Jumat, 31 Mei 2013

Agama Babilonia Abdul Malik


1.      Awal Munculnya Bangsa Babylonia
Babylonia berasal dari bangsa Amori yang serumpun dengan ras Semit yang bermigrasi dari jazirah Arab pada millennium ke-3 SM.kemudian mereka menetap di wilayah yang disebut Mari,ditepi Sungai Eufrat,setelah terlebih dahulu menguasai wilayah disekitarnya. Sebelumnya,Mari dikuasai oleh kerajaan Sumeria dan Akkadia. Tak heranjika ada kesamaan peradaban seperti penggunaan bahasa dan tulisan paku.
Ketika melemahnya kekuasaan Akkadia,bangsa Amori mulai melakukan penetrasi ke lembah Mesopotamia dengan memanfaatkan kesempatan yang ada. Orang-orang Amori mendirikan sebuah kota dinamakan Babylon sekaligus menjadikannnya ibu kota pemerintahan yang saat itu dipimpin oleh Samuabi pada tahun 1830 SM. Samuabi dinyatakan sebagai pendiri Babylonia pertama atau tercatat sebagai Dinasti Amori.
Kehidupan dan peradaban bangsa Amori dianggap berbeda dengan peradaban bangsa Mesopotamia dikarenakan bisa menciptakan sebuah civil-peradaban baru. Keadaan ini membuatnya mencapai puncaknya pada masa Raja Amori yang terkenal ialah Hammurabi (1728-1686 SM). Hammurabi memainkan peranan penting dengan berhasil menyatukan seluruh kawasan Mesopotamia,baik dengan cara politis-diplomatis maupun dengan cara ekspansif-militer.[1]
          Hammurabi adalah Babilonia, di mana peradaban Sumeria telah benar-benar diserap oleh Semit dan sekarang berkembang di bawah dominasi politik mereka, menyelesaikan bagian yang paling penting dari survei ini dari latar belakang holistical ke Mesopotamia sosial dan kehidupan budaya.[2]
          Selanjutnya Babylonia mengalami periode akhir yang diteruskan oleh bangsa Kaldan,Bangsa Kaldan bermigrasi dari jazirah Arab pada pertengahan millennium ke-2 SM dan menetap dbagian utara dataran Sinear yang dikuasai oleh bangsa Assyria. Pertambahan populasi yang mentyebabkan mereka bisa untuk memberontak bangsa Assyria. Gubernur Babylon,Nabopolassar memanfaatkan kelengahan bangsa Assyria pasca kematian raja mereka Raja mereka yaitu Ashubanipal sehingga dia berhasil merebut Babylon pada tahun 622 SM.
          Setelah mengusir bangsa Assyria dari Sinear dan mengambil alih Mesopotamia selatan,Nabopolassar lantas beraliansi dengan bangsa Media (Iran) hingga keduanya berhasil memblokade bangsa Assyria dari utara dan selatan.Mereka mampu menjatuhkan kerajaan Asyria. Nabopolassar mendirikan Negara baru dengan membangun kembali kota Babylon dan menjadikannya sebagai ibu kota pemerintahan.
          Raja Nabopolassar kemudian mengambil alih beberapa wilayah yang tunduk pada kerajaan Assyria,seperti Syria dan Palestina serta mampu menarik kedua Negara tersebut ke dalam kerajaannya. Sementara ketika sang anak dan putra mahkota,Nebukadnezar menyerang pasukan Mesir dalam pertempuran Karkemish,datang berita bahwa ayahandanya,Nabolosaar meninggal.Akhrinya,Nebukadnezar segera kembali ke Babylon untuk naik tahta pada tahun 605 SM.[3]
          Pada masa pemerintahan Nebukadnezar diangga periode paling gemilang dalam sejarah Irak Kuno. Salah satu sebabnya berhasil menundukkan Yerusalem yang menjadi tempat bernaungnya kerajaan yehuda memberontak,menghancurkan Haikal,serta menahan 40.00 ribu Yahudi ke Babylon dan ini merupakan tawanan Babylonia kedua,ada dua “nabi’ mereka;Yehezkiel dan Daniel.
          Setelah Nebukadnezar wafat tahun 562 SM,kekuasaan dilimpahkan kepada putranya,Amel Marduk. Malangnya,sang putra adalah seorang yang lemah dalam memimpin. Penyebabnya dia memberikan kebebasan yang luas kepada bangsa Yahudi dalam beribadah. Sehingga orang-orang Yahudi memberontak dan menyingkirkannya.
          Kota-kota di Babilonia memperoleh hak otonomi dan hak istimewa dari raja. Kota berpusat di kuil. Tiap kota memiliki pengadilan sendiri, dan kasus hukum seringkali diputuskan dalam majelis. Kuil mendominasi struktur sosial. Status sosial dan hak politik sesorang ditentukan berdasarkan posisi mereka terkait dengan hierarki kagamaan. Para pekerja, misalnya perajin, memperoleh statsu yang tinggi. Selain itu, terdapat pu;a serikat pekerja untuk memberi para pekerja daya tawar kolektif.[4]

Peradaban Babylonia berdiri dalam dua periode dengan dua penguasa yang berbeda, periode peradaban Babylonia Kuno atau lama diperintah oleh Hammurabi sedangkan peradaban Babylonia Baru diperintah oleh Nebukadnezar. Kedua raja tersebut memeiliki kekuatan yang sangat besar sehingga banyak yang bisa diunggulkan dari peradaban babylonia ini, walalupun akhirnya hancur oleh kerajaan lainnya. Babylonia baru pada masa Nebukadnezar ini merupakan kota yang sangat indah yang dibangun dengan arsitektur yang sangat megah, dan tidak ada sebelumnya dan juga belum tentu bisa ada yang meniru setelahnya.Peninggalan pada masa Babylonia baru yang sangat terkenal adalah adanya Taman Gantung yang dikatakan sebagai sebuah hadiah persembahan kepada istri Nebukadnezar, juga adanya Ziggurat dan Menara Babel sebagai wujud persembahan mereka terhadap Tuhan yang mereka percayai.[5]
2.      Bangsa Babylonia Lama
       Peradaban babylonia lama disebut juga peradaban Amoria. Bangsa Amoria termasuk rumpun semit. Bangsa ini mulai berpengaruh di kawasan mesopotamia sekitar tahun 2000 SM. Setelah menaklukkan Sumeria, Akkadia, dan Assyria, bangsa ini mendirikan kota-kota sekaligus mengembangkan peradaban di kawasan mesopotamia.

       Tokoh termasyhur dari bangsa tersebut adalah hammurabi. Pada tahun 1792 SM, ia naik tahta di kota babylon, pusat kerajaan Amoria di tengah kawasan mesopotamia. Sebetulnya, kerajaan itu sudah ada beberapa ratus tahun sebelumnya. Dibawah pemerintahan Hammurabi, babylonia memperluas pengaruh sampai ke Sumeria dan Akkadia.

       Kejayaan Baylonia lama langsung surut setelah meninggal Hammurabi. Tidak ada lagi pemimpin Amoria setangguh Hammurabi. Pada tahun 1590 SM, kota Babylon jatuh ke dalam kekuasaan bangsa Hittite. Peristiwa itu menandai berakhirnya peradaban Babylonia lama.
       Peradaban Baylonia lama boleh dikatakan melanjutkan peradaban yang sebelumnya hidup di Mesopotamia. baik sistem pemerintah, sistem tulisa, dan tata kota tidak jauh berbeda dengan peradaban sebelumnya. Namun ada dua hala yang menjadi ciri khas peradaban Babylonia lama, yakni Codex Hammurabi dan sistem kepercayaan.


3.  Bangsa Babylonia Baru

       Tampilnya suku bangsa Khaldea mengangkat kembali keperkasaan Babilonia yang dulu pernah jaya. Raja bangsa Khaldea yang terkenal adalah Nebukadnezar. Ia membangun kembali kota Babilon dan menjadikan kota tersebut sebagai ibukota sehingga disebut Babilonia Baru. Ada dua hal yang menarik di kota Babilonia yaitu menara Babel dan taman gantung. Menara babel yang tingginya mencapai 90 meter berfungsi sebagai keindahan kota serta mercusuar bagi para pedagang di sekitarnya yang akan menuju ke kota Babilonia. Hal kedua yang menarik adalah pembuatan taman gantung yang dipersembahkan untuk isterinya. Taman itu dibangun di atas bukit buatan. Tingginya 107 meter. Bentuknya berupa podium bertingkat yang ditanami pohon, rumput dan bunga-bungaan. Ada air terjun buatan berasal dari air sungai Eufrat yang dialirkan ke puncak bukit lalu mengalir melalui saluran buatan. Jika dilihat dari jauh seolah-olah taman itu menggantung, suatu pemandangan yang sangat menakjubkan. Di bidang pengetahuan bangsa Khaldea telah mengembangkan astronomi dan astrologi.
       Mereka percaya bahwa masa depan dapat diketahui dengan mempelajari bintang bintang. Selain meramal nasib seseorang juga ramalan tentang gerhana. Mereka membagi minggu dalam tujuh hari, satu hari ke dalam 12 jam ganda (1/2 hari siang/terang dan 1/2 hari malam/gelap). Menghitung lewatnya waktu dengan jam air (water clock) dan jam matahari (sundial). Sebuah catatan penting mengenai Nebukadnezar adalah peristiwa penaklukan kerajaan Yudea dan Palestina. Ibukota Yerusalem direbutnya, kemah raja Sulaiman dibakar dan menjarah tanah Yudea. Bangsa Israel termasuk para pemimpinnya diangkut ke negerinya dijadikan budak dan tawanan. Peristiwa itu disebut masa pembuangan Babilon dari tahun 586-550 SM yang sangat membekas bagi bangsa Israel. Sesudah Nebukadnezar meninggal dunia tak lama yaitu tahun 539 SM, Babilonia Baru ditaklukkan oleh bangsa Persia.[6]
          Pada periode Babilonia baru, banyak tanah yang dibuka untuk diolah. Kedamaian dan kekuasaan kekaisaran membuat tersedianya sumber daya untuk memperluas irigasi dan membangun sistem kanal. Daerah pedesaan Babilonia didominasi oleh perkebunan-perkebunan besar, yang diberikan kepada pejabat pemerintah sebagai bentuk pembayaran. Perkebunan-perkebunan ini biasanya dikelola melalui penguasa lokal, yang mengambil sebagian keuntungan. Penduduk desa ikut serta dalam perkebunan tersebut dengan menjadi buruh dan penyewa tanah.
v  Masa Pemerintahan Nebukadnezar
       Nebukadnezar adalah putra tertua Nebopalasar yaitu seseorang yang merupakan pendiri kerajaan Babylonia Baru. Nebukadnezar pada awalnya hanya ditugaskan sebagai komandan militer, tetapi pada akhirnya menjadi raja sesudah ayahnya meniggal dunia. Dia menikah dengan seorang putri yang merupakan anak dari Cyaxares, yang kemudian ini bisa dikatakan perkawinan politik karena bisa menyatukan dinasti Median dan Babylon. Nebukadnezar ini adalah sosok yang sangat terampil ketika berperang dan dia juga sangat pandai dalam berpolitik. Pada masa kekuasaan Nebukadnezar, Babylon merupakan kota terbesar dari kota yang ada di dunia pada saat itu  Luasnya diperkirakan 1000 hektar dengan sungai Euprat yang melewati kerajaan itu.
          Sebagai seorang pemimpin yang cakap, Nebukadnezar telah banyak melakukan perang militer dengan berbagi bangsa salah satunya perang militer di Syiria dan Phoenicia, memaksakan setoran upeti dari Damaskus, Tyre, dan Sidon, Dia pun melakukan perang demi terciptanya koloni-koloni seperti yang terjadi di Asia Kecil, ayitu di daratan Haiti. Pada tahun 601 SM  terlibat pertempuran Besar dengan Mesir dan pada tahun 599 SM menyerang Arabia. Pada tahun 597 SM menyerang Israel dan merebut Jerussalem sekaligus menggulingkan raja Jeholakin, Pada akhirnya Mesir dan Babylon pun terlibat perang  untuk menguasai timur dekat di sepanjang masa pemerintahan Nebukadnezar  dan hal inilah yang mendorong raja Zedekiah dari Israel untuk memberontak. Tetapi ternyata setelah 18 bulan Jerussalem dapat direbut pada 587 SM dan ribuan Yahudi pun di deportasi ke Babylon dan kuil Solomon diratakan dengan tanah.

v  Hasil-Hasil Kebudayaan pada masa Pemerintaha Nebukadnezar        
Kita akan mencoba melihat hasil kebudayaan Babilonia Baru berdasarkan tujuh unsur kebudayaan tersebut, yaitu:
1.Peralatan atau Alat Perlengkapan Hidup.
2. Mata Pencaharian dan Sistem Ekonomi.
3. Sistem Kemasyarakatan.
4. Memakai Bahasa Sumeria.
5. Kesenian dan Bangunan yaitu: Taman Gantung, Menara Babel, dan Ziggurat.
6. Sistem Pengetahuan, yaitu: Ilmu Astronomi, Ilmu Matematika, Ilmu Filsafat, dan Literatur.
7. Tentang Religi.[7]
4.  Sistem Kepercayaan Bangsa Babylonia
         
          Sistem kepercayaan bangsa amoria tidak jauh berbeda dengan Sumeria. Mereka percaya bahwa beragam peristiwa alam dan nasib manusia telah digariskan para dewi-dewi. Oleh karena itu, kepercayaan bangsa Amoria adalah polytheisme. meskipun demikian, kepercayaan bangsa Amoria memiliki kekhasan tersendiri. Kepercayaan itu merupakan paduan pengamatan ilmiah terhadap alam semesta serta cuaca, tata cara pemujaan dewa-dewi yang dianggap pelindung dan sihir. Kepercayaan seperti itu menjadi batu loncatan bangsa Amoria untuk mengenal astrologi.

          Dewa-dewi yang disembah bangsa Amoria serupa dewa-dewi orang Sumeria. Hanya namanya yang berbeda. Dewa tertinggi bangsa Amoria adalah Marduk. Mula-mula Marduk hanya sebagai dewa kota babylon. Bersamaan dengan semakin pentingnya kedudukan kota Babylon di kawasan Mesopotamia, kedudukan Marduk pun semakin penting. Orang Amoria percaya bahwa marduk adalah dewa yang bijaksana. ia akan melindungi orang baik dan mnghukum orang jahat.[8]

5.  Praktek Keagamaan Bangsa Babylonia

Bangsa Babylonia menjalankan ritual-ritual keagamaan serupa dengan Sumeria. Melakukan penyembahan terhadap Dewa Adad,yaitu Dewa Badai,Petir,dan Hujan,banyak tersebar di semua wilayah Asia Kecil,Lembah Mesopotamia,Syria,dan Palestina. Dalam perjanjian Lama,dewa tersebut bernama Ramon,bakan Yahweh sendiri pada mulanya adalah nama untuk dewa Badai dalam tradisi Ibrani awal. Yahweh bersama-sama dengan Adad bersekutu dalam beberapa sifat.

Sementara itu Dewi Ishtar tercatat sebagai Dewi bangsa Semit yang paling terkenal. Ishtar banyak disebutkan dalam mitologi. Dia tdiak punya tandingan lainnya sepanjang generasi. Ishtar adalah Dewi Cinta,kecantikan,dan kebaikan,sekaligus sebagai Dewi perang. Sejatinya,menurut kepercayaan Sumeria,Dewi Ishtar adalah pewaris dari Dewa Inana. Orang-orang Amori juga nebyebut Ishtar sebagai Dewi Venus,bintang yang bersinar terang di kala pagi pagi sebelum matahari terbit.

            Selain itu ada sebuah festival utama di Babilonia yaitu Buylshu Mishtkaru, festival untuk mengusir roh jahat. Banyak pria Babel yang menghadiri festival ini bahkan sejak usia mereka masih sangat muda. Pada Festival ini, biasanya seorang imam akan menyembelih hewan, yang biasanya seekor sapi, sebagai sebuah persembahan agar para dewa senang. Sebagai gantinya, para dewa mungkin akan memberikan izin kepada orang-orang di festival untuk mendapatkan sebuah jimat untuk masing-masing orang yang dipercaya akan melindungi mereka selama mereka hidup.[9]
6.  Ajaran Bangsa Babylonia

         Bangsa Babylonia atau yang disebut Amori menjalankan kepercayaan agama mereka menyerupai bangsa Sumeria. Mereka menyembah dewa –dewa Sumeria dan menjalankan ritual-ritual keagamaan Sumeria. Masyarakat Amori juga membangun kuil-kuil menyerupai Ziggurat yang sebelumnya banyak didirikan di koat-koat Sumeria. Mereka Juga tidak meninggalkan,Marduk,Dewa Matahari yang dianggap sebagai Dewa terbesar.
          Dengan mengambil tempat teristimewa diantara seluruh dewa Sumeria,bangsa Amori membangun kuil besar di tengah-tengah kota Babylon untuk sang dewa. Di tengah kuil tersebut,dipancang sebuah tugu raksasa yang memuat undang-undang Hammurabi yang terkenal itu. Kuil tersebut juga dipersembahkan sebagai tempat bagi Dewa Enlil.[10]
























KESIMPULAN

Asia barat daya adalah salah satu kawasan yang kaya dengan sumber daya alam, maka tak heran jika di kemudian hari di kawasan ini muncul suatu peradaban yang terdiri dari berbagai corak. Peradaban yang ada di Asia Barat Daya kebanyakan adalah peradaban yang bercorak sungai atau lembah, maksudnya peradaban tersebut berdiri disekitar sungai dan lembah yang memang merupakan salah satu sumber kehidupan mereka. Di Asia Barat daya pun muncul berbagai peradaban baik itu peradaban Mesopotamia, Sumeria, Akadia sampai adanya peradaban Babylonia yang terdiri dari dua periode.
Peradaban Babylonia berdiri dalam dua periode dengan dua penguasa yang berbeda, periode peradaban Babylonia Kuno atau lama diperintah oleh Hammurabi sedangkan peradaban Babylonia Baru diperintah oleh Nebukadnezar. Kedua raja tersebut memeiliki kekuatan yang sangat besar sehingga banyak yang bisa diunggulkan dari peradaban babylonia ini, walalupun akhirnya hancur oleh kerajaan lainnya. Babylonia baru pada masa Nebukadnezar ini merupakan kota yang sangat indah yang dibangun dengan arsitektur yang sangat megah, dan tidak ada sebelumnya dan juga belum tentu bisa ada yang meniru setelahnya.Peninggalan pada masa Babylonia baru yang sangat terkenal adalah adanya Taman Gantung yang dikatakan sebagai sebuah hadiah persembahan kepada istri Nebukadnezar, juga adanya Ziggurat dan Menara Babel sebagai wujud persembahan mereka terhadap Tuhan yang mereka percayai.
Peradaban Babylonia ini adalah sebagain figur atau gambaran peradaban masa lalu yang hebat yang bisa memberikan kontribusi terhadap peradaban masa kini. Banyak hal yang bisa kita ambil dari sebuah peradaban baik itu kebudayaan ataupun hal-hal yang bisa menjadikan pelajaran bagi kehidupan masyarakat pada masa kini.









DAFTAR PUSTAKA

Sami bin Abdullah al-Maghhlouth,Atlas Agama-agama,Almahira,Jakarta;2010
http://id.shvoong.com/humanities/history/2235550-peradaban-babylonia-lama
Jacquetta Hawkes ,The First Great Civilization;1973





[1] Sami bin Abdullah al-maghhlouth,atlas,agama-agama,almahria,jakarta,hal.388
[2] Jacquetta Hawkes ,The First Great Civilization;1973,hal.81
[3] Ibid,hal.404
[6]http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Gantung_Babilonia
                              [7]  http://sukmazaman.blogspot.com/2012/06/perkembangan-kebudayaan-budaya.html               


[8]http://id.shvoong.com/humanities/history/2235550-peradaban-babylonia-lama
[10] Sami bin Abdullah al-Maghhlouth,Atlas Agama-agama,Almahira,Jakarta;2010,hal,376

Tidak ada komentar:

Posting Komentar