Kamis, 30 Mei 2013

Agama Mesir Kuno

I.       PEMBAHASAN
Dalam Encyclopedia of World Religions ditulis: “country located in the north-eastern corner of Africa, divided into two enequal, extremely arid regions by the landscape’s dominant feature, the northward-flowing Nile River. It is one of the world’s oldest continuous civilizations, in ancient times ruled by a Pharaoh”.[1]
Mesir merupakan salah satu pusat peradaban tertua di dunia yang terletak di ujung Benua Afrika bagian utara. Peradaban Mesir tumbuh dan berkembang di sekitar aliran Sungai Nil yang membentang sepanjang 6.671 km. Orang-orang Mesir diperkirakan telah menempati wilayah tersebut sejak 6.000 tahun sebelum Masehi. Di tempat yang subur inilah nenek moyang bangsa Mesir membangun daerah-daerah pemukiman dan memanfaatkan daerah yang subur tersebut sebagai lahan pertanian. Kesuburan tersebut telah menciptakan kemakmuran penduduk. Selain itu, Mesir secara geografis memiliki perlindungan alam berupa gurun. Gurun Nubia dan Gurun Sahara menjadikan Mesir terlindungi dari ancaman serangan bangsa asing.
Berikut peta geografis Negara Mesir Kuno:
ancient-egypt-map_2.jpg



Wilayah terluas Mesir Kuno
(abad ke-15 SM).

 
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/03/Egypt_NK_edit.svg/170px-Egypt_NK_edit.svg.png
Kondisi geografi yang mendukung dan tanah di tepi sungai Nil yang subur membuat bangsa Mesir mampu memproduksi banyak makanan, dan menghabiskan lebih banyak waktu dan sumber daya dalam pencapaian budaya, teknologi, dan artistik. Pengaturan tanah sangat penting di Mesir Kuno karena pajak dinilai berdasarkan jumlah tanah yang dimiliki seseorang. Pertanian di Mesir sangat bergantung kepada siklus sungai Nil. Bangsa Mesir mengenal tiga musim: Akhet (banjir), Peret (tanam), dan Shemu (panen). Bangsa Mesir menanam gandum emmer dan jelai, serta beberama gandum sereal lain, sebagai bahan roti dan bir. Tanaman-tanaman Flax ditanam dan diambil batangnya sebagai serat. Serat-serat tersebut dipisahkan dan dipintal menjadi benang, yang selanjutnya digunakan untuk menenun linen dan membuat pakaian. Papirus ditanam untuk pembuatan kertas. Sayur-sayuran dan buah-buahan dikembangkan di petak-petak perkebunan, dekat dengan permukiman, dan berada di permukaan tinggi. Tanaman sayur dan buah tersebut harus diairi dengan tangan. Sayur-sayuran meliputi bawang perai, bawang putih, squash, kacang, selada, dan tanaman-tanaman lain. Anggur juga ditanam untuk diolah menjadi arak.
Penduduk Mesir kuno mulai menempati kawasan lembah Nil sekitar tahun 5000-525 SM, yaitu sejak orang Mesir primitif periode perkembangan neolitik sampai pada perkembangan peradaban masa kekuasaan para Firaun absolute. Secara kronologis, sejarah Mesir dapat dibagi menjadi beberapa periode. Sejarah Mesir sebelum tahun 3400 SM disebut dengan periode prasejarah, periode kerajaan lama (3400-2475 SM), periode transisi feudalism (2475-2160), periode pertengahan (2160-1780 SM), ditambah dengan periode dominasi Hykso (1780-1580 SM) dan periode emperium (1580-525 SM).
Periode prasejarah Mesir ditandai dengan banyak ditemukan peralatanperalatan pada kuburan kuburan bangsa Mesir, diperkirakan dimulai sejak tahun 1500 SM. Dengan demikian, penduduk Mesir sudah menggunakan peralatan dimulai sejak masa paleolitik dan neolitik (zaman batu tua dan batu muda). Kemajuan bangsa Mesir lebih ditopang oleh hasil bumi yang subur, sejak pra dinasti sudah terjalin kerja sama dalam pembuatan kanal dan irigasi. Gambaran ini menunjukkan sudah adanya unit-unit politik meskipun masih kecil, yang secara gradual membentuk dua dua kerajaan, atas di bagian selatan, bawah di bagian utara sekitar tahun 5000 SM (Bogardus, 1995: 56).[2]
Sistem Sosial Kemasyarakatan
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/1/13/LowClassAncientEgyptianStatuettes.png/220px-LowClassAncientEgyptianStatuettes.png
Gambar patung yang menggambarkan kegiatan masyarakat kecil Mesir Kuno.

Dilihat dari system social kemasyarakatan, Mesir Kuno ketika itu sangat terstratifikasi dan status sosial yang dimiliki seseorang ditampilkan secara terang-terangan. Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai petani, namun demikian hasil pertanian dimiliki dan dikelolah oleh negara, kuil, atau keluarga ningrat yang memiliki tanah. Petani juga dikenai pajak tenaga kerja dan dipaksa bekerja membuat irigasi atau proyek konstruksi. Seniman dan pengrajin memunyai status yang lebih tinggi dari petani, namun mereka juga berada di bawah kendali negara, bekerja di toko-toko yang terletak di kuil dan dibayar langsung dari kas negara. Juru tulis dan pejabat menempati strata tertinggi di Mesir Kuno, dan biasa disebut "kelas kilt putih" karena menggunakan linen berwarna putih yang menandai status mereka. Perbudakan telah dikenal, namun bagaimana bentuknya belum jelas diketahui. Mesir Kuno memandang pria dan wanita, dari kelas sosial apapun kecuali budak, sama di mata hukum. Baik pria maupun wanita memiliki hak untuk memiliki dan menjual properti, membuat kontrak, menikah dan bercerai, serta melindungi diri mereka dari perceraian dengan menyetujui kontrak pernikahan, yang dapat menjatuhkan denda pada pasangannya bila terjadi perceraian. Dibandingkan bangsa lainnya di Yunani, Roma, dan bahkan tempat-tempat lainnya di dunia, wanita di Mesir Kuno memiliki kesempatan memilih dan meraih sukses yang lebih luas. Wanita seperti Hatshepsut dan Celopatra bahkan bisa menjadi firaun. Namun demikian, wanita di Mesir Kuno tidak dapat mengambil alih urusan administrasi dan jarang yang memiliki pendidikan dari rata-rata pria ketika itu. Juru tulis adalah golongan elit dan terdidik. Mereka menghitung pajak, mencatat, dan bertanggung jawab untuk urusan administrasi.
Masyarakat Mesir Kuno dibagi menjadi enam tingkatan sebagai berikut:
1.      Fir’aun dan keluarganya yang hidup mewah.
2.      Para Bangsawan yang juga hidup mewah.
3.      Para Pedagang dan pengusaha yang tinggal di kota-kota.
4.      Para petani yang tinggal di desa-desa.
5.      Para buruh yang tingal di kota-kota.
6.      Para budak yang dipekerjakan oleh para bangsawan dan fir’aun

Struktur sosial Mesir terdiri dari kelas atas yang didominasi oleh para penguasa dan pendeta, kelas menengah dan kelas rakyat yang sebagian besar sebagai budak. Seluruh sejarah kehidupan Mesir, basis ekonominya adalah pertanian dengan sistem sentralisasi irigasi memungkinkan hasil panen yang melimpah, sehingga industri sudah ada pada masa kerajaan lama. Setiap bulan Juli sungai Nil akan meluap, sedangkan bulan Nopember akan mengalami kekeringan. Hal ini sejak lama telah diantisipasi oleh bangsa Mesir dengan melakukan pertanian yang bervariasi. Pengembangan tembaga, penggunaan bahan kaca, penggalian batu secara terorganisir, serta teknik pemahatan relief sangat efisien dan maju yang tidak dijumpai di Eropa sampai periode revolusi industri.[3]

A.    Perkembangan pemerintahan Mesir Kuno
Masa pemerintahannya dapat dikelompokkan menjadi tiga zaman, yaitu: Kerajaan Tua, Kerajaan Tengah dan Kerajaan Baru.
a.      Zaman Kerajaan Tua (3000-2200 SM)
Pada masi ini, raja Menes berhasil menyatukan Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Dia kemudian digantikan oleh raja Chufu (Chefren) tahun 2200 SM-2150 SM. Setelah itu, yang berkuasa adalah raja Sesotris tahuan 2150-2000 SM. Pada masa ini, makam raja-raja berbentuk piramida dan di depannya terdapat Sphink.
Periode kerajaan lama, sudah memasuki zaman logam, perdagangan sudah mengalami kemajuan, kapal-kapal dagang telah dikirim ke kawasan pantai Syria untuk memperoleh kayu sebagai bahan pembuatan kapal, rumah dan perabotan lainnya. Industri sudah dimulai pada masa ini, manifaktur dari kaca, permata-permata yang indah banyak dihasilkan oleh para pengrajin. Indikasi kemajuan peradaban pada masa kerajaan lama adalah peninggalan piramida-piramida. Piramida pertama dibangun pada masa dinasti ketiga, merupakan kuburan batu besar pertama di
dunia. Dari enam dinasti kerajaan lama yang ada, dinasti keempat adalah yang paling kuat dengan membangun piramida besar sebagai kuburan pagi Firaun Khufu dan dikenal dengan Cheops. Pembangunan piramida ini membutuhkan 100.000 pekerja dikerjakan selama dua puluh tahun. Bangunan ini didesain untuk memprotek jasad Firaun setelah mati. Dari sini, menunjukkan bahwa pengetahuan geometri telah dikenal baik oleh  bangsa Mesir, mereka telah menggunakan perunggu untuk memotong batu Kerajaan Mesir mengalami pertumbuhan besar menuju fase baru dengan kekuasaan yang bersifat feodalistik.
Selama berada di bawah kekuasaan enam dinasti Firaun pada masa kerajaan lama, sentralisasi kekuasaan yang kuat menjadi berkurang yang memunculkan independensi dan ambisi para gubernur propinsi. Akibat terjadinya perang sipil, kekuatan para Firaun menjadi runtuh, sementara para gubernur saling berebut kekuasaan di antara mereka. Secara umum, masyarakat tidak dapat menahan kelaparan karena adanya tekanan dari tirani-tirani kecil, kerusakan yang disebabkan oleh peperangan, sehingga praktis masa ini kemajuan peradaban terhenti (Bogardus, 1995: 57).
Setelah selama 300 tahun berada dalam disintegrasi atau disunity, putra-putra mahkota dari Nil bagian atas telah berhasil membangun kembali sebuah negara kesatuan. Di masa kekuasaan satu Firaun terdapat dua belas dinasti selama dua abad, yang paling menonjol adalah Sesostris III and Amenemhet III dengan kemampuannya membawa kerajaan para Firaun
bersifat monarki yang kuat, dengan hukum, aturan, kemakmuran ekonomi dan kemajuan peradaban. Jika kerajaan lama terkenal dengan piramidanya, maka pada masa pertengahan ini lebih menonjol dalam bidang literatur dan kesenian (Bogardus: 1995: 57).
Sekitar tahun 1780 SM, seorang Asia dikenal oleh bangsa Mesir dengan Hykos, dengan pasukan berkuda dan kereta yang superior telah menaklukkan Mesir kawasan Delta secara keseluruhan dan bertahap sampai pada lembah Nil bagian atas. Selama dua abad sampai tahun 1580 SM di bawah kekuasaan orang asing, telah melahirkan nasionalisme bangsa Mesir.
Azhmes liberalis dari Thebes adalah seorang pahlawan nasional yang besar telah membebaskan bangsa Mesir menuju babak baru, yaitu masa emperium. Para penguasa emperium ini meyakini bahwa untuk menjaga keamanan negara Mesir dari serbuan bangsa asing adalah dengan mengontrol Palestina, Syria, Phoenisia, kawasan air di timur Mediterania serta mengontrol nite-nite perdagangan oleh pasukan infantri. Firaun yang paling besar peradaban pada periode ini adalah Mosis III (1479-1447 SM) biasa disebut sebagai Napoeleon oleh bangsa Mesir. Dia mampu menaklukkan Syuria, Phoenesia, Palestina, Nubia dan dilengkapi dengan kawasan Siprus. Kebesaran Mesir berada di bawah kekuasaan Firaun dinasti ke-18; peradaban dan kekuatan politik, politik hukum dan peraturan-peraturan di lembah Nil. Perkembangan perdagangan dan kemakmuran yang besar dari rampasan perang yang mengalir ke Mesir.
Thebes sebagai ibukota Mesir menjadi kota terkaya di dunia. Beberapa kuil taman yang indah dan rumah-rumah besar dan indah milik para pembesar membuat Thebes tampak lebih indah (Bogardus, 1995: 58). Di bawah kekuasaan Amenhotep III (1411-1375 SM), emperium Mesir mengalami kemunduran, yang ditandai dengan adanya kontoversi agama, dan kehilangan teritorial.[4]

b.      Zaman Kerajaan Tengah (2000-1700 SM)
Sekitar tahun 2000 SM-1800 SM terjadi perang saudara, yaitu pada masa pemerintahan raja Hatshepsut. Tahun 1800-1700 SM, Kerajaan dalam keadaan genting. Pada masa genting inilah Raja Hatshepsut mengirimkan tentara ekspedisi ke Afrika Timur, sehingga saudagar-saudagar memperoleh pasaran baru. Kota Karnak yang penuh dengan kuil diperbaiki dan didirikan Obelsik yang besar. Di Derel Bakri dibangun kuil yang indah. Dia juga membuat pemakaman rahasia di gunung pasir (sebelah barat Sungai Nil).
c.       Zaman Kerajaan Baru (1700-1100 SM)
Sekitar tahun 1700 SM, Mesir diserang oleh bangsa Hiksos dari Asia. Sekitar tahun 1600 SM, bangsa Hiksos berhasil diusir. Raja yang terkenal adalah Thutmosis III. Dia berhasil memperluas kekuasaan sampai ke Syiria dan pulau Kreta. Dia juga memindahkan pusat pemerintahan yang semula di Memphis ke Thebe. Pada masa raja Ramses II Agung, wilayahnya sampai ke Palestina, Sisilia dan Sardinia. Pada masa Raja Ramses II Mesir menjadi lumpuh. Akibatnya kerajaan ini tidak mampu menghadapi serangan-serangan dari luar. Selengkapnya sebagai berikut:
1.Pada abad ke-9 SM, Mesir ditundukkan bangsa Assiria.
2.Pada abad ke-6 SM, Mesir ditundukkan bangsa Persia.
3.Pada abad ke-4, Mesir ditundukkan oleh raja Iskandar Zulkarnaen dari Macedonia (Yunani). Akhirnya, diditemukan nama kota Iskandariah. Dia juga menggabungkan kebudayaan Timur (Asia-Afrika). Hal ini disebut Hellenisme.Hellen adalah sebutan bagi orang-orang Yunani.[5]
Ramses II (1292-1225 SM) dinasti ke-19, dikenal sebagai Firaun yang menindas bangsa Yahudi dan berusaha untuk merestorisasi, atau memulihkan kembali kejayaan emperium Mesir. Kekuatan bangsa Mesir dibangun kembali di Dyria selatan dan Palestina. Monumen-monumen besar telah dibangun disepanjang sungai Nil, sehingga dari luar emperium tampak makmur dan aman. Setelah periode ini seluruh kawasan Timur dekat muncul kekuatan, sementara Ramses III (1198-1167 SM) hanya mempertahankan emporium dari kehancuran. Setelah Ramses III tidak ada lagi pemimpin dari bangsa Mesir yang brilian. Akhirnya Mesir di bawah kekuasaan bangsa-bangsa asing, Afrika, Assyria dan Persia tahun 525 SM. Pada masa ini praktis bangsa mesir
telah kehilangan kemerdekaan politiknya. Setelah kedatangan Islam, Mesir telah banyak meninggalkan tradisi kuno mereka.
Sistem pemerintahan pada teritorial kerajaan Mesir lama adalah absolut secara ekstrim, seluruh kekuasaan berada di bawah tan


[1] Johannes P. Schade (Editor), Encyclopedia of World Religions, Concord Publishing-Foreign Media Book, 2006, h. 289
[2] Mustofa Umar, Mesopotamia dan Mesir Kuno; Awal Peradaban Dunia, (El-Harakah: 2009)  Vol. 11, No. 3, h. 208
[3] Ibid; h. 211
[4] Ibid; h. 208-210

Tidak ada komentar:

Posting Komentar