Iran ke Bukit Karmel di Palestina (sekarang Israel) dan
dikuburkan di suatu tempat yang ditentukan oleh Bahá’u’lláh. Makam Sang
Báb kini menjadi tempat berziarah yang penting bagi umat Bahá’í.
I.2 Bahá’u’lláh
Antara tahun 1848 dan 1852, lebih dari 20.000 penganut agama
Báb telah dibunuh, termasuk hampir semua pemimpinnya. Mírzá Husayn ‘Alí yang
lebih dikenal dengan gelarnya Bahá’u’lláh (artinya “Kemuliaan Tuhan” dalam
bahasa Arab) adalah seorang bangsawan Iran yang menjadi pendukung utama Sang
Báb. Pada tahun 1852, ketika Bahá’u’lláh ditahan di penjara bawah tanah
Síyáh-Chál (“lubang hitam”) di kota Teheran, dia menerima permulaan dari misi
Ilahinya sebagai “Dia yang akan Tuhan wujudkan” sebagaimana telah diramalkan
oleh Sang Báb. Bahá’u’lláh menceritakannya sebagai berikut: “Suatu malam dalam
mimpi, firman-firman yang luhur ini terdengar dari segenap penjuru:
‘Sesungguhnya, Kami akan memenangkan-Mu melalui Diri-Mu serta pena-Mu. Janganlah
Engkau bersedih hati atas apa yang telah menimpa-Mu, dan janganlah takut pula,
sebab Engkau ada dalam keadaan selamat. Tak lama lagi, Tuhan akan membangkitkan
harta-harta bumi, orang-orang yang akan membantu-Mu melalui Diri-Mu dan melalui
Nama-Mu, dengan mana Tuhan telah menghidupkan kembali hati mereka yang mengenal
Dia.’”
Bahá’u’lláh dibebaskan dari Síyáh-Chál, tetapi dia
diasingkan dari Iran ke Baghdad, ‘Iráq. Pada awalnya, Bahá’u’lláh tidak mengumumkan misinya kepada para
penganut agama Báb lainnya di ‘Iráq, yang berada dalam keadaan sangat kacau dan
hina. Dia mulai mendidik dan menghidupkan kembali umat itu melalui tulisannya
dan teladannya, dan beberapa Kitab suci Bahá’í yang penting berasal dari masa
Baghdad ini, seperti Kalimat Tersembunyi, Tujuh Lembah, dan Kitáb-i-Íqán
(“Kitab Keyakinan”). Pada tahun 1863, di sebuah taman yang diberi nama Taman
Ridwán, Bahá’u’lláh mengumumkan misinya kepada para pengikut Báb yang berada di
Baghdad, dan sejak itu agama ini dikenal sebagai agama Bahá’í.
Segera setelah pengumuman itu, Bahá’u’lláh diminta
oleh pemerintahan Turki untuk pindah ke Konstantinopel (Istanbul), dan dari
sana ke kota Adrianopel (Edirne). Di
Adrianopel Bahá’u’lláh mulai mengirimkan “Loh-loh” kepada berbagai raja dan
pemimpin dunia, yang mengumumkan kepada mereka kedatangan Hari Tuhan dan
menyerukan agar mereka berdamai. Misalnya, salah satu loh yang ditujukan kepada
para raja secara kolektif, berbunyi: “Wahai raja-raja di bumi! Kami melihat
engkau setiap tahun meningkatkan pengeluaranmu, dan membebankannya pada
rakyatmu. Ini sesungguhnya, sama sekali dan jelas tidak adil.…Rakyatmu adalah
hartamu…jangan sampai engkau menyerahkan rakyatmu ke tangan perampok.…Wahai
para penguasa di bumi! Berdamailah di antaramu sendiri, sehingga engkau tidak
lagi memerlukan persenjataan, kecuali apa yang dibutuhkan untuk menjaga
wilayah-wilayah…dalam kekuasaanmu.…Wahai raja-raja di bumi! Bersatulah, karena
dengan demikianlah prahara perselisihan akan berakhir di antaramu, dan rakyatmu
akan memperoleh ketenangan…”
Pada tahun 1868, Bahá’u’lláh diasingkan ke kota
‘Akká di Palestina (sekarang Israel), yang pada
waktu itu dipakai sebagai penjara oleh kekaisaran Usmani. Pada
awalnya, Bahá’u’lláh dipenjarakan di barak di ‘Akká, tetapi dengan berlalunya
waktu kondisi hidupnya semakin membaik, walaupun secara resmi dia masih seorang
pesakitan. Kitab suci yang
mengandung kebanyakan hukum Bahá’í, Kitáb-i-Aqdas (“Kitab Tersuci”),
diturunkan di ‘Akká. Pada tahun 1892, Bahá’u’lláh wafat di Bahjí dekat
‘Akká, tempat yang menjadi Qiblat agama Bahá’í.
I.3 ‘Abdu’l-Bahá
Dalam Kitáb-i-‘Ahd, surat wasiatnya,
Bahá’u’lláh telah menunjuk putranya, ‘Abdu’l-Bahá sebagai pemimpin agamanya dan
Penafsir tulisannya. Hal itu menjamin agar agama Bahá’í tidak mengalami
perpecahan.
‘Abdu’l-Bahá telah mengalami pembuangan dan
pemenjaraan yang panjang bersama ayahnya. Setelah dia dibebaskan sebagai akibat
dari “Revolusi Pemuda Turki” (pada tahun 1908), dia mengadakan suatu perjalanan
besar selama tahun 1910-1913 ke Mesir, Inggris, Skotlandia, Perancis, Amerika Serikat, Jerman, Austria, dan Hungaria, di mana
dia mengumumkan prinsip-prinsip ajaran Bahá’í. ‘Abdu’l-Bahá juga mengirimkan
ribuan surat ke masyarakat-masyarakat Bahá’í setempat di Iran, dengan akibat
umat itu yang dahulu miskin dan hina menjadi berpendidikan dan mandiri.
‘Abdu’l-Bahá wafat di Haifa pada tahun 1921, dan kini dikuburkan di salah satu
ruang dari Makam Sang Báb.
I.4 Shoghi
Effendi dan Balai Keadilan Sedunia
Dalam Surat Wasiat ‘Abdu’l-Bahá, cucunya, Shoghi Effendi ditunjuk
sebagai “Wali Agama Tuhan”. Selama masa hidupnya, Shoghi Effendi menterjemahkan
banyak tulisan suci Bahá’í, melaksanakan berbagai rencana global untuk
pengembangan masyarakat Bahá’í, mengembangkan Pusat Bahá’í Sedunia, melakukan
surat-menyurat dengan banyak masyarakat dan individu Bahá’í di seluruh dunia,
dan membangun struktur administrasi Bahá’í yang mempersiapkan jalan untuk
didirikannya Balai Keadilan Sedunia. Shoghi Effendi meninggal pada tahun 1957.
Menurut Kitáb-i-Aqdas, urusan
masyarakat Bahá’í setempat dan nasional harus ditangani oleh badan-badan
musyawarah yang sekarang dinamakan “Majelis Rohani”, yang terdiri dari sembilan
anggota yang dipilih secara demokratis. Pada tingkat internasional, Kitáb-i-Aqdas
menetapkan sebuah lembaga yang dinamakan “Balai Keadilan Sedunia”, yang dipilih
oleh para anggota Majelis-majelis Rohani Nasional di seluruh dunia. Balai
Keadilan Sedunia telah dipilih untuk pertama kalinya pada tahun 1963, dan sejak
itu dipilih tiap lima tahun sekali. Selain berlaku sebagai pemimpin agama
Bahá’í, Balai Keadilan Sedunia diberi fungsi khusus oleh Bahá’u’lláh untuk
membuat hukum-hukum yang tidak ditetapkan dalam Kitáb-i-Aqdas; aspek ini
dianggap penting karena memberi agama Bahá’í fleksibilitas untuk menghadapi
perubahan zaman tanpa kehilangan persatuannya.
II.
Ajaran Agama
Baha’i
KeTuhanan
Para penganut agama Bahá’í beriman kepada Tuhan Yang Esa,
dan Bahá’u’lláh menegaskan bahwa semua percobaan untuk memahami atau
mengisyaratkan Realitas Ilahi dalam pernyataan mana pun, tidak lain hanyalah
penipuan diri: "Bagi mereka yang berilmu dan hatinya diterangi, telah
terbukti bahwa Tuhan, Hakikat yang tak dapat diketahui, Keberadaan Suci,
sangatlah dimuliakan melebihi segala sifat manusia, seperti keberadaan jasmani,
naik dan turun, maju dan mundur. Jauhlah dari kemuliaan-Nya bahwa lidah manusia
dapat mengatakan pujian yang cukup bagi-Nya, atau hati manusia memahami
rahasia-Nya yang tak terkira." Menurut ajaran Bahá’í, alat yang dipakai
oleh Pencipta segala makhluk untuk berinteraksi dengan ciptaan-Nya yang terus
berevolusi adalah munculnya Sosok-sosok kerasulan yang mewujudkan sifat-sifat dari
Ketuhanan Yang tak dapat dijangkau itu: "Oleh karena pintu pengetahuan
Sang Purba ditutup sedemikian rupa di depan wajah semua makhluk, maka Sumber
kemuliaan yang tak terhingga … telah menyebabkan para Permata Kesucian muncul
dari alam rohani, dalam bentuk mulia badan manusia dan dijelmakan kepada
seluruh umat manusia, agar mereka membagikan rahasia Tuhan … kepada dunia, dan
mengabarkan tentang kehalusan Hakikat-Nya yang kekal." Menurut
Bahá’u’lláh, apa yang dimaksud dengan "mengenal Tuhan", adalah
mengenal para Perwujudan yang menyatakan kehendak-Nya dan sifat-sifat-Nya, dan
justru di sinilah jiwa menjadi akrab dengan Pencipta Yang melebihi bahasa
maupun pemahaman.
Agama Bahá’í menganggap para "Perwujudan
Tuhan" itu, yang telah menjadi pendiri agama-agama besar di dunia, sebagai
wakil Tuhan di bumi dan pembimbing utama umat manusia. Menurut
ajaran Bahá’u’lláh, semua perbedaan dan pembatasan yang berkaitan dengan wahyu mereka
masing-masing telah ditentukan oleh Tuhan sesuai dengan kebutuhan misinya. Oleh
karena itu, orang-orang Bahá’í tidak meninggikan salah satu Perwujudan di atas
yang lainnya, tetapi menganggap, dalam kata-kata Bahá’u’lláh, bahwa mereka
semua "berdiam dalam kemah yang sama, membubung di langit yang sama, duduk
di atas takhta yang sama, mengucapkan sabda yang sama, serta mengumumkan Agama
yang sama".
Agama
Menurut Bahá’u’lláh: "Agama merupakan
sarana terbesar untuk menciptakan tata tertib di dunia dan kebahagiaan yang
sentosa bagi semua yang berdiam di dalamnya.” Mengenai kemunduran atau
penyelewengan agama, dia menulis: "Jika lampu agama meredup, maka
keributan dan kekacauan akan terjadi, cahaya-cahaya kejujuran, keadilan, ketenangan
dan kedamaian, akan berhenti bersinar.” Jadi, peran agama dinilai sangat
penting. Sebagaimana telah ditulis oleh Bahá’u’lláh: “Agama Tuhan adalah untuk
kasih dan persatuan; janganlah membuatnya penyebab kebencian dan perselisihan.”
Dalam pandangan Bahá’í, agama memiliki dua aspek,
yaitu aspek hakiki dan aspek sementara. Aspek hakiki adalah ajaran-ajaran
kerohanian yang tidak berubah, sedangkan aspek sementara adalah
peraturan-peraturan yang diberikan sesuai dengan keperluan zamannya. Tulisan
Bahá’í mengumpamakan para Perwujudan Tuhan dengan seorang dokter, yang tugasnya
adalah “menyembuhkan umat manusia yang terpecah-belah dari penyakitnya.” Obat
yang diberikan pada suatu zaman tidak akan sama dengan obat yang diberikan pada zaman
berikutnya. Oleh karena itu, agama-agama besar di dunia tampaknya berbeda-beda.
Tapi sebenarnya, menurut ajaran Bahá’í, semua agama itu tunggal dan berasal
dari Sumber yang sama.
Menurut ajaran Bahá’í, agama Tuhan sesuai dengan ilmu pengetahuan.
Kepercayaan yang tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan bukanlah iman tetapi
ketakhayulan belaka.
Manusia
Ajaran sosial yang
terpenting dari agama Bahá’í adalah kesatuan umat manusia dan persatuan dunia.
Dalam kata-kata Bahá’u’lláh: “Kemah kesatuan telah ditegakkan; janganlah engkau
memandang satu sama lain sebagai orang asing. Engkau adalah buah-buah dari satu
pohon dan daun-daun dari satu dahan.” “Bumi hanyalah satu tanah air dan umat
manusia warganya.” Pada tingkat individu dan masyarakat, orang-orang Bahá’í
dianjurkan untuk menghapus segala macam prasangka buruk yang berdasarkan ras,
agama, atau kelas sosial. Dan sebagai umat beragama, orang-orang Bahá’í
didorong untuk berasosiasi dan bekerja bersama dengan semua agama lainnya. Kata
Bahá’u’lláh: “Bergaullah dengan para pengikut semua agama dengan penuh
keramah-tamahan dan persahabatan.”
Pada tingkat global, Bahá’u’lláh telah memberikan
beberapa ajaran berkaitan dengan masalah perdamaian internasional. Dia menyeru
kepada para pemimpin dunia agar mengadakan suatu pertemuan akbar yang akan
melahirkan dasar dari hukum internasional yang dapat menyelesaikan
masalah-masalah antarnegara. Dia menganjurkan prinsip keamanan kolektif pada
skala sedunia: “Saatnya pasti tiba, tatkala semua orang menyadari kebutuhan
yang sangat penting untuk mengadakan pertemuan besar yang mencakup seluruh umat
manusia. Para penguasa dan raja-raja di dunia harus menghadirinya, dan
mereka—dengan berpartisipasi dalam musyawarahnya—harus mempertimbangkan
cara-cara dan sarana-sarana untuk meletakkan dasar Perdamaian Agung sedunia di
antara sesama manusia. Perdamaian semacam itu menuntut agar negara-negara yang
paling besar dan berkuasa bertekad untuk mewujudkan kerukunan sepenuhnya di
antara mereka sendiri demi ketenteraman semua bangsa di dunia. Seandainya ada
seorang raja mengangkat senjata melawan raja yang lain, maka semua harus
bangkit dan mencegahnya bersama-sama. Jika hal ini dilakukan, negara-negara di
dunia tak akan lagi memerlukan persenjataan, kecuali untuk tujuan menjaga
keamanan dan memelihara ketertiban dalam negeri di wilayah mereka
masing-masing.”
Agama Bahá’í mengajarkan persamaan hak kaum wanita
dengan kaum pria. Tulisan Bahá’í menyatakan: “Dunia kemanusiaan memiliki dua
sayap—yang satu kaum wanita dan yang satu lagi kaum pria. Burung itu tidak
dapat terbang sebelum kedua sayapnya itu berkembang ke tingkat yang sama.”
Kemajuan kaum wanita juga dianggap sebagai prasyarat bagi tercapainya
perdamaian dunia.
Salah satu
ajaran yang diberi tekanan khusus dalam agama Bahá’í adalah pendidikan.
Bahá’u’lláh berkata: “Anggaplah manusia sebagai tambang yang kaya dengan
permata-permata yang tak ternilai harganya. Hanya pendidikanlah yang dapat
menampakkan kekayaannya itu dan memungkinkan umat manusia mendapatkan
keuntungan darinya.” Pendidikan universal adalah asas Bahá’í dan semua keluarga
Bahá’í dianjurkan untuk mendidik anak-anaknya. Dan apabila dalam suatu keluarga
dana tidak tersedia untuk mendidik semua anak, maka diusulkan agar prioritas
diberikan kepada anak perempuan, karena anak perempuanlah yang kelak akan
menjadi ibu, dan ibu adalah pendidik pertama dari generasi baru.
Asas-asas sosial
Dari banyak
ajaran Bahá’í, dua belas asas yang bersifat sosial berikut ini paling sering
dikutip:
- Keesaan
Tuhan
- Kesatuan
agama
- Persatuan
umat manusia
- Persamaan
hak antara kaum wanita dan kaum pria
- Penghapusan
segala macam prasangka buruk
- Perdamaian
dunia
- Persesuaian
antara agama dan ilmu pengetahuan
- Mencari
kebenaran secara bebas
- Keperluan
untuk pendidikan universal yang
wajib
- Keperluan
untuk bahasa persatuan sedunia
- Tidak
boleh campur tangan dalam politik
- Penghapusan
kemiskinan dan kekayaan yang berlebih-lebihan
Hukum Bahá’í
Kebanyakan
hukum Bahá’í terdapat dalam Kitáb-i-Aqdas tetapi hukum-hukum itu akan
diterapkan secara bertahap sesuai dengan keadaan masyarakat. Beberapa hukum
Bahá’í yang sudah berlaku secara umum adalah yang berikut ini:
- Sembahyang
wajib Bahá’í.
- Membaca
tulisan suci tiap hari.
- Dilarang
bergunjing dan memfitnah.
- Menjalankan
puasa Bahá’í tiap tahun.
- Minuman
beralkohol dan obat bius dilarang, kecuali untuk perawatan medis.
- Hubungan
seksual diperbolehkan, tetapi hubungan homoseksual tidak diperbolehkan.
- Dilarang
berjudi.
Dalam ajaran
Bahá’í, memisahkan diri dari dunia tidak diperbolehkan, tetapi sebaliknya
manusia harus bekerja. Melakukan pekerjaan yang berguna dianggap beribadah.
Perkawinan
Perkawinan
Bahá’í adalah bersatunya seorang laki-laki dengan
seorang perempuan. Tujuannya terutama bersifat rohani dan adalah
demi keselarasan, persahabatan, dan persatuan pasangan itu. Ajaran Bahá’í
menyebutkan perkawinan sebagai benteng kesejahteraan dan keselamatan dan
menempatkan lembaga keluarga sebagai pondasi struktur masyarakatmanusia.
Bahá’u’lláh sangat memuji lembaga perkawinan dan menyatakannya sebagai perintah
abadi Tuhan. Perceraian diperbolehkan, tetapi hanya setelah pasangan tinggal satu
tahun terpisah, sambil mencoba menyelesaikan perselisihannya.
Dua orang
Bahá’í yang ingin menikah harus saling mempelajari karakter mereka dan saling
mengenal sebelum mengambil keputusan untuk menikah, dan ketika mereka menikah,
maksud mereka harus untuk membuat suatu ikatan yang kekal. Orang tua tidak
boleh memilih jodoh bagi anak-anak mereka, tetapi begitu dua orang memutuskan
untuk menikah, pasangan itu wajib mendapatkan persetujuan dari semua orang tua,
meskipun salah seorang dari pasangan itu tidak beragama Bahá’í. Upacara Bahá’í
sangat sederhana; satu-satunya kewajiban adalah pembacaan ayat dari Kitáb-i-Aqdas
yang berikut ini, oleh mempelai pria dan mempelai wanita, di depan dua orang
saksi: "Kita semua, sesungguhnya, tunduk akan Kehendak Tuhan."
Administrasi
Kalender
Bahá’í berdasarkan kalender yang telah
ditetapkan Sang Báb. Satu tahun terdiri dari 19 bulan yang masing-masing terdiri dari 19 hari, ditambah 4
atau 5 hari sisipan yang membuatnya satu tahun matahari penuh. Tahun Baru
Bahá’í, yang namanya “Naw-Rúz”, sama dengan Tahun Baru tradisional Iran, yang jatuh
pada ekuinoks tanggal 21 Maret, pada akhir
bulan puasa Bahá’í.
Urusan
masyarakat setempat ditangani oleh Majelis Rohani Setempat, yang dipilih tiap
tahun oleh para mukmin. Pemilihan itu harus dilakukan tanpa nominasi, partai,
atau kampanye pada kenyataannya, semua orang dewasa adalah calon—dan dalam suasana penuh
doa dan meditasi. Pada awal tiap bulan Bahá’í, ada pertemuan seluruh masyarakat
setempat yang namanya “selamatan sembilan belas hari”. Di samping bertujuan
berdoa bersama dan sosial, selamatan sembilan belas hari itu memberikan
kesempatan kepada masyarakat untuk berinteraksi dengan Majelis Rohani Setempat,
untuk mengajukan usulan dan bermusyawarah bersama.
Majelis
Rohani Nasional juga dipilih tiap tahun dengan cara yang sama, tetapi melalui
dua tahap, yaitu para mukmin di seluruh negeri memilih wakil-wakil yang
kemudian memilih para anggota Majelis Rohani Nasional. Sebagaimana telah
disebutkan, para anggota Majelis-majelis Rohani Nasional di seluruh dunia
memilih Balai Keadilan Sedunia tiap lima tahun.
Di samping
badan-badan musyawarah itu, ada pula beberapa individu yang ditunjuk untuk
waktu tertentu, yang mendidik dan membantu masyarakat Bahá’í, terutama dalam
hal pengembangan dan perlindungan agama. Tetapi individu-individu ini bukannya
berfungsi sebagai pendeta, yang tidak ada dalam agama Bahá’í.
Rumah ibadah
Rumah ibadah
Bahá’í dinamakan “Mashriqu’l-Adhkár”
(“Tempat-terbit pujian kepada Tuhan”), yakni tempat untuk berdoa,
meditasi dan melantunkan ayat-ayat suci Bahá’í dan agama-agama lain. Rumah
ibadah Bahá’í ini terbuka bagi orang-orang dari semua agama.
Rumah ibadah
Bahá’í bertemakan ketunggalan: harus mempunyai sembilan sisi dengan sebuah
kubah di tengahnya, dan direncanakan untuk masa depan sebagai pusat dari
berbagai lembaga sosial bagi masyarakat setempat, termasuk rumah sakit,
universitas, rumah jompo, dan lain sebagainya. Sampai sekarang di seluruh dunia
ada tujuh Rumah ibadah Bahá’í—di New Delhi, India; Kampala, Uganda; Frankfort,
Jerman; Wilmette, Illinois, Amerika Serikat; Panama City, Panama; Apia, Samoa
Barat; dan Sydney, Australia.
Kegiatan
Di samping sembahyang wajib, yang
dilakukan secara perseorangan, dan selamatan sembilan belas hari, ada pula
kegiatan doa bersama, yang terbuka bagi orang dari semua agama, di mana doa-doa
dibacakan dari tulisan suci berbagai agama. Masyarakat Bahá’í setempat juga
melakukan pendidikan kerohanian bagi anak-anak serta suatu program pendidikan
bagi orang dewasa dan pemuda yang dipelajari melalui kelompok-kelompok belajar.
Program ini, yang pada awalnya dikembangkan oleh Institut Ruhi di Kolombia, Amerika Selatan, membahas berbagai tema, seperti kehidupan roh, doa,
pendidikan anak-anak, pendidikan remaja, riwayat hidup Sang Báb dan Bahá’u’lláh,
dan pengabdian sebagai dasar dari kehidupan. Kegiatan kelompok belajar dan
kelas anak-anak juga terbuka bagi orang-orang dari agama apa saja yang ingin
ikut serta.
Ada sembilan
hari besar yang dirayakan oleh masyarakat Bahá’í, yang memperingati peristiwa-peristiwa
khusus dalam sejarah Bahá’í.
Apabila
masyarakat Bahá’í sudah cukup besar di suatu tempat, mereka didorong untuk
merencanakan dan melakukan proyek-proyek pengembangan sosial dan ekonomi untuk
membantu menangani berbagai masalah yang dihadapi masyarakat umum. Sampai
sekarang kebanyakan proyek ini dalam bidang pendidikan dan kesehatan.
Dalam
perkara ibadah, mereka berbeza dalam beberapa perkara. Antaranya:
-
Sembahyang: Diwajibkan kepada yang baligh. Ia dilakukan secara seorang diri,
tidak ada sembahyang jemaah melainkan sembahyang jenazah. Kiblat sembahyang
adalah di mana letaknya kubur Baha’ iaitu di ‘Aka, Palestin. Jumlah sembahyang
adalah sembilan rakaat dalam tiga peringkat iaitu:
Sembahyang
besar
Boleh dilakukan pada bila-bila masa yang diingini. Sesiapa yang menunaikannya tidak perlu lagi bersembahyang pada waktu pertengahan dan sembahyang kecil.
Boleh dilakukan pada bila-bila masa yang diingini. Sesiapa yang menunaikannya tidak perlu lagi bersembahyang pada waktu pertengahan dan sembahyang kecil.
Sembahyang
pertengahan
Disyaratkan dalam tiga waktu iaitu subuh, zohor dan asar. Sesiapa yang menunaikannya juga tidak perlu lagi bersembahyang besar dan sembahyang kecil.
Disyaratkan dalam tiga waktu iaitu subuh, zohor dan asar. Sesiapa yang menunaikannya juga tidak perlu lagi bersembahyang besar dan sembahyang kecil.
Sembahyang
kecil
Syaratnya mestilah pada waktu gelincir matahari iaitu pada waktu zohor. Sesiapa yang menunaikannya tidak perlu lagi sembahyang yang besar dan sembahyang pertengahan.
Syaratnya mestilah pada waktu gelincir matahari iaitu pada waktu zohor. Sesiapa yang menunaikannya tidak perlu lagi sembahyang yang besar dan sembahyang pertengahan.
Sembahyang
mayat mereka mengandungi enam kali takbir Selepas sembahyang, mereka membaca
bacaan yang ditetapkan sebanyak 19 kali.
Sembahyang
boleh ditinggalkan bagi sesiapa yang musafir ataupun lemah seperti kerana sudah
tua atau kerana sakit. Hukum meninggalkannya sama seperti perempuan yang datang
haid ataupun nifas.
Mereka
mewajibkan sembahyang dengan berwuduk. Sesiapa yang tidak boleh menggunakan
air, memadai dengan menyebut nama Tuhan sebanyak lima kali.
- Puasa:
Bagi mereka, dalam setahun ada 19 bulan. Bulan yang terakhir adalah bulan
puasa. Pada penghujung bulan puasa itu ada hari raya yang dinamakan Hari Raya
Nuruz. Sesiapa yang sakit, musafir ataupun lemah tidak diwajibkan puasa dan
ganti (qada).
- Haji: Haji
diwajibkan kepada orang lelaki sahaja. Manakala perempuan tidak di wajibkan
menunaikan haji. Lokasi menunaikan haji itu adalah di tempat kediaman Baha
semasa dibuang ke Iraq ataupun di tempat kediamannya di Syiraz.
- Zakat:
Sama seperti zakat orang Islam. Namun, zakat tidak boleh dikumpulkan sekarang
kerana tidak ada rumah keadilan.
- Perkahwinan:
Tidak dibenarkan meminang perempuan sebelum mencapai umur 15 tahun. Jarak masa
antara meminang dengan akad nikah tidak boleh melebihi 95 hari. Jarak antara
akad nikah dengan bertemu suami isteri tidak boleh melebihi daripada satu hari.
- Hari raya:
Mereka mempunyai lima hari raya, iaitu:
1. Hari Raya
Nuruz.
2. Hari Raya Riduan.
3. Hari Raya Lahir al-Bab.
4. Hari Lahir Baha.
5. Hari Diistiharkan Ajaran al-Bab.
2. Hari Raya Riduan.
3. Hari Raya Lahir al-Bab.
4. Hari Lahir Baha.
5. Hari Diistiharkan Ajaran al-Bab.
- Kematian:
Mereka mengkafankan mayat dengan lima helai kain sutera ataupun kain kapas dan
diberi pakai cincin yang bertulis dengan ayat yang tertentukan.
- Hari:
Nama-nama hari menurut pendapat mereka adalah:
1. Hari Jalaal.
2. Hari Jamal.
3. Hari Kamal.
4. Hari Fimal.
5. Hari Adal.
6. Hari Istihlal.
7. Hari Istiklal.
1. Hari Jalaal.
2. Hari Jamal.
3. Hari Kamal.
4. Hari Fimal.
5. Hari Adal.
6. Hari Istihlal.
7. Hari Istiklal.
Kitab-bitab
mereka adalah:
1. Al-Itqan
2. Majmu’ah al-Alwah al- Mubarakah
3. Al-Syeikh
4. Al-Israqat wal Basyirat
5. Al-Durr al-Bahiah
6. Al-Hujaj al-Bahiah
7. Al-Faraid
8. Faslu al-Khatab.
1. Al-Itqan
2. Majmu’ah al-Alwah al- Mubarakah
3. Al-Syeikh
4. Al-Israqat wal Basyirat
5. Al-Durr al-Bahiah
6. Al-Hujaj al-Bahiah
7. Al-Faraid
8. Faslu al-Khatab.
PERINGKAT
PEGANGAN
Mereka
membahagikan pengikut-pengikut mereka kepada beberapa peringkat:
Imam
Orang yang mengetahui perkara yang ghaib tanpa perantaraan.
Orang yang mengetahui perkara yang ghaib tanpa perantaraan.
Hujah
Orang yang menerima ilmu daripada imam.
Orang yang menerima ilmu daripada imam.
Zu al-Massoh
Orang yang menerima ilmu daripada hujah.
Orang yang menerima ilmu daripada hujah.
Abwab
Orang yang menyampaikan darjat pengikut-pengikut kepada imam dan hujah.
Orang yang menyampaikan darjat pengikut-pengikut kepada imam dan hujah.
Da’i
Orang yang menerima perjanjian daripada orang ramai dan menerima penuntut ilmu.
Orang yang menerima perjanjian daripada orang ramai dan menerima penuntut ilmu.
Mukalaf
Orang-orang yang bersahabat dengan da’i dan tidak berhak untuk berdakwah.
Orang-orang yang bersahabat dengan da’i dan tidak berhak untuk berdakwah.
Mukmin
Pengikut biasa.
Pengikut biasa.
Baha,
pemimpin ajaran ini mendakwa dia mengaku dalam beberapa perkara yang berkaitan:
Pertama; dia
mengaku menjadi orang yang ditugaskan oleh al-Bab. Kemudian dia mengaku menjadi
Imam Mahdi. Kemudian dia mengaku menjadi nabi secara khusus sebelum mengaku
menjadi nabi secara umum. Kemudian dia mengaku mencapai peringkat Tuhan. Akhirnya
dia mengaku menjadi Allah di bumi.
Kedua; dia
mendakwa orang yang menjadi imam dalam ajarannya mendapat limpah Tuhan dan
cahayanya. Dia berjanji imamnya menjadi Mahdi dan imam-imam selepasnya yang
mencapai peringkat maksum (bersih daripada dosa).
Apabila
ajarannya sampai ke pengetahuan umat Islam, seluruh umat Islam di pelusuk dunia
menentang fahaman ini sekeras-kerasnya. Pemerintah Iran dan Turki Uthmaniah
mengambil tindakan tegas ke atas pemimpin dan para pengikutnya dengan membuang
daerah. Semua ini atas desakan rakyat yang mahukan kesucian agama Islam
dipelihara. Ketuanya dibuang ke Eropah dan Amerika Syarikat. Akhirnya dia
pulang sendiri ke Haifa, Palestin bagi mewujudkan pusat gerakan di situ. Dia
memindahkan mayat al-Bab dan mengkebumikan di Haifa. Kemudian, dia terus
menyebarkan ajarannya ke merata-rata tempat.
Walaupun
ajaran ini mendapat tentangan hebat daripada umat Islam, mereka tetap mendapat
perlindungan daripada penjajah Inggeris selepas jatuhnya kerajaan Turki
Uthmaniah pada Perang Dunia Pertama (1917-1918). Jeneral Allenby yang menjadi
pegawai Inggeris di Palestin mengadakan lawatan hormat berjumpa ketua agama
Baha’i yang berada yang berada di Haifa, Palestin. Dia melakukannya atas arahan
kerajaan Inggeris dan mengurniakan pingat Diraja Inggeris kepada ketua agama
Baha’i.
Jelas
penyebaran ajaran Baha’i mendapat sokongan di kalangan pelampau Kristian dan
Yahudi. Tujuan mereka adalah mengganggu umat Islam dengan masalah-masalah
akidah dan amalan-amalan yang boleh menjejaskannya. Antara buktinya adalah
penyebaran teori menolak hadis yang dilakukan oleh Rashad Khalifa pada awal
tahun 1976. Akhirnya orang Islam mengetahui dia pengikut agama Baha’i. Tidak
mustahil isu-isu lain yang sengaja direka akan timbul supaya umat Islam yang
tidak berminat mengkaji agama akan terpengaruh.
Ajaran Babi
dan Baha’i berpecah kepada beberapa mazhab selepas kematian ketua besar mereka.
Menurut kajian, mereka mempunyai lima mazhab iaitu:
1. Azaliah
Pengikut Sabih Azal (Mirza Yahya Nur).
Pengikut Sabih Azal (Mirza Yahya Nur).
2. Bahaiah
Pengikut Bahai Allah (Mirza Husin Ali).
Pengikut Bahai Allah (Mirza Husin Ali).
3. Babiah
Khalisoh
Pengikut al-Bab.
Pengikut al-Bab.
4. Bab
Baha’i Abas
Pengikut Abdul Bahak (Abas Afandi).
Pengikut Abdul Bahak (Abas Afandi).
5. Nafidhon
Pengikut Mirza Muhammad Ali.
Pengikut Mirza Muhammad Ali.
Sumber : Makalah Muhammad Ihsan Sukardi



Tidak ada komentar:
Posting Komentar