I.
PEMBAHASAN
Dalam Encyclopedia of World Religions ditulis: “country
located in the north-eastern corner of Africa, divided into two enequal,
extremely arid regions by the landscape’s dominant feature, the
northward-flowing Nile River. It is one of the world’s oldest continuous
civilizations, in ancient times ruled by a Pharaoh”.[1]
Mesir merupakan salah satu pusat peradaban
tertua di dunia yang terletak di ujung Benua Afrika bagian utara. Peradaban
Mesir tumbuh dan berkembang di sekitar aliran Sungai Nil yang membentang
sepanjang 6.671 km. Orang-orang Mesir diperkirakan telah menempati wilayah
tersebut sejak 6.000 tahun sebelum Masehi. Di tempat yang subur inilah nenek
moyang bangsa Mesir membangun daerah-daerah pemukiman dan memanfaatkan daerah
yang subur tersebut sebagai lahan pertanian. Kesuburan tersebut telah
menciptakan kemakmuran penduduk. Selain itu, Mesir secara geografis memiliki
perlindungan alam berupa gurun. Gurun Nubia dan Gurun Sahara menjadikan Mesir
terlindungi dari ancaman serangan bangsa asing.
Berikut peta geografis Negara Mesir Kuno:

|
Kondisi geografi yang mendukung dan tanah di
tepi sungai Nil yang subur membuat bangsa Mesir mampu memproduksi banyak
makanan, dan menghabiskan lebih banyak waktu dan sumber daya dalam pencapaian
budaya, teknologi, dan artistik. Pengaturan tanah sangat penting di Mesir Kuno
karena pajak dinilai berdasarkan jumlah tanah yang dimiliki seseorang.
Pertanian di Mesir sangat bergantung kepada siklus sungai Nil. Bangsa Mesir
mengenal tiga musim: Akhet (banjir), Peret (tanam), dan Shemu
(panen). Bangsa Mesir menanam gandum emmer dan jelai, serta beberama gandum sereal lain, sebagai
bahan roti dan bir. Tanaman-tanaman Flax ditanam dan diambil batangnya sebagai serat.
Serat-serat tersebut dipisahkan dan dipintal menjadi benang, yang selanjutnya
digunakan untuk menenun linen dan membuat
pakaian. Papirus ditanam untuk
pembuatan kertas. Sayur-sayuran dan buah-buahan dikembangkan di petak-petak
perkebunan, dekat dengan permukiman, dan berada di permukaan tinggi. Tanaman
sayur dan buah tersebut harus diairi dengan tangan. Sayur-sayuran meliputi
bawang perai, bawang putih, squash, kacang, selada, dan tanaman-tanaman
lain. Anggur juga ditanam untuk diolah menjadi arak.
Penduduk Mesir kuno mulai menempati
kawasan lembah Nil sekitar tahun 5000-525 SM, yaitu sejak orang Mesir primitif
periode perkembangan neolitik sampai pada perkembangan peradaban masa kekuasaan
para Firaun absolute. Secara kronologis, sejarah Mesir dapat dibagi menjadi
beberapa periode. Sejarah Mesir sebelum tahun 3400 SM disebut dengan periode
prasejarah, periode kerajaan lama (3400-2475 SM), periode transisi feudalism
(2475-2160), periode pertengahan (2160-1780 SM), ditambah dengan periode
dominasi Hykso (1780-1580 SM) dan periode emperium (1580-525 SM).
Periode prasejarah Mesir ditandai
dengan banyak ditemukan peralatanperalatan pada kuburan kuburan bangsa Mesir,
diperkirakan dimulai sejak tahun 1500 SM. Dengan demikian, penduduk Mesir sudah
menggunakan peralatan dimulai sejak masa paleolitik dan neolitik (zaman batu
tua dan batu muda). Kemajuan bangsa Mesir lebih ditopang oleh hasil bumi yang
subur, sejak pra dinasti sudah terjalin kerja sama dalam pembuatan kanal dan
irigasi. Gambaran ini menunjukkan sudah adanya unit-unit politik meskipun masih
kecil, yang secara gradual membentuk dua dua kerajaan, atas di bagian selatan,
bawah di bagian utara sekitar tahun 5000 SM (Bogardus, 1995: 56).[2]
Sistem Sosial Kemasyarakatan
Gambar
patung yang menggambarkan kegiatan masyarakat kecil Mesir Kuno.
Dilihat dari system social kemasyarakatan,
Mesir Kuno ketika itu sangat terstratifikasi dan status sosial yang dimiliki
seseorang ditampilkan secara terang-terangan. Sebagian besar masyarakat bekerja
sebagai petani, namun demikian hasil pertanian dimiliki dan dikelolah oleh
negara, kuil, atau keluarga ningrat yang memiliki tanah. Petani juga dikenai
pajak tenaga kerja dan dipaksa bekerja membuat irigasi atau proyek konstruksi.
Seniman dan pengrajin memunyai status yang lebih tinggi dari petani, namun
mereka juga berada di bawah kendali negara, bekerja di toko-toko yang terletak
di kuil dan dibayar langsung dari kas negara. Juru tulis dan pejabat menempati
strata tertinggi di Mesir Kuno, dan biasa disebut "kelas kilt putih"
karena menggunakan linen berwarna putih yang menandai status mereka. Perbudakan telah dikenal,
namun bagaimana bentuknya belum jelas diketahui. Mesir Kuno memandang pria dan
wanita, dari kelas sosial apapun kecuali budak, sama di mata hukum. Baik pria
maupun wanita memiliki hak untuk memiliki dan menjual properti, membuat
kontrak, menikah dan bercerai, serta melindungi diri mereka dari perceraian
dengan menyetujui kontrak pernikahan, yang dapat menjatuhkan denda pada
pasangannya bila terjadi perceraian. Dibandingkan bangsa lainnya di Yunani,
Roma, dan bahkan tempat-tempat lainnya di dunia, wanita di Mesir Kuno memiliki
kesempatan memilih dan meraih sukses yang lebih luas. Wanita seperti Hatshepsut
dan Celopatra bahkan bisa menjadi firaun. Namun demikian, wanita di Mesir Kuno
tidak dapat mengambil alih urusan administrasi dan jarang yang memiliki
pendidikan dari rata-rata pria ketika itu. Juru tulis adalah golongan elit dan
terdidik. Mereka menghitung pajak, mencatat, dan bertanggung jawab untuk urusan
administrasi.
Masyarakat Mesir Kuno dibagi menjadi enam
tingkatan sebagai berikut:
1.
Fir’aun dan keluarganya yang hidup mewah.
2.
Para Bangsawan yang juga hidup mewah.
3.
Para Pedagang dan pengusaha yang tinggal di
kota-kota.
4.
Para petani yang tinggal di desa-desa.
5.
Para buruh yang tingal di kota-kota.
6.
Para budak yang dipekerjakan oleh para
bangsawan dan fir’aun
Struktur sosial Mesir terdiri dari
kelas atas yang didominasi oleh para penguasa dan pendeta, kelas menengah dan
kelas rakyat yang sebagian besar sebagai budak. Seluruh sejarah kehidupan
Mesir, basis ekonominya adalah pertanian dengan sistem sentralisasi irigasi
memungkinkan hasil panen yang melimpah, sehingga industri sudah ada pada masa
kerajaan lama. Setiap bulan Juli sungai Nil akan meluap, sedangkan bulan
Nopember akan mengalami kekeringan. Hal ini sejak lama telah diantisipasi oleh
bangsa Mesir dengan melakukan pertanian yang bervariasi. Pengembangan tembaga,
penggunaan bahan kaca, penggalian batu secara terorganisir, serta teknik
pemahatan relief sangat efisien dan maju yang tidak dijumpai di Eropa sampai
periode revolusi industri.[3]
A.
Perkembangan
pemerintahan Mesir Kuno
Masa pemerintahannya dapat dikelompokkan
menjadi tiga zaman, yaitu: Kerajaan Tua, Kerajaan Tengah dan Kerajaan Baru.
a.
Zaman Kerajaan
Tua (3000-2200 SM)
Pada masi ini, raja Menes berhasil menyatukan
Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Dia kemudian digantikan oleh raja Chufu (Chefren)
tahun 2200 SM-2150 SM. Setelah itu, yang berkuasa adalah raja Sesotris tahuan
2150-2000 SM. Pada masa ini, makam raja-raja berbentuk piramida dan di depannya
terdapat Sphink.
Periode kerajaan lama, sudah
memasuki zaman logam, perdagangan sudah mengalami kemajuan, kapal-kapal dagang
telah dikirim ke kawasan pantai Syria untuk memperoleh kayu sebagai bahan pembuatan
kapal, rumah dan perabotan lainnya. Industri sudah dimulai pada masa ini,
manifaktur dari kaca, permata-permata yang indah banyak dihasilkan oleh para
pengrajin. Indikasi kemajuan peradaban pada masa kerajaan lama adalah
peninggalan piramida-piramida. Piramida pertama dibangun pada masa dinasti
ketiga, merupakan kuburan batu besar pertama di
dunia. Dari enam dinasti kerajaan lama yang ada, dinasti keempat
adalah yang paling kuat dengan membangun piramida besar sebagai kuburan pagi
Firaun Khufu dan dikenal dengan Cheops. Pembangunan piramida ini membutuhkan
100.000 pekerja dikerjakan selama dua puluh tahun. Bangunan ini didesain untuk
memprotek jasad Firaun setelah mati. Dari sini, menunjukkan bahwa pengetahuan
geometri telah dikenal baik oleh bangsa Mesir,
mereka telah menggunakan perunggu untuk memotong batu Kerajaan Mesir mengalami
pertumbuhan besar menuju fase baru dengan kekuasaan yang bersifat feodalistik.
Selama berada di bawah kekuasaan
enam dinasti Firaun pada masa kerajaan lama, sentralisasi kekuasaan yang kuat
menjadi berkurang yang memunculkan independensi dan ambisi para gubernur
propinsi. Akibat terjadinya perang sipil, kekuatan para Firaun menjadi runtuh,
sementara para gubernur saling berebut kekuasaan di antara mereka. Secara umum,
masyarakat tidak dapat menahan kelaparan karena adanya tekanan dari
tirani-tirani kecil, kerusakan yang disebabkan oleh peperangan, sehingga
praktis masa ini kemajuan peradaban terhenti (Bogardus, 1995: 57).
Setelah selama 300 tahun berada
dalam disintegrasi atau disunity, putra-putra mahkota dari Nil bagian atas
telah berhasil membangun kembali sebuah negara kesatuan. Di masa kekuasaan satu
Firaun terdapat dua belas dinasti selama dua abad, yang paling menonjol adalah
Sesostris III and Amenemhet III dengan kemampuannya membawa kerajaan para
Firaun
bersifat monarki yang kuat, dengan hukum, aturan, kemakmuran
ekonomi dan kemajuan peradaban. Jika kerajaan lama terkenal dengan piramidanya,
maka pada masa pertengahan ini lebih menonjol dalam bidang literatur dan kesenian
(Bogardus: 1995: 57).
Sekitar tahun 1780 SM, seorang Asia
dikenal oleh bangsa Mesir dengan Hykos, dengan pasukan berkuda dan kereta yang
superior telah menaklukkan Mesir kawasan Delta secara keseluruhan dan bertahap
sampai pada lembah Nil bagian atas. Selama dua abad sampai tahun 1580 SM di
bawah kekuasaan orang asing, telah melahirkan nasionalisme bangsa Mesir.
Azhmes liberalis dari Thebes adalah seorang pahlawan nasional yang
besar telah membebaskan bangsa Mesir menuju babak baru, yaitu masa emperium.
Para penguasa emperium ini meyakini bahwa untuk menjaga keamanan negara Mesir
dari serbuan bangsa asing adalah dengan mengontrol Palestina, Syria, Phoenisia,
kawasan air di timur Mediterania serta mengontrol nite-nite perdagangan oleh
pasukan infantri. Firaun yang paling besar peradaban pada periode ini adalah
Mosis III (1479-1447 SM) biasa disebut sebagai Napoeleon oleh bangsa Mesir. Dia
mampu menaklukkan Syuria, Phoenesia, Palestina, Nubia dan dilengkapi dengan
kawasan Siprus. Kebesaran Mesir berada di bawah kekuasaan Firaun dinasti ke-18;
peradaban dan kekuatan politik, politik hukum dan peraturan-peraturan di lembah
Nil. Perkembangan perdagangan dan kemakmuran yang besar dari rampasan perang
yang mengalir ke Mesir.
Thebes sebagai ibukota Mesir menjadi kota terkaya di dunia.
Beberapa kuil taman yang indah dan rumah-rumah besar dan indah milik para
pembesar membuat Thebes tampak lebih indah (Bogardus, 1995: 58). Di bawah
kekuasaan Amenhotep III (1411-1375 SM), emperium Mesir mengalami kemunduran,
yang ditandai dengan adanya kontoversi agama, dan kehilangan teritorial.[4]
b.
Zaman Kerajaan
Tengah (2000-1700 SM)
Sekitar tahun 2000 SM-1800 SM terjadi perang
saudara, yaitu pada masa pemerintahan raja Hatshepsut. Tahun 1800-1700 SM,
Kerajaan dalam keadaan genting. Pada masa genting inilah Raja Hatshepsut
mengirimkan tentara ekspedisi ke Afrika Timur, sehingga saudagar-saudagar
memperoleh pasaran baru. Kota Karnak yang penuh dengan kuil diperbaiki dan
didirikan Obelsik yang besar. Di Derel Bakri dibangun kuil yang indah. Dia juga
membuat pemakaman rahasia di gunung pasir (sebelah barat Sungai Nil).
c.
Zaman Kerajaan
Baru (1700-1100 SM)
Sekitar tahun 1700 SM, Mesir diserang oleh
bangsa Hiksos dari Asia. Sekitar tahun 1600 SM, bangsa Hiksos berhasil diusir.
Raja yang terkenal adalah Thutmosis III. Dia berhasil memperluas kekuasaan
sampai ke Syiria dan pulau Kreta. Dia juga memindahkan pusat pemerintahan yang
semula di Memphis ke Thebe. Pada masa raja Ramses II Agung, wilayahnya sampai
ke Palestina, Sisilia dan Sardinia. Pada masa Raja Ramses II Mesir menjadi
lumpuh. Akibatnya kerajaan ini tidak mampu menghadapi serangan-serangan dari
luar. Selengkapnya sebagai berikut:
1.Pada abad ke-9 SM, Mesir ditundukkan bangsa
Assiria.
2.Pada abad ke-6 SM, Mesir ditundukkan bangsa Persia.
3.Pada abad ke-4, Mesir ditundukkan oleh raja
Iskandar Zulkarnaen dari Macedonia (Yunani). Akhirnya, diditemukan nama kota
Iskandariah. Dia juga menggabungkan kebudayaan Timur (Asia-Afrika). Hal ini
disebut Hellenisme.Hellen adalah sebutan bagi orang-orang Yunani.[5]
Ramses II (1292-1225 SM) dinasti
ke-19, dikenal sebagai Firaun yang menindas bangsa Yahudi dan berusaha untuk
merestorisasi, atau memulihkan kembali kejayaan emperium Mesir. Kekuatan bangsa
Mesir dibangun kembali di Dyria selatan dan Palestina. Monumen-monumen besar
telah dibangun disepanjang sungai Nil, sehingga dari luar emperium tampak
makmur dan aman. Setelah periode ini seluruh kawasan Timur dekat muncul
kekuatan, sementara Ramses III (1198-1167 SM) hanya mempertahankan emporium dari
kehancuran. Setelah Ramses III tidak ada lagi pemimpin dari bangsa Mesir yang
brilian. Akhirnya Mesir di bawah kekuasaan bangsa-bangsa asing, Afrika, Assyria
dan Persia tahun 525 SM. Pada masa ini praktis bangsa mesir
telah kehilangan kemerdekaan politiknya. Setelah kedatangan Islam,
Mesir telah banyak meninggalkan tradisi kuno mereka.
Sistem
pemerintahan pada teritorial kerajaan Mesir lama adalah absolut secara ekstrim,
seluruh kekuasaan berada di bawah tan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar