Agama Mesir Kuno
Abdul Malik
(1110032100053)
Bangsa Mesir
Kuno memiliki beberapa kepercayaan atau agama, namun kepercayaan yang paling
utama adalah kepercayaan terhadap adanya kehidupan pasca kematian. Mereka
percaya bahwa roh akan terus hidup setelah jasad mati. Kepercayaan yang
menunjukkan adanya kesamaan pandangan dengan agama Monotheisme dan agama
yang benar merupakan pengaruh dari perintah-perintah suci yang telah mencapai
peradaban ini. Namun, Fir’aun (Pharaoh) menekan semua unsur yang bertentangan
dengan pemerintahannya, sehingga kepercayaan Monotheisme tadi
berubah menjadi kepercayaan Pholytheisme.
1.
Periode Kuno
Bangsa Mesir
Kuno beranggapan bahwa para roh nenek moyang, yang dianggap sebagai Dewa,
merupakan makhluk-makhluk yang lebih berkuasa dan mengatur aspek-aspek
kehidupan manusia. Dengan kata lain, bangsa Mesir Kuno menuhankan kepada para
Dewa, antara lain:
·
Ra
Ra—sering disebut sebagai Rah, tetapi lebih tepat sebagai RE—adalah dewa matahari, sehingga Ra digambarkan dengan matahari tengah hari. Ketika mencapai posisi penting dalam pemerintahan Mesir, dia dipercaya untuk memimpin langit, bumi, dan bawah tanah. Dia juga dikaitkan dengan elang, yaitu simbol dewa matahari lain yang melindungi Fir’aun.
Ra—sering disebut sebagai Rah, tetapi lebih tepat sebagai RE—adalah dewa matahari, sehingga Ra digambarkan dengan matahari tengah hari. Ketika mencapai posisi penting dalam pemerintahan Mesir, dia dipercaya untuk memimpin langit, bumi, dan bawah tanah. Dia juga dikaitkan dengan elang, yaitu simbol dewa matahari lain yang melindungi Fir’aun.
·
Osiris
Osiris digambarkan dengan menggunakan mahkota—yang mirip dengan mahkota putih dari Mesir—dan membawa cambuk yang diperkirakan untuk mengidentifikasi Osiris sebagai dewa gembala. Dia sering digambarkan dengan warna hijau (warna kelahiran kembali) atau hitam (simbol kesuburan dataran banjir Sungai Nil).
Osiris digambarkan dengan menggunakan mahkota—yang mirip dengan mahkota putih dari Mesir—dan membawa cambuk yang diperkirakan untuk mengidentifikasi Osiris sebagai dewa gembala. Dia sering digambarkan dengan warna hijau (warna kelahiran kembali) atau hitam (simbol kesuburan dataran banjir Sungai Nil).
·
Amon
Amon adalah seorang dewa pencipta. Dia menjadi fokus yang paling rumit di Mesir Kuno. Amon diciptakan tanpa ibu dan ayah, dan selama Kerajaan Baru, dia menjadi ekspresi terbesar dalam teologi dewa di Mesir. Tugasnya adalah sebagai Raja dewa.
Amon adalah seorang dewa pencipta. Dia menjadi fokus yang paling rumit di Mesir Kuno. Amon diciptakan tanpa ibu dan ayah, dan selama Kerajaan Baru, dia menjadi ekspresi terbesar dalam teologi dewa di Mesir. Tugasnya adalah sebagai Raja dewa.
·
Isis
Isis adalah dewi ibu dan kesuburan. Dia dipuja sebagai ibu yang ideal, istri, pelindung alam dan ahli sihir. Dia adalah teman budak, orang-orang berdosa, pengrajin, dan kaum tertindas; mendengarkan do’a orang-orang kaya, gadis, bangsawan dan penguasa.
Isis adalah dewi ibu dan kesuburan. Dia dipuja sebagai ibu yang ideal, istri, pelindung alam dan ahli sihir. Dia adalah teman budak, orang-orang berdosa, pengrajin, dan kaum tertindas; mendengarkan do’a orang-orang kaya, gadis, bangsawan dan penguasa.
·
Hathor
Hathor adalah seorang dewi yang digambarkan dengan feminin cinta, keibuan dan sukacita. Dalam kuburan, dia digambarkan sebagai “Penunjuk Barat”, yaitu yang menyambut orang mati ke kehidupan selanjutnya. Dia juga dikenal sebagai seorang dewi musik, tari, dan kesuburan—yang membantu perempuan dalam proses melahirkan.
Hathor adalah seorang dewi yang digambarkan dengan feminin cinta, keibuan dan sukacita. Dalam kuburan, dia digambarkan sebagai “Penunjuk Barat”, yaitu yang menyambut orang mati ke kehidupan selanjutnya. Dia juga dikenal sebagai seorang dewi musik, tari, dan kesuburan—yang membantu perempuan dalam proses melahirkan.
·
Horus
Horus adalah salah satu dewa yang paling tua dan paling penting. Bentuk paling awal Horus adalah Falcon yang merupakan dewa pelindung Nekhen di Mesir.
Horus adalah salah satu dewa yang paling tua dan paling penting. Bentuk paling awal Horus adalah Falcon yang merupakan dewa pelindung Nekhen di Mesir.
·
Maat
Maat adalah dewi Mesir Kuno dengan konsep kebenaran, keseimbangan, keteraturan, hukum, moralitas dan keadilan. Dewi Maat juga dianggap sebagai dewi yang mengatur bintang–bintang, musim, tindakan baik manusia dan dewa, serta mengatur alam semesta dari kekacauan. Peran utamanya adalah menimbang berat jantung dengan sehelai bulu kejujuran, dan jumlah bulu tersebut menentukan keselamatan sang pemilik jiwa. Bagi mereka yang timbangan bulunya lebih berat akan hidup dalam kebahagiaan, dan bagi mereka yang timbangan jiwanya lebih berat akan mendapatkan siksaan yang berat. Disana mereka disiksa dalam keabadian oleh sebuah makhluk aneh yang disebut dengan "Pemakan Kematian".
Maat adalah dewi Mesir Kuno dengan konsep kebenaran, keseimbangan, keteraturan, hukum, moralitas dan keadilan. Dewi Maat juga dianggap sebagai dewi yang mengatur bintang–bintang, musim, tindakan baik manusia dan dewa, serta mengatur alam semesta dari kekacauan. Peran utamanya adalah menimbang berat jantung dengan sehelai bulu kejujuran, dan jumlah bulu tersebut menentukan keselamatan sang pemilik jiwa. Bagi mereka yang timbangan bulunya lebih berat akan hidup dalam kebahagiaan, dan bagi mereka yang timbangan jiwanya lebih berat akan mendapatkan siksaan yang berat. Disana mereka disiksa dalam keabadian oleh sebuah makhluk aneh yang disebut dengan "Pemakan Kematian".
·
Nephthys
Dengan nama Mesir Kuno “Lady of the House”, bukan berarti Nephthys digambarkan sebagai ibu rumah tangga. Sebaliknya, namanya berarti sangat khusus, Lady of the Temple
Dengan nama Mesir Kuno “Lady of the House”, bukan berarti Nephthys digambarkan sebagai ibu rumah tangga. Sebaliknya, namanya berarti sangat khusus, Lady of the Temple
·
Anubis
Anubis adalah dewa untuk melindungi dari kematian dan membawa mereka ke alam baka. Dia biasanya digambarkan sebagai manusia setengah serigala, atau dalam bentuk serigala lengkap mengenakan pita dan memegang cambuk di lekuk lengannya.
Anubis adalah dewa untuk melindungi dari kematian dan membawa mereka ke alam baka. Dia biasanya digambarkan sebagai manusia setengah serigala, atau dalam bentuk serigala lengkap mengenakan pita dan memegang cambuk di lekuk lengannya.
·
Sobek
Di Mesir Kuno, dewa sobek digambarkan sebagai buaya lengkap, atau sebagai manusia berkepala buaya. Dia juga digambarkan bersama salibnya--menggambarkan kemampuannya untuk membatalkan kejahatan dan menyembuhkan penyakit—dan juga digambarkan dengan cakram matahari di atas kepalanya, sebagai Ra sang dewa matahari.
Di Mesir Kuno, dewa sobek digambarkan sebagai buaya lengkap, atau sebagai manusia berkepala buaya. Dia juga digambarkan bersama salibnya--menggambarkan kemampuannya untuk membatalkan kejahatan dan menyembuhkan penyakit—dan juga digambarkan dengan cakram matahari di atas kepalanya, sebagai Ra sang dewa matahari.
·
Thoth
Thoth dianggap sebagai salah satu dewa yang lebih penting dari dewa Mesir. Sering digambarkan dengan kepala dari suatu Ibis. Kepalanya berada di Khemennu—tempat suci, dimana dia memimpin masyarakat setempat, kemudian orang-orang Yunani menggantinya menjadi Hermopolis.
Thoth dianggap sebagai salah satu dewa yang lebih penting dari dewa Mesir. Sering digambarkan dengan kepala dari suatu Ibis. Kepalanya berada di Khemennu—tempat suci, dimana dia memimpin masyarakat setempat, kemudian orang-orang Yunani menggantinya menjadi Hermopolis.
·
Sekhmet
Sekhmet digambarkan sebagai singa betina, pemburu paling sengit yang dikenal oleh Mesir. Dia diidentifikasi sebagai pelindung dari Fir’aun dan memimpin mereka dalam peperangan. Sekhmet kemudian dianggap sebagai ibu Maahes, seorang dewa yang muncul selama Kerajaan Baru.
Sekhmet digambarkan sebagai singa betina, pemburu paling sengit yang dikenal oleh Mesir. Dia diidentifikasi sebagai pelindung dari Fir’aun dan memimpin mereka dalam peperangan. Sekhmet kemudian dianggap sebagai ibu Maahes, seorang dewa yang muncul selama Kerajaan Baru.
·
Khnum
Khnum adalah salah satu dewa Mesir yang paling awal. Dia dianggap sebagai pencipta tubuh anak-anak manusia, yang dilakukan di roda tembikar, dari tanah liat, dan ditempatkan pada ibu mereka (rahim).
Khnum adalah salah satu dewa Mesir yang paling awal. Dia dianggap sebagai pencipta tubuh anak-anak manusia, yang dilakukan di roda tembikar, dari tanah liat, dan ditempatkan pada ibu mereka (rahim).
Selain
menuhankan pada dewa, bangsa Mesir Kuno juga menuhankan Fir’aun, karena menurut
agama resmi negara, Fir'aun (Pharaoh) adalah mahkluk suci. Dia adalah
perwujudan dari tuhan-tuhan mereka yang diutus ke dunia untuk menerapkan
keadilan dan melindungi mereka di dunia.
Ketergantungan
bangsa Mesir terhadap lingkungan sekitar, melindungi mereka dari pengaruh
negatif dunia luar yang mungkin masuk ke tengah-tengah peradaban mereka. Akan
tetapi, sifat fanatik yang berlebih atas kepercayaan leluhur membelenggu
pemikiran mereka terhadap perkembangan hal baru, sehingga mengolotkan mereka
terhadap agamanya.
2.
Kerajaan Pertengahan
Berbeda dengan
kepercayaan Kerajaan Lama terhadap dewa-dewa, Kerajaan Pertengahan mengalami
peningkatan keagamaan. Selain itu, muncul sesuatu yang dapat dikatakan sebagai
demokratisasi setelah akhirat, yaitu setiap orang yang memiliki arwah dapat
diterima oleh dewa-dewa di akhirat.
3.
Kerajaan Baru
Memasuki masa
Kerajaan Baru, kejayaan Mesir Kuno mulai mengalami kemunduran yang ditandai
dengan penaklukan Mesir Ptolemeus oleh Romawi—yang kemudian dijadikan sebagai
bagian dari privinsi Romawi—sehingga menimbulkan perubahan bertahap terhadap
agama dan politik di sekitar daerah Sungai Nil yang menjadi sumber kehidupan
bangsa Mesir.
Untuk mendapat
pengakuan dari penduduk asli Mesir, orang-orang Yunani yang berhasil
menaklukkan Mesir Ptolemeus dan memimpin kerajaan ini mengaku sebagai penerus
Fir’aun. Hal ini berdampak pada pemerintahan Fir’aun selanjutnya, yaitu setelah
masa Kerajaan Baru, peran Fir’aun sebagai perantara dengan tuhan mulai
berkurang seiring dengan munculnya kebiasaan untuk memuja tuhan tanpa
perantara. Di sisi lain, para imam mengembangkan sistem ramalan (oracle)
untuk menghubungkan langsung keinginan dewa kepada masyarakat.
Dalam sejarah
Mesir, terdapat
seorang Fir'aun yang sangat berbeda dengan Fir’aun-fir’aun yang lain. Fir'aun ini menganut kepercayaan Monotheisme, yaitu memuja
dewa matahari Aten sebagai dewa tertinggi dan menekan pemujaan terhadap
pemujaan kepada dewa-dewa lain, sehingga mendapat perlawanan yang sangat keras dari para pendeta Amon dan akhirnya Fir'aun itu terbunuh. Dia adalah Amenhotep IV yang mulai
berkuasa di abad XIV SM. Setelah kematian Amenhotep IV, Amenhotep IV muda meneruskan usaha ayahnya, yaitu untuk membangun suatu agama yang berdasarkan paham Monotheisme, dengan mencoba untuk melakukan perubahan-perubahan besar dalam berbagai bidang.
Periode prasejarah Mesir ditandai
dengan banyak ditemukan peralatanperalatan pada kuburan kuburan bangsa Mesir,
diperkirakan dimulai sejak tahun 1500 SM. Dengan demikian, penduduk Mesir sudah
menggunakan peralatan dimulai sejak masa paleolitik dan neolitik (zaman batu
tua dan batu muda). Kemajuan bangsa Mesir lebih ditopang oleh hasil bumi yang
subur, sejak pra dinasti sudah terjalin kerja sama dalam pembuatan kanal dan
irigasi. Gambaran ini menunjukkan sudah adanya unit-unit politik meskipun masih
kecil, yang secara gradual membentuk dua dua kerajaan, atas di bagian selatan,
bawah di bagian utara sekitar tahun 5000 SM (Bogardus, 1995: 56).[1]
Namun para pemimpin setempat tidak mengijinkannya untuk menyampaikan pesan dari agama itu, sehingga Amenhotep IV dan para pengikutnya berpindah dari kota Thebes dan
bermukim di Tell-El-Amarna. Mereka
membangun sebuah kota modern
yang dinamakan seperti nama
baru Amenhotep IV muda, yaitu "Akh-Et-Aten" yang berarti
"Tunduk kepada sang Aten, yang
merupakan sebutan lainnya untuk Allah. Akhenaten tidak memperdulikan masalah
luar negeri dan terlalu asyik dengan ajaran religius dan artistiknya yang baru.
Setelah kematiannya, ajaran Aten ditinggalkan, dan Fir’aun-fir’aun
selanjutnya—yaitu Tutankhamun, Ay, dan Horemheb—menghapus semua hal mengenai bidaah
Akhenaten.
Merasa terganggu dengan
perkembangan ini, maka para pendeta Amon ingin menghancurkan kekuatan Akhenaten dengan
menciptakan krisis ekonomi di
negaranya. Dan pada
akhirnya, Akhenaten terbunuh dengan cara diracun oleh para komplotan yang
ingin menghancurkannya. Para Fir'aun berikutnya merasa khawatir akan mengalami hal yang sama, sehingga mereka terbawa
pengaruh ajaran
para pendeta
tersebut.
Setelah Akhenaten, muncullah Raja Ramses II dengan kekuatan
militer yang membawa Pholytheisme kembali berkembang luas. Menurut
banyak ahli sejarah, Raja Ramses II adalah Fir'aun yang menyiksa Bani Israel
dan berperang terhadap Musa. Riwayat lain mengatakan bahwa Fir’aun yang
memelihara Musa adalah Raja Ramses I. Dalam sejarah konstruksi bangunan piramida
digunakan sudah sejak lama. Bangsa bangsa Mesir kuno maupun bangsa Maya dikenal
menggunakan bangunan piramida sebagai makam raja-raja masa dahulu serta sarana
ibadah (pemujaan) selain ada dugaan sebagai tempat penimbunan (gudang) pangan
sejak zaman ketika persiapan menghadapi musim paceklik ataupun tempat
penyimpanan harta.
4.
Periode Akhir (Dinasti Ptolemeus)
Budaya Yunani
tidak menggantikan budaya asli Mesir. Penguasa dinasti Ptolemeus mendukung
tradisi lokal untuk menjaga kesetiaan rakyat. Mereka membangun kuil-kuil baru
dalam gaya Mesir, mendukung kultus tradisional, dan menggambarkan diri mereka
sebagai Fir’aun. Beberapa tradisi akhirnya bergabung. Dewa-dewa Yunani dan
Mesir disinkretkan sebagai dewa gabungan (contoh: Serapis).
Bentuk skulptur Yunani Kuno juga memengaruhi
motif-motif tradisional Mesir. Meskipun telah terus berusaha memenuhi tuntutan
warga, dinasti Ptolemeus tetap menghadapi berbagai tantangan—seperti
pemberontakan, persaingan antar keluarga dan massa di Iskandariyah yang
terbentuk setelah kematian Ptolemeus IV. Lebih lagi, bangsa Romawi memerlukan
gandum dari Mesir, dan mereka tertarik akan situasi politik di negeri Mesir.
Pemberontakan yang terus berlanjut, politikus yang ambisius, serta musuh yang
kuat di Suriah membuat kondisi menjadi tidak stabil, sehingga bangsa Romawi
mengirim tentaranya untuk mengamankan Mesir sebagai bagian dari kekaisarannya.
Pada
pertengahan abad pertama, Kekristenan mulai mengakar di Iskandariyah. Agama
tersebut dipandang sebagai kultus lain yang akan diterima. Akan tetapi,
Kekristenan pada akhirnya dianggap sebagai agama yang ingin menggantikan
paganisme dan mengancam tradisi agama lokal, sehingga muncul penyerangan
terhadap orang-orang Kristen.
Penyerangan
terhadap orang Kristen memuncak pada masa pembersihan Diokletianus yang dimulai
tahun 303. Akan tetapi, Kristen berhasil menang. Pada tahun 391, kaisar Kristen
Theodosius memperkenalkan undang-undang yang melarang ritus-ritus pagan dan
menutup kuil-kuil. Iskandariyah menjadi latar kerusuhan anti-pagan yang besar.
Akibatnya, budaya pagan Mesir terus mengalami kejatuhan. Meskipun penduduk asli
masih mampu menuturkan bahasa mereka, kemampuan untuk membaca hieroglif terus
berkurang karena melemahnya peran pendeta kuil Mesir. Sementara itu, kuil-kuil
dialihfungsikan menjadi gereja, atau ditinggalkan begitu saja.
[1] Mustofa Umar, Mesopotamia
dan Mesir Kuno; Awal Peradaban Dunia, (El-Harakah: 2009) Vol. 11, No. 3, h. 208
Tidak ada komentar:
Posting Komentar